Headlines News :
Home » , » Golkar Godok Pengganti Sudikerta

Golkar Godok Pengganti Sudikerta

Ketut Sudikerta sendiri harus meletakkan jabatan Wakil Bupati Badung yang sudah diembannya selama 7 tahun, karena Ketua DPD I Golkar Bali ini terpilih menjadi Wakil Gubernur Bali. Sudikerta jadi paket pendamping Made Mangku Pastika (Calon Gubernur) saat Pilgub Bali, 15 Mei 2013 lalu. Dalam periode kedua jabatannya sebagai Wakil Bupati Badung (2010-2015), Sudikerta menjadi representasi Golkar, sementara Bupati AA Gde Agung jadi representasi Demokrat. Karenanya, siapa Wakil Bupati Badung pengganti Sudikerta nanti, Golkar yang menentukan. Dan, siapa pun yang jadi Wakil Bupati nanti, dia diproyeksikan merebut kursi Bupati Badung 2015-2020 melalui Pilkada 2015 mendatang. Pasalnya, Bupati Gde Agung tidak boleh maju lagi, karena sudah dua kali periode menjabat.
DENPASAR - Dua kader elite Beringin didorong gantikan Ketut Sudikerta (Calun Wakil Gubernur terpilih) sebagai Wakil Bupati Badung, yakni Ketut Suiasa (Ketua DPD II Golkar Badung) dan Made Sudiana (anggota Fraksi Golkar DPRD Badung). DPD I Golkar Bali pun akan menggodok nama-nama yang masuk untuk kemudian direkomendasi sebagai Wakil Bupati Badung, Rabu (26/6) ini.

Wakil Ketua DPD I Golkar Bali, Gusti Putu Wijaya, mengatakan nama Ketut Suiasa dan Made Sudiana sebagai kandidat Wakil Bupati pengganti Ketut Sudikerta adalah aspirasi yang muncul dalam Rakerda DPD II Golkar Badung, Senin (24/6). “Namun, nama-nama yang muncul dalam Rakerda yang melibatkan para Ketua PK (Pengurus Kecamatan) Golkar se-Badung ini belum resmi, baru sebatas aspirasi,” ungkap IGP Wijaya, Selasa (25/6). Kendati belum resmi, menurut Wijaya, nama-nama yang muncul tersebut tetap diakomodasi untuk dibahas di DPD I Golkar Bali. “Mungkin besok (hari ini) akan kita bahas dengan teman-teman di DPD I Golkar Bali,” tandas Wijaya. “Pilgub Bali kan baru saja selesai. Ya, istilahnya masih ada ruang dan waktu untuk membahas. Kita tidak tergesa-gesa begitu, ini harus ada kajian, sehingga terpilih orang yang memang tepat,” lanjut politisi Golkar asal Kerambitan, Tabanan ini.

Ketut Sudikerta sendiri harus meletakkan jabatan Wakil Bupati Badung yang sudah diembannya selama 7 tahun, karena Ketua DPD I Golkar Bali ini terpilih menjadi Wakil Gubernur Bali. Sudikerta jadi paket pendamping Made Mangku Pastika (Calon Gubernur) saat Pilgub Bali, 15 Mei 2013 lalu. Dalam periode kedua jabatannya sebagai Wakil Bupati Badung (2010-2015), Sudikerta menjadi representasi Golkar, sementara Bupati AA Gde Agung jadi representasi Demokrat. Karenanya, siapa Wakil Bupati Badung pengganti Sudikerta nanti, Golkar yang menentukan. Dan, siapa pun yang jadi Wakil Bupati nanti, dia diproyeksikan merebut kursi Bupati Badung 2015-2020 melalui Pilkada 2015 mendatang. Pasalnya, Bupati Gde Agung tidak boleh maju lagi, karena sudah dua kali periode menjabat.

Jauh sebelum coblosan Pilgub Bali digelar, nama Ketut Suiasa disebut-sebut punya kans besar menggantikan Sudikerta sebagai Wakil Bupati Badung. Selain senapas dan satu klan, Suiasa dianggap mewarisi karakter kepemimpinan Sudikerta. Informasi terkini yang dihimpun, Selasa kemarin, persaingan berebut kursi Wakil Bupati pengganti Sudikerta diprediksi akan memanas. Pasalnya, bukan hanya Suiasa dan Made Sudiana yang mencuat sebagai kandidat. Bahkan, ada figur non kader yang ikut memanaskan bursa. Sumber di Badung menyebutkan, sosok yang terpilih harus sama seperti Sudikerta: bisa kompak dengan Bupati Gde Agung. “Sudikerta selama dua periode bisa eksis, kompak, dan rukun dengan Bupati Gde Agung. Maka, kriteria itu harus dipenuhi calon pengganti Sudikerta,” kata sumber tadi.

Menurut sumber tersebut, karena kriterianya seperti itu, kini ada kuda hitam dari kalangan non kader (bukan politisi Golkar) yang masuk bursa kandidat Wakil Bupati Badung. “Figur kuda hitam ini bekingnya tidak main-main. Namanya sudah diisodorkan ke Sekretaris DPD I Golkar Bali (Komang Purnama),” katanya sembari enggan menyebut identitas figur non kader tersebut. Sementara itu, Gubernur Made Mangku Pastika selaku Cagub terpilih bakal melakukan konsolidasi menyeluruh dengan merangkul seluruh komponen masyarakat dalam periode kedua kepemimpinannya nanti.

Bagi Gubernur Pastika, perbedaan-perbedaan di Pilgub 2013 sudah selesai, karena itu hanya proses demokrasi mencari pemimpin terbaik. Ke depan, seluruh komponen masyarakat kembali bersatu. Komitmen Gubernur Pastika merangkul semua komponen masyarakat ini disampaikan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali, Ketut Teneng, di Denpasar, Selasa kemarin. "Ya, haruslah merangkul seluruh komponen. Membangun Bali ini kan harus bersama-sama. Pak Gubernur tadi menyampaikan akan mengambil langkah-langkah menyatukan persepsi, istilahnya rekonsiliasi atau konsolidasi daerah,” ujar Ketut Teneng. Upaya rekonsiliasi dengan menyatukan persepsi dalam membangun daerah yang dicanangkan Gubernur Pastika ini mendapat sambutan positif dari kalangan DPRD Bali.

Bahkan, Fraksi PDIP DPRD Bali yang selama ini berikrar akan oposisi pasca kekalahan jagonya, AA Puspayoga-Dewa Sukrawan, di Pilgub 2013, juga menyambut bola rekonsiliasi tersebut. Ketua Komisi I DPRD Bali dari Fraksi PDIP, Made Arjaya, mengingatkan Gubernur Pastika jangan lagi melihat warna. Pasalnya, begitu dilantik, Agustus mendatang, Pastika sudah jadi Gubernur rakyat Bali, bukan Gubernur-nya Koalisi Bali Mandara. "Nanti kasihan rakyat kalau Gubernur pendendam dan rakyat yang tidak nyoblos dia di Pilgub nggak diperhatikan,” ujar Arjaya. Menurut Arjaya, Pastika harus turun bertemu seluruh pimpinan daerah se-Bali. Sebab, sekarang masih banyak persoalan Bali untuk diselesaikan. "Saya sepakat kalau secepatnya Gubernur melakukan pertemuan dan menyatukan persepsi membangun Bali ke depan," tegas politisi militan PDIP asal Sanur, Denpasar Selatan ini.

Sedangkan anggota Fraksi PDIP DPRD Bali Dapil Buleleng, Ketut Kariyasa Adnyana, mengatakan Gubernur Pastika harus berani ‘tidak populer’ dengan berpihak kepada rakyat. Jangan lagi melihat siapa partai pengusungnya. Toh, Pastika tidak ada kepentingan lagi 5 tahun mendatang. "Ya, tinggal kerja lurus ke depan, sudah tidak ada beban karena tak ada kepentingan pencitraan. Kan sudah dua periode menjabat Gubernur," tandas Kariyasa. Kariyasa menyebutkan, Gubernur Pastika sebagai orang independen yang diusung partai, harus tetap berjiwa putih. Pastika tidak perlu terintervensi warna partai, meskipun diusung partai. "Jadilah pemimpin yang dikenang sepanjang masa. Jangan habis menjabat, malah dicap meninggalkan nama yang tidak baik," ujar politisi PDIP asal Busungbiu, Buleleng ini. 


sumber : NusaBali
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Pengunjung Blog Ini:


Recent Post

Foto Display

Loading...

Popular Posts

Berita Lain

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen