Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Bandingkan, Hanya Rp 4,5 M Pura Agung Jagat Natha Termegah di Kalimantan

Bandingkan, Hanya Rp 4,5 M Pura Agung Jagat Natha Termegah di Kalimantan

Written By Dre@ming Post on Minggu, 03 Mei 2015 | 12:16:00 PM

Peresmian Pura Agung Jagt Natha Banjarmasin, Kalsel, Sabtu (2/5/2015) petang.
BANJARMASIN - Ketua Panitia Renovasi Pura Agung Jagat Natha, I Made Bagia, menjelaskan kondisi Pura Agung Jagat Natha, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tahun 1978 masih seadanya.

Pada tahun 1983 pura tersebut dibangun sesuai kondisi di Bali. Namun kondisi fondasi kurang kokoh dan banyak tembok yang rusak.

Pada 2008, lanjut Made, tokoh-tokoh agama Hindu memikirkan pembangunan pura yang representatif dan ingin pura berfungsi seperti konsep di Bali.

Proposal pun dilayangkan ke Gubernur Kalsel, perusahaan swasta, BUMN dan pihak terkait lainnya. Batu-batu pun didatangkan langsung dari Bali sehingga biaya pengirimannya sangat tinggi.

"Pembangunan pura ini menelan dana Rp 4,5 M sebagian dana hibah dari Gubernur Kalsel dan Pemprov Bali," ucap Made, Sabtu (2/5/2015) petang.

Berada di lahan 900 meter persegi, bangunan pura ini seakan mengingatkan orang akan Pura di Besakih, Bali. Miniatur pura terkenal di Pulau Dewata tersebut hadir bagi umat Hindu dan masyarakat umum.

I Made Bagia, selaku ketua panitia pelaksana tak menampik inspirasi dari Pura Besakih untuk bangunan Pura Agung Jagat Natha di Banjarmasin.

"Untuk itulah kami dari panitia mendatangkan pemahat langsung dari Bali. Dan bersyukur target kami bisa diresmikan 2 Mei ini," jelas Bagia.

Target dipatok bukan tanpa alasan. Pertimbangannya ada tiga momen penting pada tanggal tersebut. Pertama Hari Pendidikan Nasional, kedua ulang tahun pura dan ketiga pada tanggal itu pula bersama dengan Hari Saraswati.

Momen Hari Pendidikan Nasional juga dinilai tepat, mengingat, hari Saraswati adalah hari turunnya ilmu pengetahuan.

Umat Hindu merayakannya setiap 210 hari sekali pada Sabtu (Saniscara), Umanis (Legi), Watugunung. Pada Hari Saraswati dilakukan pemujaan pada Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni.

Sedikit gambaran, ada tiga bangunan utama terdapat di Pura Agung Jagat Natha. Panitia membangun Kori Agung dan Bale Kulkul yang merupakan kelengkapan Tri Mandala, terdiri atas Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.

"Saat ini bangunan sudah memasuki tahap kedua. Sedangkan tahap ketiga setelah peresmian dengan dimulai pembangunan Candi Bentar, Bale Gong, gapura Banjar, dan perlengkapan lain, contohnya papan nama, dapur dan toilet," jelas Bagia.

Bila selesai seutuhnya menjadi kebanggaan, pura ini menjadi terbesar dan termegah se‑Kalimantan. Berada di tanah Borneo, ornamen bangunan pun dipadukan antara Bali, Banjar, Dayak, dan Jawa.

"Kami sertakan ornamen yang menggambarkan kearifan lokal walau tetap mengacu ke Pura Besakih di Bali. Ada Candi Bentar, Bale Kulkul, dan Kori Agung, Bale Pawedan serta Parasan yang menyerupai pura di Bali. Layaknya sebuah candi," tambahnya.

Tidak tanggung‑tanggung, pura ini juga dibangun menggunakan batu dari Gunung Agung. Tentunya dengan biaya yang besar, tidak menggunakan bahan material bangunan biasa.

Gunung Agung merupakan salah satu objek wisata di Bali yang cukup terkenal. Gunung Agung berketinggian 3.014 meter diatas permukaan laut (dpl) dan dipercaya sebagai tempat tinggalnya para roh leluhur masyarakat Hindu Bali.

Dan terkait dengan wisata, lebih menarik lagi, kehadiran pura nantinya juga bukan hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan. Bagi masyarakat yang ingin melihat dan berkunjung ke pura juga diperbolehkan. Direncanakan kehadirannya menjadi pusat seni dan budaya pula.

"Bangunan pura bukan hanya untuk kegiatan keagamaan, tapi juga disediakan untuk wisata bagi masyarakat Kalsel," ucap Bagia.

Gubernur Kalsel Terharu Resmikan Pura Agung Jagat Natha

BANJARMASIN - Suasana sakral terpancar saat peninjuan dan peresmian Pura Agung Jagat Natha, tempat ibadah umat Hindu Kalsel, di kawasan Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (2/5/2015) petang.

Upara Agnihotra atau upacara persembahan atau pemujaan dengan media penyalaan api membuat suasana sakral.

Sejumlah pejabat Kalsel, menyaksikan langsung upacara tersebut, seperti Gubernur Kalsel H Rudi Arifin, Danrem 101 Antasari, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali I Gusti Alit Putra, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel HM Tamrin, Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H (P) Rusdi Effendi AR, Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Ketua FKUB Kalsel HM Fadhly Mansur, Sekretaris FKUB Kota Banjarmain H Irhamsyah Safari, Wakil Wali Kota Banjarmasin Iwan Ansyari dan ratusan umat Hindu dari Kalsel.

Suasana seperti di Bali juga terasa kuat di peresmian Pura Agung Jagat Natha. Ratusan umat Hindu memakai baju safari dan kebaya khas Bali.

Saat pembukaan iring-iringan gamelan gong Bali menyambut kedatangan Gubernur Kalsel HM Rudi Arifin. Tamu-tamu yang masuk diberi selendang warna kuning untuk dipakai sebagai simbol akan masuk ke tempat yang suci.

Setelah Rudy Ariffin duduk, tamu dihibur oleh tarian penyambutan tamu yakni Tari Panyembrahma oleh sanggar. Ratusan tamu undangan pun tampak terpukau dengan tarian khas Bali tersebut.

Lirik mata, senyum, keceriaan dari setiap penari yang membawakan tarian ini membuat mata tamau seakan tak berkedip. Tarian Panyembrahma tampak sangat seirama dengan musik, atau gamelan, hentakan kaki, gemulai tangan, kelembutan jari jemari, gerakan tubuh serta goyangan pinggul dari para penari.

HM Rudy Ariffin, dalam sambutannya menyatakan, keberadaan Pura Agung Jagat Natha menunjukkan adanya kebersaman yang selalu dijunjung antara umat beragama di Kalsel.

Menurut Rudy, satu bulan lalu dirinya meresmikan kantor Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Banjarmasin. Umat GKI di Kalsel paling minim, justru yang besar itu di Kalbar, Kalteng dan Kaltim.

"Namun malah kantor pusatnya di Banjarmasin. Ini membuat saya terharu," ucap Rudi.

Dijelaskan Rudi, selama dua periode memimpin Kalsel atau hampir 10 tahun, alhamdulillah belum pernah ada konflik etnis atau agama di provinsi ini. Ini menunjukkan toleransi antara umat beragama di Kalsel sangat tinggi.

Dijelaskan Rudy, filosofi pemerintah adalah tidak memihak mayoritas atau minoritas. Namun pemerintah itu berdiri di tengah-tengah semua agama dan memberikan rasa aman, ketenangan dan pengayoman.

"Mari semua umat beragama di Kalsel bersatupadu untuk membangun Kalsel tercinta ini," pinta Rudy.








sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen