Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , » Ada Pemagaran Pihak Pengelola, Sudirta Desak KPK Selidiki GWK

Ada Pemagaran Pihak Pengelola, Sudirta Desak KPK Selidiki GWK

Written By Dre@ming Post on Kamis, 25 Juni 2015 | 8:53:00 AM

“Dengan turunnya KPK ke GWK, diharapkan aset-aset milik pemerintah akan terdata secara akurat, dan masyarakat akan mengetahui keberadaan aset pemerintah yang selama ini dikelola pihak swasta,” ucap pria asal Desa Pidpid, Kecamatan Abang, Karangasem, ini. Sudirta mengatakan dirinya ingin menyelamatkan sekitar 800-an karyawan yang dipekerjakan para pemilik toko di kawasan GWK. Pemilik toko tidak bisa mendapatkan akses jalan masuk. Apalagi sampai ada pemagaran tembok oleh pihak pengelola.
DENPASAR - Pengacara dan mantan anggota DPD RI I Wayan Sudirta mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan menyelidikan terhadap manajemen pengelola kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, untuk menyelamatkan aset pemerintah.

“Saya mendesak KPK untuk menyelidiki keberadaan aset pemerintah di kawasan wisata GWK di Jimbaran. Banyak aset pemerintah yang tak transparan dilaporkan dalam manajemen pengelolaan wisata tersebut saat ini,” kata Sudirta, usai bertemu dengan pemilik toko Plaza Amata Jimbaran, di Denpasar, Rabu (24/6). Sudirta yang juga penasihat hukum Perhimpunan Pemilik Toko Plaza Amata (PPTPA), ini mengatakan, langkah tersebut harus direspons cepat pihak KPK dalam upaya menyelamatkan aset pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. “Dengan turunnya KPK ke GWK, diharapkan aset-aset milik pemerintah akan terdata secara akurat, dan masyarakat akan mengetahui keberadaan aset pemerintah yang selama ini dikelola pihak swasta,” ucap pria asal Desa Pidpid, Kecamatan Abang, Karangasem, ini. Menurut Sudirta, sejak dibangunnya kawasan wisata baru tersebut, hingga kini sudah beberapa kali terjadi perpindahan manajemen pengelolaan, namun belum juga berdiri patung GWK tertinggi itu. “Ini perlu dipertanyakan kepada manajemen, mengapa bangunan patung GWK yang direncanakan tertinggi di dunia belum kunjung selesai. Padahal beberapa kali sudah ada suntikan dana melalui pemerintah, maupun penyertaan aset tanah dari pemerintah serta donasi swasta untuk berdirinya sebuah ikon patung GWK,” ucapnya. Soal pembelaannya kepada pemilik toko di kawasan GWK, Sudirta mengatakan dirinya ingin menyelamatkan sekitar 800-an karyawan yang dipekerjakan para pemilik toko di kawasan GWK. Pemilik toko tidak bisa mendapatkan akses jalan masuk. Apalagi sampai ada pemagaran tembok oleh pihak pengelola.

Sebelumnya sudah ada pertemuan antara pihak pemilik toko dengan pihak pengelola GWK PT Alam Sutra yang difasilitasi Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta. Ada kesepakatan damai untuk penyelesaian masalah GWK dengan musyawarah dan mufakat. Wagub Sudikerta berjanji turun antara Kamis hari ini atau Jumat besok untuk menyelesaikan persoalan teknis antara pengelola dengan pihak pemilik toko. “Kami berterimakasih kepada Wagub yang memfasilitasi, namun mesti ada tindaklanjut turun ke lapangan supaya persoalan ini selesai,” ujar Sudirta. Sementara Ketua Perwakilan Pemilik Toko di GWK, Hendra Dinata, secara terpisah meminta Wagub Sudikerta memfasilitasi hasil pertemuan sebelumnya di kantor Gubernur Bali dengan menindaklanjuti terjun ke lapangan. “Kami ingin Pak Wagub menepati janji turun ke lapangan menyelesaikan persoalan teknis yang masih belum selesai,” ujar Hendra. Terkait dengan permintaan pemilik toko di kawasan GWK ini, Wagub Sudikerta belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui ponselnya ada nada sambung namun tidak dijawab.

Alasan Sudirta Bela Pemilik Toko Plaza Amata di GWK

Advokat senior Wayan Sudirta ''turun gunung'' bahkan secara prodeo (gratis) membela ratusan pemilik toko Plaza Amata di kompleks GWK Cultural Park karena. Semua itu dilakukan semata melihat kepentingan pariwisata Bali ke depan.

Selain itu, dia tidak tahan melihat cukup banyak orang yang menjadi korban dalam konflik dengan manajemen obyek wisata yang menjadi ikon baru parwisita Bali Garuda Wisnu Kencana.

Pembelaan Sudirta dilakukan karena menyaksikan keluh kesah dan penderitaan pemilik toko, yang semula bersedia membeli toko guna membantu pembangunan patung GWK, yang sempat mau dibongkar masyarakat, karena berbagai konflik yang merebak di dalamnya.

Dalam pertemuan dengan pemilik toko Plaza Amata di Denpasar, Rabu (24/6) lalu, pengurus Perhimpunan Toko Plaza Amata memaparkan keluh kesahnya, terutama setelah masuknya investor baru PT Alam Sutera Realby Tbk (ASRT) ke PT Garuda Adi Matra Indonesia (PT GAIN).

Manajemen baru GWK dibawah PT GAIN tiba-tiba membangun tembok di sekeliling kompleks toko Plaza Amata, meninggikan jalan masuk ke pertokoan, serta mengeluarkan surat larangan menggunakan akses jalan untuk fit out.

Karena larangan dan pembangunan tembok tersebut, melalui PT Bhavana Indonesia selaku developer yang menjual pertokoan Plaza Amata, dilakukan somasi, mengingatkan dan mempersoalkan tembok yang dibangun PT GAIN di sekeliling pertokoan Plaza Amata.

Setelah mendengar keluhan mereka telah berkorban dan mau berinvestasi membeli toko ketika GWK sedang terpuruk dan melihat masuknya investor baru ini bisa mengancam pariwisata Bali, Sudira tidak tinggal diam.

Dia melihat konflik bakal mengancam pariwisata Bali yang berbasis agama Hindu dan budaya, nilai-nilai desa adat yang tidak bisa diabaikan,

Mantan anggota DPD RI itu memutuskan membela secara gratis. Membela untuk pemilik toko, itu kata dia terlalu kecil.

"Saya membela  karena melihat ada  kepentingan Bali, kepentingan nasional, dan internasional di dalamnya. Ketidaknyamanan yang ditimbulkan investor baru terhadap pemilik toko menimbulkan kegaduhan di Bali," tegas Sudirra dalam sebuah kesempatan.

Kata dia, Suasana gaduh ini tidak nyaman dan mengganggu pariwisata Bali maupun nasional, kalau konflik berlanjut.

"Ingin saya katakan, sembari membela pemilik toko secara gratis, dengan terpaksa harus saya katakan, bahwa kalau investor baru GWK tidak mampu menimbulkan kedamaian bagi pemilik toko, lebih baik kita undang investor lain yang berinvestasi," tandasnya.

Dia menginginknan Investor yang bisa menghormati hukum, budaya dan nilai-nilai yang selama ini sudah dibangun dengan baik diantara para stakeholder dalam kawasan GWK.

Dia sempat bertemu dengan para pemilik toko, karena kenal dengan rohaniawan lurus seperti Sudiarta Indrajaya, yang juga pemilik toko di Plaza Amata.

Sudiarta dan Sinyo adalah sebagian dari pemilik toko yang dengan sabar menghadapi berbagai problem di internal GWK, dan tetap sabar walaupun sudah 13 tahun berinvestasi tetapi belum juga bisa mengoperasikan tokonya, karena patung GWK tak kunjung rampung.

"Kalau problemnya adalah krisis ekonomi paska bom Bali, itu kami maklum. Manajemen GWK sebelum masuknya Alam Sutera sangatlah kooperatif dan saling menghargai," katanya.

Hanya saja, sekarang ini, Tidak ada problem seperti itu. Yang terjadi, setelah masuknya Alam Sutera, jalan ditinggikan, sekitar pertokoan ditembok tinggi, akses masuk dipersulit dan dilarang-larang. 

"Yang mengecewakan saya, Alam Sutera yang butuh saya, karena untuk masuk ke kompleks vila yang dibangunnya mesti melewati tanah saya yang ada di kawasan GWK, tega memperlakukan kami seperti ini,'' jelas Hendra Dinata.

Beberapa pemilik toko yang hadir dalam penandatangan surat kuasa di Denpasar, mengapresiasi advokat senior yang kini sedang maju sebagai bakal calon bupati Karangasem itu.

Ketua Perhimpunan Pertokoan Plaza Amata dan Wakilnya, masing-masing ''Sinyo''Hendra Dinata dan Sudiarta Indrajaya menyampaikan ucapan terimakasih kepada Sudirta.

Ini satu hal yang luar biasa. Karena Pak Wayan Sudirta berkenan membela kami pemilik toko secara gratis. Kami dan kawan-kawan pemilik toko, tak semata-mata berpikir bisnis saja ketika memutuskan membeli toko di kawasan GWK.

"Kami ingin berkontribusi dalam pembangunan GWK, yang waktu itu dikembangkan sebagai ikon budaya, bukan semata-mata real estate terpadu  seperti nampaknya dan kecenderungannya sekarang ini,' sambung  Putu Antara, Direktur PT Bhavana Indonesia.

Ini Kesepakatan Damai Pengelola GWK dan Pemilik Toko Plaza Amata

Lewat mediasi yang digagas Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta akhirnya kisruh antara pengelola Obyek Wisata Garuda Wisnu Kencana PT PT Alam Sutera Realty dengan para pemilik toko Toko Plaza Amata (PPTPA) berhasil didamaikan dengan beberapa kesepakatan.

Sebelumnya, konflik melibatkan keduanya berlangsung lama sejak 2013 menysul aksi pemagaran pertokoan Plasa Amata dan penutupan akses jalan oleh pengelola GWK yang baru.

Sudikerta memberi kesempatan kedua belah pihak menyampaikan permasalahan yang sebenarnya terjadi seraya meminta masing-masing pihak mengedpankan niat yang baik untuk mencari penyelesaian demi kepentingan Bali sebagai daerah yang menyandarkan pada sektor pariwisata.

Perdamaian kedua belah pihak dicapai dengan penandatangan perdamaian dan kesepakatan antara Direktur PT Garuda Adhimatra Indonesia (GAIN), Seno Andhikawanto dengan Dirut PT Bhavana Indonesia selaku pengelola Pertokoan Plasa Amata, Budi Kuswahyudhi yang disaksikan Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta beserta jajarannya.
   
Berikut bunyi kesepakatan yang ditandatangi di Kantor Gubernur Bali Renon, Denpasar Rabu 17 Juni 2015.

"Dengan ini Kami menyatakan kedua belah pihak sepakat berdamai untuk untuk kebersamaan dalam 
mengelola kegiatan ke depan. Untuk teknis-teknis dituangkan di Garuda Wisnu Kencana secara eksplisit sesuai kondisi nyata di lapangan".

"Seberapa kuat nota kesepakatan damai ini, ya kembali pada komitmen masing-masing pihak," tegasnya.

Rencananya, paska perdamaian, Wagub Sudikerta berjanji turun ke lapangan guna mengecek lokasi yang selama ini menjadi sengketa di kawasan GWK. Hal itu dilakukan guna memastikan duduk masalahnya secara obyektif.

Dia berjanji siap melakukan pertemuan lanjutan bagi kedua belah pihak yang paling lambat akan dilakukan pada minggu depan.

"Nanti saya ke sana meninjau kawasan tersebut. Mungkin pekan depan saya akan kesana, sembari melihat kesepakatan yang telah ditandatangani hari ini," sambungnya.

Pihak Perhimpunan Toko Plaza Amata (PPTPA) dihadiri Ketua PPTPA, Hendra Dinata bersama Putu Antara dari PT Bhavana Indonesia bersama Direkturnya Budi Kuswahyudhi, menyambut baik kesepakatan itu.

Hendra Dinata yang akrab disapa 'Sinyo' menyatakan siap melupakan persoalan meskipun mereka telah berkurban cukup banyak baik materi maupun mental psikologis.

Pihaknya menunggu realisasinya jika pengelola GWK yang baru menepati janjinya membongkar tembok pemisah dan membuka akses jalan bagi pemilik toko ataupun pihak yang berkepentingan dengan pemilik toko Plaza Amata.

Mereka senang Pemprov Bali dalam hal ini Wagub Sudikerta memediasi kekisruhan di kawasan GWK. Kami berharap di antara kita saling memahami permasalahan tersebut.

"Kami tetap pada kesepakatan itu agar kami diberikan akses masuk dan tidak ada lagi intimidasi dari pengelola kawasan GWK. Kami berkepentingan GWK cepat rampung dan toko bisa dioperasikan," harapnya.
   
Sementara Direktur PT Garuda Adhimatra Indonesia (GAIN) Seno Andhikawanto mengatakan pihaknya akan mengikuti arahan dari Wagub Bali. Pihaknya memastikan hasil kesepakatan tersebut dilaksanakan.

:"Kami berkomitmen terhadap kesepakatan perdamaian ini," tandasnya lagi.

Wagub Sudikerta tetap berharap agar keduanya berdamai, dan ke depan keduanya tidak ada masalah lagi, apalagi Pertokoan Plaza Amata merupakan satu kawasan dengan GWK.

"Saya harapkan melalui kesepakatan tersebut tidak ada lagi permasalahan. Saya harapkan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang menjadi ketentuan dalam pengembangan kawasan harus bisa digunakan oleh semua pihak yang ada di kawasan objek wisata tersohor itu," pintanya.

Kawasan GWK kata dia merupaka ikon destinasi baru di Bali, karena itu harus bisa berjalan sesuai dengan konsep awal untuk bisa memajukan pariwisata yang ada di Pulau Dewata.

Perkembangan pariwisata di Bali, harus saling mendukung, terlebih kawasan wisata GWK sudah terkenal hingga ke mancanegara.

"Saling bekerjasamalah. Kuncinya niat dari kita agar tidak terjadi keributan. Damailah jangan ribut. Kalau sudah ribut, pengacara dan pengadilan yang untung. Kedua belah pihak nanti sogok sana, sogok sini. Khan yang rugi diri sendiri," tutupnya.

Sudikerta Akan Bongkar Tembok di Pertokoan Plasa Amata GWK

Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta berencana menepati janjinya dengan turun langsung survey lapangan ke kawasan obyek wisata GWK. Wagub Sudikerta bersama unsur terkait lainnya di Pemprov Bali, Jumat sore (26/6/2015) mengaku akan turun langsung menyelesaikan persoalan yang terjadi di GWK.

Sudikerta bahkan menyatakan akan mengajak kedua belah pihak, baik Perkumpulan Pemilik Toko Plaza Amata maupun PT GAIN selaku pengelola obyek wisata GWK oleh PT Alam Sutera Realty tbk.

"Saya pasti tepati janji. Saya akan turun besok sore (Jumat sore) bersama yang bertikai. Persoalan ini harus saya selesaikan," ucapnya saat dihubungi awak media, Kamis 25 Juni 2015.‬

‪Sudikerta mengaku turun ke lokasi yang berseteru untuk mengusut tuntas persoalan yang membelit GWK. Untuk itu, semua pihak yang terlibat diharapkan Jumat sore bisa hadir di kawasan GWK Jimbaran.

"Kita akan turun selesaikan soal akses jalan, karena itu kawasan sehingga semuanya harus mendapat pelayanan akses. Jika ada tembok seperti yang dikeluhkan juga harus langsung dibongkar. Kita harus dibongkar itu kita pas turun," tegasnya.‬

‪Sudikerta justru mempertanyakan kenapa tanah Pemerintah Provinsi Bali yang diributkan di GWK, sehingga mengundang KPK untuk turun, padahal menurutnya aset tersebut belum diapa-apakan.

"Untuk apa KPK turun ke GWK. Siapa yang bicara itu. Tanah kita belum ada dikelola apa-apa kok. Belum juga ada disewa. Kita sarankan agar mereka sewa kek nantinya. Karena posisinya ditengah-tengah GWK," jelasnya.‬

‪Diberitakan sebelumnya, Ratusan Pemilik Pertokoan Plaza Amata menagih janji Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta untuk minta penyelesaian persoalan GWK. Mereka meminta janji Sudikerta turun mengecek langsung kondisi di kawasan GWK dan berani menegakan keadilan bagi pemilik pertokoan yang tertindas investor dan manajemen baru GWK.

Wagub Sudikerta sebelumnya berjanjinya saat kedua belah yang berseteru didamaikannya di Kantor Gubernur Bali, pada Rabu (17/6/2015) lalu. Pemilik toko ingin membuat kesepakatan agar tembok lebih dulu dibongkar dan akses jalan kembali dibuka untuk kepentingan bersama.

Mereka menilai, hingga kini belum ada tindakan nyata dan serius dari pihak GWK yang mau berdamai, seperti membongkar tembok dan membuka akses fasum (fasilitas umum) dan fasos (fasilitas sosial).






sumber : nusabali, kabarnusa, beritabali
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 hari yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

MUDP Tak Larang Kremasi Hanya Harus Lapor Bendesa

"Tapi kami juga tidak melarang krama melakukan kremasi, sepanjang itu bisa dilakukan di desa pakraman yang nantinya sama-sama menjag...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen