Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Gerhana Bulan Merah Darah dan Kisah Kalarau

Gerhana Bulan Merah Darah dan Kisah Kalarau

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 04 April 2015 | 11:10:00 PM

Asik nonton gerhana Bulan
Ini Lokasi untuk Bisa Melihat Gerhana Bulan Total Nanti Malam di Bali

DENPASAR - Secara umum bisa dijelaskan bahwa gerhana bulan terjadi ketika posisi Bumi berada di antara Bulan dan Matahari, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh Bumi.

Jika posisi ketiganya sejajar, dan Bulan masuk di dalam bayang-bayang inti (umbra) Bumi, maka Bulan akan gelap kalau dilihat dari Bumi. Itulah yang disebut gerhana bulan total.

Mengapa disebut “Bulan Merah Darah” atau Blood Moon?
Kendati terjadi gerhana bulan total (yang semestinya Bulan terlihat gelap total), namun seringkali Bulan ternyata masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar Matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer Bumi.

Kebanyakan sinar yang dibelokkan itu memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan total, Bulan bisa tampak berwarna merah darah atau jingga, sehingga disebut Blood Moon.
Dedy Pratama mengatakan, gerhana bulan total dapat diamati dengan mata telanjang, dan tidak berbahaya sama sekali.

Menurut prakiraan cuaca dari Balai BMKG Wilayah III Denpasar, Satria Topan, puncak gerhana bulan total antara pukul 19.54 Wita hingga 20.06 Wita berpotensi terlihat dengan sempurna di seluruh wilayah Bali kecuali di pusat kota Denpasar atau di kawasan Kuta.

“Terutama di tengah kota Denpasar dan Kuta, penampakan yang sempurna puncak gerhana bulan total berpotensi terhalang cahaya lampu-lampu kota yang banyak terdapat di tempat-tempat itu,” kata Topan Jumat (3/4/2015).

Berdasarkan pengamatan cuaca, pada saat terjadi gerhana bulan total hari ini, cuaca di wilayah Bali Selatan, Denpasar, Tabanan dan Buleleng adalah berawan atau mendung dan berpotensi hujan ringan.

“Tetapi, kondisi itu tak menutup peluang untuk melihat gerhana bulan total, karena awan terus bergerak dan tak semua awan menutupi langit.

 Sebab itu, gerhana bulan total tetap berpotensi bisa dilihat dengan sempurna,” jelas Satria.

Dikatakan Dedy Pratama, gerhana dapat diprediksi dengan perhitungan algoritma astronomi. Ia menjelaskan, yang membedakan gerhana bulan dengan gerhana matahari adalah posisi ketiga benda langit yaitu Matahari, Bumi, dan Bulan.

Gerhana matahari terjadi apabila Bulan berada di tengah-tengah antara Matahari dan Bumi.

 Sedangkan gerhana bulan terjadi apabila Bumi berada di tengah-tengah antara Matahari dan Bulan. Selain itu, Gerhana Matahari hanya terjadi pada fase bulan mati (tilem), sedangkan gerhana bulan hanya terjadi pada saat fase purnama.

Nyoman Nia Terkesima Lihat Gerhana Bulan

DENPASAR - Nyoman Nia Indah Sari berkali-kali berusaha mengarahkan kamera ponselnya ke arah langit. Beberapa kali ia tampak kecewa karena di kamera ponselnya, bulan yang dibidiknya terlihat sangat kecil.

"Sayang ini terlihat kecil di sini, padahal bulannya lagi tertutup," ujar wanita 28 tahun asal Jalan Kebo Iwa, Denpasar, Bali ini, di lapangan Puputan Badung, Sabtu (4/4/2015).

Menurutnya, malam ini berbeda dengan biasanya. Hampir setiap malam Minggu ia beserta suami dan anaknya yang baru berusia 3 tahun selalu mampir ke Lapangan Puputan.

Namun kali ini suasana terasa berbeda karena ada gerhana bulan. Nia datang ke lapangan puputan mulai pukul 19.00 Wita, kendati awalnya ia merasa biasa saja, ia lalu merasa heran kala melihat bulan yang separuh tertutup.

"Kalau kata keluarga saya dulu gerhana bulan adalah pertanda sesuatu buruk terjadi, tapi mungkin hanya takhayul ya," tandas Nia sambil tertawa.

Sampai pujul 20.25 Wita Nia dan keluarga masih enggan meninggalkan lapangan puputan dan tempat duduknya di atas rumput. Ia berniat melihat bulan sampai kembali seperti semula.

Gerhana Bulan dan Kisah Kala Rau di Bali

DENPASAR - Pengamat astronomi dari BMKG Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar, I Putu Dedy Pratama menuturkan, gerhana bulan di Bali sering dikaitkan dengan kisah Kala Rau.

Kala Rau merupakan sosok raksasa yang abadi karena ikut meminum tirta amerta (air keabadian) saat menyamar menjadi dewa dalam pembagian tirta amerta (air suci kehidupan/keabadian).

“Saat Kala Rau meminum tirta amerta, Dewa Wisnu mengetahui penyamarannya. Karena tirta amerta sudah mencapai tenggorokan Kala Rau, maka Dewa Wisnu melepaskan panahnya yang menyebabkan kepala Kala Rau putus lalu melayang di angkasa,” tutur pengamat astronomi dari BMKG Stasiun Geofisika Sanglah, Denpasar itu.

Sisa penggalan berupa potongan tubuh tanpa kepala tersebut jatuh ke Bumi, dan menjadi lesung. Kala Rau yang sejak dulu jatuh hati dengan Dewi Ratih (Dewi Bulan) tetap mencarinya.

Maka pada suatu waktu di saat sang dewi berjalan-jalan di angkasa, Kala Rau mencoba mendekapnya dengan menelannya. Namun, karena Kala Rau hanya berupa kepala saja, maka Dewi Ratih segera lepas dari dekapannya.

Ungasan.com
Sumber: tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Fakta Terungkap, Diperkirakan 10 Kg Sabu-sabu Senilai Rp 15 Miliar Lolos di Ngurah Rai

Manjet Singh (23) bersama rekannya Harvinder Singh (26) asal India diamankan polisi. Keduanya diamankan saat tinggal di kamar hotel nomor...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen