Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Bikin Kesel Heboh Kegaduhan Nyepi di Bedugul

Bikin Kesel Heboh Kegaduhan Nyepi di Bedugul

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 12 Maret 2016 | 8:11:00 AM

TABANAN - Khusyuknya pelaksanaan Nyepi Tahun Baru Saka 1938, Rabu, 9 Maret 2016, ternoda oleh kasus keramaian di kawasan Banjar Candi Kuning II, Desa Pakraman Kuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan yang informasinya menyebar melalui Facebook. Gara-gara keramaian di mana warga berjubel di tepi Danau Beratan kawasan Bedugul, lengkap dengan aktivitas dagang makanan berjualan, Dandim 1619/Tabanan pun terjun ke lokasi bersama Camat Baturiti, Kapolsek Baturiti, dan pejabat terkait lainnya.

Heboh perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1937 di Banjar Candi Kuning II, Desa Pakraman Candi Kuning, Rabu (8/3), berawal dari seorang perempuan pemilik akun Aiuk Arini Rizkiya yang menambahkan lima foto suasana Nyepi di wilayah dingin tersebut. Foto-foto tersebut diperkirakan diunggah Rabu sore sekitar pukul 17.00 Wita, saat umat Hindu masih menjalankan Catur Brata Penyepian.

Perempuan yang tinggal di Bedugul tadi lengkap menulis status pada foto, yang bunyinya, “dagang bakso ada, dagang sate ada, dagang tipat santok ada, dagang roti bakar ada…. Tinggal pilih dan slamat menikmati…nikmatnya nyepi d bedugull…” Foto-foto yang diupload ke Facebook (FB) itu pun langsung memantik reaksi netizen. Pasalnya, foto tersebut menggambarkan keramaian di tepi Danau Beratan, kawasan Bedugul, Kecamatan Baturiti. Dalam sekejap, status perempuan itu beberapa kali dibagikan oleh netizen.

Informasi yang dihimpun, ‘kegaduhan’ di tepi Danau Beratan saat Nyepi Tahun Baru Saka 1938 itu terjadi dua kali. Menurut Camat Baturiti, Tos Partha, awalnya warga mulai ramai di jalan pagi harinya sejak pukul 07.20 Wita hingga 09.00 Wita. Ketika itu, umat Muslim menuju masjid untuk sholat Gerhana Matahari. Usai sholat, kata Camat Tos Partha, warga yang lalu-lalang di tepi Danau Beratan diarahkan kembali ke rumah masing-masing oleh pecalang Desa Pakraman Candi Kuning. Suasana di tepi Danau Beratan pun kembali hening.

Sore harinya sekitar pukul 16.00 Wita, kawasan Bedugul dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Nah, begitu hujan reda, warga khususnya dari Banjar Candi Kuning II kembali berdatangan ke tepi Danau Beratan. Bahkan, ada yang sampai jualan makanan. Isunya, warga dari luar juga datang membawa rombong dagangan.

Menurut Camat Tos Partha, aksi tumpah ke jalan di tepi Danau Beratan sambil beli makan ini berlangsung Rabu sore sekitar pukul 17.00 Wita. “Usai hujan lebat sore sekitar pukul 17.00 Wita, mereka kembali ke jalan. Itu tak berlangsung lama, karena lagi-lagi diarahkan balik kanan oleh pecalang,” papar Camat Tos Partha, Kamis (10/3).

Tos Partha menduga pengambilan gambar berlatar belakang keramaian dan pedagang lengkap dengan rombong itu diambil menggunakan kamera ponsel sekitar pukul 17.00 Wita. Usai mengambil foto, pemilik akun Aiuk Arini Rizkiya unggah lima foto suasana Nyepi lengkap status ‘nikmatnya Nyepi di Bedugul’.

Gara-gara ‘kegaduhan’ Nyepi di Banjar Candi Kuning II, Desa Pakraman Candi Kuning tersebut, Camat Tos Partha terjun melakukan cross check, Kamis kemarin. Camat Tos Partha terjun bersama Komandan Kodim (Dandim) 1619/Tabanan Letkol Inf Herwin Gunawan, Kasdim Tabanan Mayor Kav Ind Salindra, Danramil Baturiti, Kapolsek Baturiti Kompol Heri Supriawan, dan Kepala Desa (Perbekel) Candi Kuning Made Mudita.

Camat Tos Partha bersama para pejabat terkait ini sekalian menggelar pertemuan di di Yayasan Sosial Al Hikmah yang berlokasi di tepi Danau Beratan, Kamis petang pukul 18.00 Wita. Kelian Dinas Banjar Candi Kuning II, Ariel D Azkacetta, juga dihadirkan dalam pertemuan klarifikasi tersebut. Demikian pula perempuan pemilik akun FB, Aiuk Arini Rizkiya, yang sebar foto ‘kegaduhan’ Nyepi, ikut dihadirkan.

“Pada pertemuan itu, kami juga datangkan perempuan yang meng-upload foto-foto tersebut di facebook,” terang Camat Tos Partha. Perempuan itu berdalih meng-upload foto di FB hanya sekadar iseng dan cari sensasi, tidak ada maksud melecehkan umat Hindu yang khusuk menjalankan Catur Brata Penyepian.

Pada intinya, perempuan tersebut telah minta maaf. Demikian pula seluruh tokoh masyarakat di Desa Candi Kuning minta maaf atas foto keramaian Nyepi yang diunggah ke FB. “Nah, pedagang yang pakai rombong itu dikatakan dari luar. Perbekel minta maaf atas kecolongan ini,” katanya.

Camat Tos Partha berharap setelah adanya permintaan maaf dan terkuak kebenarannya, kasus ini tidak semalin melebar. “Mereka tidak ada niat sedikit pun melecahkan umat Hindu yang merayakan Nyepi. Mereka janji tak mengulangi lagi perbuatannya.”

Sementara itu, Kelian Dinas Banjar Candi Kuning II, Ariel D Azkacetta, menyatakan keramain di tepi Danau Beratan terjadi setelah digelarnya sholat Gerhana Matahari. Sebetulnya, kata dia, jauh sebelumnya sudah ditekankan kepada warga setempat untuk menghormati umat Hindu yang melaksanakan Nyepi. “Hal itu diumumkan sampai dua kali, pagi dan sore, saat Pangrupukan Nyepi (Selasa, 8 Maret 2016),” jelas Ariel saat ditemui di Desa Candi Kuning, Kamis kemarin.

Ariel menjelaskan, mereka yang berdatangan ke jalan tepi Danau Beratan bukan hanya warga Banjar Candi Kuning II, tapi ada juga dari luar. Apalagi, lokasi keramian adalah jantung pariwisata. Banyak juga orang yang berlibur di vila. Menurut Ariel, tidak ada unsur pembiaran dalam masalah ini, tapi lantaran koordinasinya kurang bagus. "Yang jelas, kami minta maaf kepada umat Hindu di Bali dan seluruh Indonesia atas kejadian ini,” katanya.

Sedangkan Bendesa Pakraman Candi Kuning, I Made Susila Putra, mengakui insiden kegaduhan Nyepi di tepi Danau Beratan terjadi karena lemahnya koordinasi. “Saya juga mengaku salah, karena koordinasi kami lemah. Tidak ada maksud pelecehan di balik semua ini,” jelas Bendesa Susila Putra saat dikonfirmasi terpisah, Kamis kemarin.

Menurut Susila Putra, seluruh pecalang dan satuan keamanan dinas sudah diterjunkan dalam mengamankan pelaksanaan Nyepi Tahun Baru Saka 1938. Nah, karena adanya momentum Gerhana Matahari, maka muncul pikiran dan asumsi dibolehkan keluar rumah. "Baru sekarang ada fenomena seperti ini. Kalau tahun-tahun sebelumnya, tidak ada," tandas Susila Putra.

Sebaliknya, Ketua PHDI Tabanan, I Wayan Tontra, menyayangkan terjadinya kegaduhan Nyepi di Banjar Candi Kuning II, Desa Pakraman Candi Kuning. “Ini artinya imbauan dan aturan yang sudah disampaikan ke seluruh umat, tidak nyambung. Ada komunikasi yang tersumbat ke bawahnya itu,” jelas Wayan Tontra.













sumber : NusaBaki
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen