Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Pencoreng Budaya Bali ‘Joged Porno Mati Satu Tumbuh Seribu’

Pencoreng Budaya Bali ‘Joged Porno Mati Satu Tumbuh Seribu’

Written By Dre@ming Post on Rabu, 23 Desember 2015 | 11:07:00 AM

Suasana pertemuan terkait Joged Porno, di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Renon, Denpasar. Menghapus konten video joged porno di dunia maya dinilai langkah yang menghabiskan energi
DENPASAR - Pasca ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda (WBD TB) melalui sidang ke-10 UNESCO di Windoek Nambia, Afrika Selatan, Rabu (2/12) malam lalu. keberadaan situs joged porno di dunia maya menjadi tantangan tersendiri untuk memulihkan citra tarian pergaulan ini.

Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pun seakan kewalahan memberantas penayangan joged porno di dunia maya. Terkendala dengan banyak prosedur, dan tentu tak semudah yang dibayangkan.

I Made Marlowe Bandem selaku kurator di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, dalam rapat pembentukan tim khusus pengkaji joged porno di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Senin (21/12) mengatakan, banyak hal yang mesti perlu dilakukan untuk mengembalian citra positif Joged Bumbung. "Satu video bisa dihilangkan akan tetapi bisa tumbuh ribuan video-video youtube joged porno lainnya," ujarnya.

Diungkapkan, bahwa ketika melakukan pencarian di dunia maya dengan kata ‘Joged Porno’, akan muncul 4.290 hasil pencarian. Sedangkan dengan kata kunci ‘Joget Porno’ akan muncul sekitar 8.080 hasil pencarian. "Perlu diingat bahwa hasil pencarian tersebut adalah kombinasi dari

kata kunci Joged dan Joget dan Porno. Tak semuanya merujuk kepada pementasan joged yang tak senonoh itu," jelas Marlowe Bandem yang juga Wakil Ketua Widya Dharma Santhi yang menaungi STIKOM Bali.

Lanjut Marlowe, upaya pemblokiran sejatinya bisa dilakukan dengan 'flagging content' (jika isi atau materi dilaporkan tidak pantas), 'legal reporting' (melayangkan petisi) dan 'copyright intringement' (pelanggaran hak cipta).

Hanya saja kelemahan flagging content atau flagging a channel yakni dibutuhkan ribuan flagging untuk satu video dengan alasan yang jelas dan akademis untuk mendapatkan perhatian dari pihak YouTube. Ribuan flagging ini membutuhkan ribuan account YouTube/Google yang sah. "Pelibatan masyarakat dalam skala besar adalah hal yang kompleks, jumlah video yang dipermasalahkan bukan satu tapi ribuan," paparnya. Begitu juga kelemahan legal reporting, kata dia, dibutuhkan akun resmi YouTube/Google dari Pemerintah Provinsi Bali atau Dinas Kebudayaan untuk melakukan legal reporting. "Mati satu tumbuh seribu, video yang diblokir dengan mudah bisa pindah situs, berganti nama, dan bisa menjadi wacana bola liar," tandasnya.

Untuk itu, dia juga menyarankan dan memberikan rekomendasi yakni dengan pembuatan situs/portal budaya sembilan tari Bali yang masuk WBD UNESCO, dan juga channel YouTube yang bermaterikan kajian akademis,

Klasifikasi, dan pemaknaan filosofi kemurnian, kebenaran, serta keindahan tarian Bali. Situs/portal memuat juga video-video kesembilan tarian Bali yang masuk WBD. Materi disampaikan dalam bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa-bahasa dunia lainnya bila dipandang perlu. Kedua, identifikasi sekaa-sekaa dalam video YouTube dan segera melakukan pendidikan, pembinaan dan festival tentang pementasan joged yang seusai dengan kaidah-kaidah keindahan tarian Bali. “Ketiga, situs-portal resmi ini adalah upaya dokumentasi, pengarsipan dan juga wadah pembelajaran bagi penciptaan dan sebaiknya diluncurkan bersamaan dengan agenda syukuran dan pementasan Sembilan Tari Bali yang ditetapkan sebagai WBD UNESCO, ” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha menyatakan, sebenarnya tujuan awal rapat ialah untuk melakukan petisi kepada pihak Youtube terkait penayangan joged porno di situs tersebut.

Namun mengingat prosesnya panjang dan berbelit-belit, akhirnya diputuskan untuk membentuk tim yang difokuskan melakukan langkah tepat untuk pembinaan kepada seniman dan stake holder. Tak lupa segera dilakukan pula pencitraan dengan penayangan joged yang benar di dunia maya. "Padahal sebenarnya pemerintah provinsi sudah berupaya maksimal memberikan ruang kepada seniman untuk tampil, seperti pada even Pesta Kesenian Bali. Sayangnya gaung dari kesenian Bali yang adiluhung, justru dicoreng dengan maraknya joged porno di media online," ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha, selaku pimpinan rapat.












sumber : NusaBali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen