Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Terbelah Jelang Pilkada Tabanan 2015, Duama: "PDIP Punya Kader Mumpuni"

Terbelah Jelang Pilkada Tabanan 2015, Duama: "PDIP Punya Kader Mumpuni"

Written By Dre@ming Post on Jumat, 26 September 2014 | 7:58:00 AM

Made Duama (kiri) dan Adi Arnawa (kanan) - I Made Duama, mengatakan pengakuan Adi Arnawa (birokrat yang Kadispenda Badung) yang gembar-gembor klaim sebagai kader PDIP saat sosialisasi, adalah haknya. Namun, masyarakat sudah bisa menilai yang bersangkutan adalah PNS. "Kita sebagai kader partai ya mengingingkan kader diutamakan maju ke Pilkada,” tandas Duama secara terpisah di Badung, Kamis kemarin. Menurut Duama, Adi Arnawa tidak bisa dipisahkan dari status PNS, meskipun bapaknya sempat sebagai anggota DPRD Badung hasil Pemilu 1977 saat fusi PNI menjadi PDI. "Kalau ada kader partai yang maju, saya tegaskan wajib harus kader didukung. Kalau di luar wacana itu, silakan kader yang memproses,” kata politisi PDIP asal Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan ini.
TABANAN - Suara PDIP di legislatif mulai terbelah menjelang tarung Pilkada Tabanan 2015. Kasak-kusuk yang beredar, 22 anggota Fraksi PDIP DPRD Tabanan 2014-2019 terpecah menjadi empat kubu, yakni Pro Queen (Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti), Pro IKG Sanjaya (Wakil Bupati), Pro Bo (Ketua Dewan Ketut ‘Boping’ Suryadi), dan Pro Kaisar (Wayan Sarjana).

Informasi di lapangan, suhu di internal PDIP semakin memanas karena empat elite yang digadang-gadang maju sebagai kandidat Calon Bupati (Cabup) Tabanan ke Pilkada 2015 itu bersiap saling saling seruduk untuk dapatkan rekomendasi dari DPP PDIP. Bahkan, kuartet Putu Eka Wiryastuti, IGK Sanjaya, Boping Suryadi, dan Wayan Sarjana diprediksi benar-benar pecah kongsi dan saling berhadapan di Pilkada Tabanan 2015.

Keempat tokoh sentral PDIP ini disebut-sebut punya pendukung masing-masing di tataran DPRD Tabanan 2014-2019. Kelompok Pro Queen (Eka Wiryastuti) di antaranya Nyoman Suadiana (yang notabene paman sang Bupati), Made Dirga, Putu Eka Putra Nurcahyadi, Nyoman Suta, Wayan Tamba, Wayan ‘Gading’ Sudiana, dan Made Edi Wirawan.

Sedangkan kelompok Pro Sanjaya di Fraksi PDIP DPRD Tabanan, antara lain, berisikan Wayan Eddy Nugraha Giri, Nyoman ‘Komet’ Arnawa, dan Wayan Lara. Sementara Kelompok Pro Bo, antara lain, terdiri dari Gede Putu Desta Kumara dan Made Suarta (Ketua PAC PDIP Kediri). Sebaliknya, yang berada di Kelompok Pro Kaisar (Wayan Sarjana) masih abu-abu. Anggota Fraksi PDIP DPRD Tabanan terkotak-kotak, karena Ketua DPC PDIP yang notabene Ketua Dewan, Boping Suryadi, dinilai gagal merangkul anggotanya. Selain itu, Bupati Eka Wiryastuti juga dinilai over confidence alias terlalu percaya diri, bahwa tanpa yang lain pun dia masih mampu eksis. “Mestinya Bupati panggil mereka (elite PDIP yang berseberangan), lalu bangun komunikasi guna merangkulnya. Tapi, saya lihat Bupati terlalu percaya diri. Dia tidak peka dengan situasi. Itu bahaya bagi Bupati yang bakal maju ke Pilkada Tabanan 2015 dengan status incumbent,” sesal seorang kader elite PDIP di Tabanan, Kamis (25/9). Betulkah? Dikonfirmasi secara terpisah, Kamis kemarin, Bupati Eka Wiryastuti bantah isu perpecahan internal PDIP gara-gara dirinya tak mampu bangun komunikasi dengan kader legislator. Menujrut Ketua DPD Banteng Muda Indonesia (BMI) Bali ini, semua pihak sudah diajak komunikasi. Srikandi PDIP asal kawasan dingin Baturiti ini pun menegaskan para kader elite baik di legislatif maupun ekskutif sekarang sangat kompak. Eka Wiryastuti curiga isu perpecahan di internal PDIP ini sengaja dihembuskan pihak tertentu menjelang Pilkada Tabanan 2015. Tujuannya, agar para kader Banteng terlibat intrik dan pecah. “Kalau sudah ada komando, pasti akan loyal dan bersatu dalam perjuangan untuk memenangkan dan membesarkan PDIP,” tegas Eka Wiryastuti. Dia pun berharap kesadaran setiap elite untuk mengelola isu dengan baik, bukan malah sebaliknya termakan isu dan terpecah belah. “Masak kita kalah dengan isu sebelum berperang?” tanya ‘Bupati Wanita Pertama di Bali’ ini. Penegasan senada juga disampaikan Ketua DPC PDIP Tabanan, Ketut Boping Suryadi. Menurut politisi-seniman yang kembali menjabat Ketua DPRD Tabanan 2014-2019 ini, isu perpecahan yang diembuskan pihak tertentu itu sebagai fenomena lumrah jelang Pilkada. “Kita semua kompak dan bersatu. Kalau ada hal-hal miss understanding, itu dinamika namanya. Kalau soal soliditas, kami semua masih satu di bawah panji PDIP,” tegas Boping Suryadi.

Sementara itu, PDIP Badung gerah dengan bentrok antara kadr Banteng Wayan Disel Astawa vs kandidat non kader Wayan Adi Arnawa terkait isu Pilkada Badung 2015. Jajaran elite PDIP menegaskan partai akan mengutamakan kader internal diusung sebagai Cabup-Cawabup ke Pilkada badung 2015. Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD Badung, I Made Duama, mengatakan pengakuan Adi Arnawa (birokrat yang Kadispenda Badung) yang gembar-gembor klaim sebagai kader PDIP saat sosialisasi, adalah haknya. Namun, masyarakat sudah bisa menilai yang bersangkutan adalah PNS. "Kita sebagai kader partai ya mengingingkan kader diutamakan maju ke Pilkada,” tandas Duama secara terpisah di Badung, Kamis kemarin. Menurut Duama, Adi Arnawa tidak bisa dipisahkan dari status PNS, meskipun bapaknya sempat sebagai anggota DPRD Badung hasil Pemilu 1977 saat fusi PNI menjadi PDI. "Kalau ada kader partai yang maju, saya tegaskan wajib harus kader didukung. Kalau di luar wacana itu, silakan kader yang memproses,” kata politisi PDIP asal Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan ini. Duama mengatakan PDIP punya sejumlah kader mumpuni yang layak diusung ke Pilkada badung 2015. "Apa yang disampaikan Pak Disel Astawa, benar itu. Kader dan anggota Dewan dari PDIP adalah para petarung," tegas Duama yang Sekretaris PAC PDIP Kuta Selatan ini. Sebelumnya, Disel Astawa serang Adi Arnawa, karena dianggap gembar-gembor mengaku sebagai kader PDIP saat sosialisasi jadi kandidat Cabup Badung untuk Pilkada 2015. Disel Astawa pun tantang Adi Arnawa buktikan kekaderannya di PDIP dengan cara berani mundur dari jabatan Kadispenda Badung dan mundur pula sebagai PNS. “Apalagi akan menggunakan kendaraan PDIP di Badung. Buktikan kekaderan dulu kalau mengaku orang PDIP,” ujar Disel Astawa, Rabu (24/9). Menurut Disel Astawa, dalam setiap simakrama dan sosialisasi, sah-sah saja mengaku sebagai kader PDIP. Tapi, kekaderan itu harus dibuktikan. “Selama ini, Adi Arnawa kan PNS yang menjabat sebagai Kadispenda Badung. Bagaimana dia bisa menyebutkan diri sebagai kader partai? Wong PNS kan tak boleh jadi kader partai, itu amanat Undang-undang,” tegas anggota Fraksi PDIP DPRD Bali 2014-2019 Dapil Badung ini.

Disel Astawa pun meminta kader-kader PDIP supaya tidak terlena dengan klaim Adi Arnawa. Apalagi, dia mengaku tahun persis orangtua Adi Arnawa yang pernah mencalonkan diri jadi Kepala Desa Pecatu dari Golkar. Kemudian, saudara kandungnya yang juga maju sebagai Perbekel dari Golkar. “Saya ingin meluruskan fenonema di Badung yang sudah meracuni masyarakat dengan manuver sebagaimana dilakukan Saudara Adi Arnawa, yang mencatut nama partai. Dia mengaku kader PDIP dan baru sekarang klaim itu saat mau maju jadi Calon Bupati,” kritik Disel Astawa yang mantan anggota Fraksi PDIP DPRD Badung 2004-2009, sebelum dua kali terpilih ke DPRD Bali hasil Pileg 2009 dan Pileg 2014.



sumber : NusaBali
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Di Sambar Petir, Kerugian Kurang Lebih Rp 2 Miliar, Villa Di Pecatu Terbakar

Disambar petir, vila di Pecatu Badung, Bali terbakar, Jumat (22/3/2019). BADUNG - Tirtha Bridal Bali Villa seluas dua are di jalan Bat...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen