Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Begini Pedoman Hari Suci Nyepi yang Dikeluarkan PHDI Bali

Begini Pedoman Hari Suci Nyepi yang Dikeluarkan PHDI Bali

Written By Dre@ming Post on Jumat, 06 Maret 2015 | 9:15:00 AM

Ketua PHDI Provinsi Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi di Denpasar.
Denpasar - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu di Bali, mengeluarkan pedoman tentang pelaksanaan hari suci Nyepi Tahun Baru Saka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015.

"Pedoman tersebut merupakan hasil rapat pengurus harian dan anggota Forum Welaka (kelompok pemikir) PHDI Bali tentang perayaan Hari Suci Nyepi tahun baru Saka 1937," kata Ketua PHDI Provinsi Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, rangkaian upacara pelaksanaan hari suci Nyepi disesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan di desa pekraman (desa kala patra), termasuk tradisi di masing-masing desa adat di Pulau Dewata.

Kegiatan tersebut diawali dengan mengadakan prosesi "melasti/melis" di kawasan pantai yang bermakna membersihkan "pratima" atau benda yang disakralkan oleh umat Hindu.

Tidak hanya ke pantai, "melasti" juga bisa dilakukan di tepi danau atau sumber mata air (kelebutan) yang dianggap suci. "Ritual ini dilakukan umat pada salah satu dari tiga hari yang ditetapkan, yakni Rabu, 18 Maret 2015 hingga Jumat, 20 Maret 2015.

Ngurah Sudiana menjelaskan, umat yang bermukim dekat pantai melakukan prosesi "melasti" ke laut, dan yang tinggal di daerah pegunungan melakukannya ke danau atau ke sumber mata air. Sementara masyarakat yang tinggal di tengah-tengah daratan Pulau Dewata jauh dari laut maupun danau, dapat melakukan ritual "melasti" di sumber mata air terdekat.

Ngurah Sudiana menambahkan, setelah "melasti", dilakukan "bhatara nyejer" di pura desa/bale agung di desa adat masing-masing, dilanjutkan dengan "tawur kesanga" atau persembahan kurban pada hari Jumat (20/3), sehari menjelang Nyepi.

"Tawur kesanga" itu dilakukan secara berjenjang di tingkat Provinsi Bali yang dipusatkan di Pura Besakih, kemudian tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa dan banjar hingga di rumah tangga masing-masing. "Tawur kesanga" yang berakhir pada petang hari itu dilanjutkan dengan "ngerupuk" yang bermakna mengusir roh jahat serta menetralkan semua kekuatan dan pengaruh negatif "bhutakala" yakni roh atau makluk yang tidak kelihatan secara kasat mata di lingkungan warga.

Keesokan harinya, Sabtu (21/3), umat Hindu merayakan hari suci Nyepi tahun baru Saka 1937 dengan melaksanakan "catur brata" penyepian, yakni empat pantangan (larangan) yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi umat Hindu.

Keempat larangan tersebut meliputi tidak melakukan kegiatan/bekerja (amati karya), tidak menyalakan lampu atau api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi, bersenang-senang atau hura-hura (amati lelanguan).

"Pelaksanaan `catur brata` penyepian akan diawasi secara ketat oleh petugas keamanan desa adat (pecalang) di bawah koordinasi prajuru atau pengurus banjar setempat," ujar Ngurah Sudiana.





sumber : antarabali
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Fakta Terungkap, Diperkirakan 10 Kg Sabu-sabu Senilai Rp 15 Miliar Lolos di Ngurah Rai

Manjet Singh (23) bersama rekannya Harvinder Singh (26) asal India diamankan polisi. Keduanya diamankan saat tinggal di kamar hotel nomor...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen