Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , » 31 July 2015, Akankah GWK Ditutup Total?

31 July 2015, Akankah GWK Ditutup Total?

Written By Dre@ming Post on Minggu, 10 Mei 2015 | 8:05:00 AM

Tepat hari Kamis, 7 Mei 2015, pukul 15:00 Wita, di Notaris Sugita legal drafting MOU sudah ditandatangani, memang perundingan berlangsung sangat alot, dari pihak GWK (pihak 1) di wakili oleh Dirutnya Seno Andhikawanto (a.n. PT Garuda Adhimatra Indonesia) didampingi oleh Pak Nengah dan Pak Agung Rai Dalem. Sementara dari Pihak 2 diwakili oleh I Wayan Kurma (Kelihan Suka Duka Giri Dharma), I Nyoman Widana (Kelihan Dinas Giri Dharma), I Nyoman Tirtayasa (Kelihan Adat Giri Dharma). Dengan saksi-saksi Perbekel Desa Ungasan Sugita Putra, Bendesa Adat Ungasan Ketut Marcin, Tokoh masyarakat dari DPRD TK I Bali I Wayan Diesel Astawa.
Tepat hari Kamis, 7 Mei 2015, pukul 15:00 Wita, di Notaris Sugita legal drafting MOU sudah ditandatangani, memang perundingan berlangsung sangat alot, dari pihak GWK (pihak 1) di wakili oleh Dirutnya Seno Andhikawanto (a.n. PT Garuda Adhimatra Indonesia) didampingi oleh Pak Nengah dan Pak Agung Rai Dalem. Sementara dari Pihak 2 diwakili oleh I Wayan Kurma (Kelihan Suka Duka Giri Dharma), I Nyoman Widana (Kelihan Dinas Giri Dharma), I Nyoman Tirtayasa (Kelihan Adat Giri Dharma). Dengan saksi-saksi Perbekel Desa Ungasan Sugita Putra, Bendesa Adat Ungasan Ketut Marcin, Tokoh masyarakat dari DPRD TK I Bali I Wayan Diesel Astawa.

Secara garis besar isi dari legal drafting itu isinya hampir bahkan nyaris sama dengan Resume Hasil Negosiasi Suka Duka Giri Dharma dengan Manajemen PT GAIN Tanggal 25 Agustus 2014, yaitu:

1. Rurung Agung
  • Disetujui dibelokkan kearah barat dengan catatan mempunyai kekuatan legal baik hukum maupun sosial
  • Perlu dilengkapi gorong-gorong (got) dan pembatas jalan
  • Ada pembeda dengan ciri di paving dan disesuaikan dengan estetika dan budaya
  • Perlu diupacarai secara niskala dengan upacara “pemelaspasan” dan “Penuntunan”.
  • Perlu waktu pengerjaan selama enam (6) bulan s.d. tanggal 25 Februari 2015.
  • Jika ada perubahan, harus selalu dikoordinasikan dengan pengurus dan warga Suka Duka Giri Dharma.
2. Jalan Lingkar
  • Akses keluar masuk kawasan GWK diijinkan untuk masyarakat Giri Dharma dan perlu dituangkan dalam legal drafting dan master plan.
  • Lebar jalan lingkar disepakati 6 M.
  • Masalah limbah akan ditangani dengan sistem STP dan selesai selama 6 bulan s.d. 25 Februari 2015.
  • Ketinggian tembok akan dikoreksi agar kawasan tidak terkesan ekslusif dan tertutup.
  • Permasalahan tanah yang dilalui jalan lingkar di lokasi tanah Pak Purja perlu dilakukan negosiasi lebih lanjut.
3. Letak Balai Banjar Suka Duka dan Balai Kesenian Gandrung.
  • Letak Balai Kesenian Gandrung disepakati tetap pada lokasi sekarang dan dilakukan pemeliharaan dan penataan oleh Manajemen GWK.
  • Letak balai Banjar Suka Duka diusahakan di lokasi tanah Bapak Purja dengan luas 10 are dan pihak manajemen GWK harus melakukan negosiasi lebih lanjut mengenai masalah kesepakatan harganya.
  • Sertifikat tanah lokasi Banjar Dinas Giri Dharma harus segera diselesaikan.
  • Untuk akses pintu masuk Br. Dinas Giri Dharma dimohonkan dapat diberikan jalan masuk melalui pintu selatan.
4. Fasilitas Listrik dan Air
  • Air untuk masyarakat di lingkungan kawasan GWK sejumlah 18 KK sudah direalisasikan.
  • Air di pemukiman sudah didaftarkan dan sedang diproses lebih lanjut. Negosiasi sudah dilakukan oleh Bapak Camat dan Bapak Disel Astawa agar proses pengadaan dan pelayanannya bisa dipercepat.
5. Tenaga Kerja
  • Manajemen GWK berkomitmen untuk menghargai MOU yang pernah ada (MOU tahun 2000)
  • Manajemen GWK mohon diberi waktu memperbaiki standar Operational Procedur (SOP) khususnya untuk warga Giri Dharma.
  • Managemen GWK mempunyai tanggung jawab moral dalam pengembangan SDM masyarakat Giri Dharma khususnya, dan warga Ungasan pada umumnya.
  • HRD GWK bersedia memberi perlakuan khusus untuk pelamar yang berasal dari Br. Giri Dharma dan mohon berkasnya diberikan catatan.
Namun saat penandatangan legal drafting terjadi perang urat saraf pada bagian penetapan sanksi yang akan dijatuhkan saat GWK gagal memenuhi janjinya dalam MOU itu, dimana pihak 2 menghendaki jika sampai batas waktu tanggal 31 Juli 2015, janji-janji dalam MOU itu tidak clear maka pihak 2 bisa melakukan penutupan akses jalan ke GWK, sementara pihak 1 meminta agar bisa dikompromikan. Bahkan Notaris Sugita ikut menasehati Pak Seno menurut info yang kami dapatkan sebagai berikut: "Pak Seno jika pihak bapak tidak mampu melakukan perundingan 2 bulan sebelum batas waktu diatas dan kemudian walaupun diberikan perpanjangan waktu oleh Pihak 2 dan toh ternyata bapak juga mangkir atau tak mampu memenuhi janji itu, maka wajar jika pihak 2 dengan warga menutup akses jalan ke GWK", kurang lebih begitu nasehatnya yang kami kutip dari kelihan Suka Duka Giri Dharma.

Pada akhirnya memang legal drafting itu ditandatangani dan disepakati semua pihak, namun akankah GWK mampu memenuhi janjinya?. Sebenarnya apa yang menjadi prioritas pengerjaan oleh GWK yang belum dikerjakan sampai membuat warga Giri Dharma menjadi sangat geram, berikut penelusuran kami:

Dari sumber yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa tuntutan utama yang diinginkan, akan tetapi masih tidak dikerjakan dan solah-olah sengaja tidak dilakukan adalah pembuatan jalan lingkar 6 M dan tegak banjar 10 are beserta bangunannya.

Berikut kisahnya, berawal dari janji dijaman dulu kira-kira 20 tahun yang lalu sebelum atau awal dibangunnya GWK, ada janji bahwa pihak GWK akan memberikan akses jalan warga sekitar berupa jalan lingkar yang menghubungkan banjar dengan akses kejalan utama, serta pemberiaan tegak Br. Suka Duka, karena lahan banjar ini tergusur. Namun waktu terus berjalan investor pun datang silih berganti. Sanpai akhirnya investor saat ini yaitu Alam Sutra mengakuisi GWK dengan harga Rp. 600 Milyar. Diakuisisinya GWK oleh alam Sutra bukan hanya meliputi aset tapi masalah seperti janji-janji juga ikut terbeli.

Bukan sekali atau dua kali dilakukan perundingan, namun sudah berkali-kali tetapi tetap saja janji itu tak pernah terealisasi, sebagai contoh: 

Lahan jalan 3 M harganya cuma Rp. 275 Juta per are
Panjang lahan = 87 M
Jadi total harga yang harus dbayar GWK = ((87 x 3)/100)*Rp. 275 Juta = Rp. 717.750.000

Apakah itu mahal?

Coba dilihat, pendapatan GWK per hari Rp. 300 juta s.d. Rp. 600 juta, jadi rata-rata pendapatan GWK perhari (Rp. 300 Juta + Rp. 600 Juta)/2 = Rp. 450 Juta / hari.

Jika GWK mau / punya keinginan untuk membayar lahan itu, Rp. 717.750.000 / Rp. 450 Juta = 1,6 hari. Jadi pendapatan kurang dari 2 hari sudah mampu menutup pembayaran itu.

Apakah harga lahan Rp. 275 Juta per are itu mahal?.

Bandingkan GWK menyewakan stand ukuran 4x6 M seharga 8 Juta / bulan, itu artinya 12 x 8 Juta = Rp. 96 Juta / tahun.
Ukuran 4x6 = 24 M2 sementara 1 are = 100 M2 jadi dalam 1 are terdapat 4 ruangan 4x6 dan 1 ruangan 2x2, ok ruangan 2x2 kita buang dulu untuk mempermudah perhitungan, Penyewaan 1 are oleh GWK per tahun yaitu Rp. 96 Juta x 4 = Rp. 384 Juta / tahun (belum termasuk penyewaan ruangan 2x2).

Perhatikan bahkan harga tanah atau lahan jauh dibawah harga sewa, sewajarnya kalau harga sewa tanah Rp.384 Juta / tahun, harga jual mestinya minimal 10 tahun harga sewa mestinya harga tanah per are mencapai Rp.384 Juta x 10 = 3,84 Milyar / are.

Dilihat dari hitung-hitungan diatas jelaslah GWK selalu mangkir membayar lahan itu, bukan karena tidak punya uang tapi karena apa? bisa dinilai sendiri, itu baru satu contoh kecil belum lagi contoh-contoh janji di MOU yang lain. 

Kalau melihat contoh sederhana itu wajarlah jika warga giri Dharma menjadi sangat geram, jangankan membuatkan banjar dengan luas 10 are plus bangunan, membayar lahan 3 M saja luar biasa sulitnya. Walaupun begitu masih ada 2 bulan lebih tersisa semoga Alam Sutra atau GWK mampu memenuhi janjinya karena jika ada kemauan dan niat baik sesungguhnya apapun itu pasti bisa terlaksana.

Namun jika tanggal 31 Juli 2015 nanti sesuai dengan legal drafting yang di tandatangani di Notaris, semua tuntutan yang ada di MOU belum clear, maka tidak berlebihan atau bahkan sangat wajarlah sesuai sanksi yang tertera dalam legal Drafting itu, akses jalan menuju GWK ditutup total. Hal ini juga memberi pelajaran pada kita semua bahwa dimana bumi dipijak disana pulalah langit dijunjung. Santun dan beretika dalam berbisnis adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Namun apapun itu kita semua berharap segalanya berjalan dengan lancar sesuai asas kesantunan, tidak rusuh, tidak ada tindakan anarkis, dan damailah Indonesiaku.




Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen