Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Lewat 'Jalur Tikus', Pengusaha: Disuruh Pelihara Sapi, Kok Dilarang Nikmati Hasilnya

Lewat 'Jalur Tikus', Pengusaha: Disuruh Pelihara Sapi, Kok Dilarang Nikmati Hasilnya

Written By Dre@ming Post on Minggu, 06 September 2015 | 12:17:00 PM

Pasar hewan Beringkit, Mengwi, Badung, Bali, pada awal Agustus ini sedang ramai pembeli. Penjualan sapi meningkat dari bulan sebelumnya.
Pengusaha Jual Sapi Bali ke Luar Pulau Lewat 'Jalur Tikus'

MANGUPURA – Pembatasan jumlah sapi potong bali yang boleh dijual ke luar Provinsi Bali menuai protes dari para pengusaha antarpulau sapi bali, Sabtu (5/9/2015).

Pemberlakuan kuota itu membuat sapi bali sudah tidak bisa lagi dikirimkan ke luar provinsi dalam 12 hari terakhir.

Padahal, permintaan dari luar pulau terhadap sapi bali sedang meningkat menjelang hari raya Idul Adha pada 24 September, yang ditandai dengan pemotongan hewan kurban seperti sapi dan kambing.

Untuk menyiasati pembatasan tersebut, perusahaan-perusahaan pengiriman sapi antarpulau terpaksa menggunakan jalur ilegal atau dalam istilah mereka ‘jalur tikus' guna mengirimkan sapi bali ke luar provinsi, terutama ke Jakarta.

Kendati pengiriman melalui `jalur tikus` memakan biaya lebih mahal, namun para pengusaha antarpulau sapi bali tetap memilihnya.

Karena tren harga sapi sedang mengalami peningkatan menjelang Idul Adha.

Menurut informasi yang dihimpun, pengiriman sapi bali ke luar daerah menggunakan `jalur tikus` menjadi satu-satunya jalan supaya sapi milik peternak tidak cuma terpajang di Pasar Hewan Beringkit, Mengwi, Kabupaten Badung, dan kesempatan mendapatkan keuntungan terlewatkan.

“Sayang kalau sapi tidak laku terjual, sedangkan permintaan meningkat,” kata seorang pengusaha pengiriman antarpulau sapi bali yang tak mau disebutkan namanya, Sabtu (5/9/2015).

Pasar hewan Beringkit merupakan sentra jual-beli terbesar sapi di seluruh Bali.

Di pasar ini pula transaksi sapi untuk pengiriman antarpulau dilakukan.

Selain dari Jawa, khususnya Jakarta, permintaan pengiriman juga berasal dari Kalimantan.

Para pengusaha tidak keberatan mengurangi sedikit keuntungannya karena harus membayar biaya ekstra untuk pengiriman lewat `jalur tikus`.

Jika melalui jalur resmi, biaya pengiriman sapi dari Bali ke Jakarta sebesar Rp 500-600 ribu per ekor sapi.

Apabila menggunakan ‘jalur tikus', biaya pengiriman bertambah Rp 350 ribu per ekor sapi.

"Ada biaya ekstra melalui `jalur tikus`, karena risikonya juga besar. Biaya ekstra itu untuk mengamankan agar sapi tidak disita petugas dalam proses pengirimannya. Selain itu, biaya tambahan juga untuk ongkos perawatan apabila sapi mengalami patah tulang ketika diombang-ambingkan ombak di kapal laut dalam perjalanan menuju tempat tujuan,” kata seorang pengusaha pengiriman sapi antarpulau yang lainnya.

Para pengusaha mengatakan, `jalur tikus` tidak mungkin ditempuh apabila Pemprov Bali masih mengizinkan pengiriman sapi antarpulau dalam momen seperti menjelang Idul Adha ini.

Gabungan Pengusaha Antarpulau Sapi Bali (GPASB) sudah lebih dari tiga kali mendatangi Dinas Perizinan dan Dinas Peternakan Provinsi Bali untuk menanyakan perihal pembatasan pengiriman sapi bali ke luar provinsi.

Namun demikian, mereka selalu pulang dengan tangan hampa alias tak mendapatkan solusi dari dinas-dinas tersebut.

Bos UD Mitra Abadi Badung, I Made Adi Bhaktiasa, mengatakan terakhir kali pihaknya mendatangi kedua dinas tersebut pada Jumat (4/9/2015) lalu.

Namun, jawaban yang diterima oleh para pengusaha antarpulau sapi bali itu mengecewakan.

Dinas Perizinan Provinsi Bali mengatakan bahwa persoalan pemberian tambahan kuota adalah kewenangan Dinas Peternakan.

Namun sebaliknya, Dinas Peternakan mengatakan bahwa Dinas Perizinan belum mendata permintaan penambahan kuota.

"Pusing kami dilempar ke sana kemarin terus. Mau demo salah. Kalau diam, mereka keterlaluan," ujar Bhaktiasa.

Padahal, menurut GPASB, sapi potong yang mereka kirimkan adalah yang memang sudah siap jual, yakni yang berbobot di atas 375 kilogram.

Menurut ketentuan yang berlaku, sapi dengan berat di bawah 375 kilogram dilarang untuk dijual ke luar Bali guna menyelamatkan populasi sapi potong di Bali.

"Pemerintah jangan berpikir sapi di Bali akan habis. Sebab yang kami kirim memang yang sudah siap jual. Kalau tidak dijual, tentu hanya akan merugikan peternak," ujar seorang pengusaha.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Gubernur Bali cc Kepala Dinas Perizinan Provinsi Bali pada 4 September lalu, Gabungan Pengusaha Antarpulau Sapi Bali (GPASB), menyatakan bahwa membuka kuota pengiriman sapi antarpulau akan membantu kesejahteraan peternak sapi karena harga sapi saat ini lebih mahal daripada sebelumnya.

Selain itu, saat ini suplai sapi di Indonesia juga sedang mengalami kelangkaan.

Sehingga kebutuhan di pasar perlu segera diisi.

Satu cara di antaranya membuka tambahan kuota pengiriman sapi bali.

"Kami berharap penambahan kuota bisa direalisasikan paling lambat seminggu sebelum 24 September yang bertepatan dengan Idul Adha. Sebab, dibutuhkan waktu 3-4 hari untuk pengiriman sapi dari Bali ke tempat tujuan seperti Jakarta," demikian antara lain bunyi surat permohonan GPASB.

Pengusaha Sapi: Disuruh Pelihara Sapi, Kok Dilarang Nikmati Hasilnya

MANGUPURA - Para pengusaha pengiriman antarpulau sapi bali menilai pemerintah bersikap berlebihan.

Terutama saat pemerintah khawatir terhadap merosotnya populasi sapi bali jika kuota tak diberlakukan ketika permintaan daging sapi meningkat saat ini.

“Kami pernah dengar langsung dari Bapak Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali bahwa pembatasan pengiriman sapi bali ke luar pulau agar sapi di Bali tidak habis," ujar I Nyoman Wijaya, seorang pengusaha pengiriman sapi, kemarin, Sabtu (5/9/2015).

Menurut para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Antarpulau Sapi Bali (GPASB), ketakutan tersebut tidak beralasan.

Pasalnya, apabila usia sapi sudah tergolong siap jual tetapi tidak bisa dijual (termasuk ke luar daerah), maka para peternak sangat dirugikan.

Sapi bisa dijual murah jika hanya ditransaksikan untuk memenuhi kebutuhan di Bali saja.

Apalagi, permintaan daging sapi di Bali relatif lebih sedikit daripada permintaan di luar Bali pada saat ini.

Kebutuhan di Bali, menurut para pengusaha, masih bisa terpenuhi meskipun ada sapi-sapi yang dijual ke luar provinsi.

“Masak pemerintah hanya ingin kami memelihara sapi, tetapi saat akan menikmati hasilnya justru dilarang. Kan lucu itu," ujar seorang pengusaha pengiriman sekaligus peternak sapi bali.

"Kami hanya berharap izin pengiriman ke luar pulau diperpanjang sampai seminggu sebelum Idul Adha. Itu saja. Seharusnya saat inilah kami menikmati hasil. Tolong para pejabat, pikirkan nasib kami," ujar I Putu Agus Suputra, seorang peternak sapi bali.




sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 hari yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

MUDP Tak Larang Kremasi Hanya Harus Lapor Bendesa

"Tapi kami juga tidak melarang krama melakukan kremasi, sepanjang itu bisa dilakukan di desa pakraman yang nantinya sama-sama menjag...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen