Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Penawar Racun dan Cetik, Airnya Dipakai Pangelukatan

Penawar Racun dan Cetik, Airnya Dipakai Pangelukatan

Written By Dre@ming Post on Senin, 14 Maret 2016 | 7:16:00 AM

Mata air Yeh Masem, salah satu sumber mata air Danau Buyan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib menyembuhkan berbagai macam penyakit melalui pengelukatan (foto#1). Areal Pura Beji, yang merupakan stana Dewa Gangga, penguasa sumber mata air Yeh Masem
SINGARAJA - Untuk melukat, cukup membawa sarana banten berupa canang pejati, dilengkapi bunga teratai. Kandungan senyawa kimia air Yeh Masem belum pernah diteliti. Yeh Masem, Sumber Mata Air Rasa Asam di Danau Buyan

Di luasnya hamparan air Danau Buyan di Banjar Dinas Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, terdapat satu areal yang memiliki keistimewaan. Di areal tersebut, air yang keluar berasa asam, bukan tawar seperti air yang melimpah di danau. Air masam tersebut dipercaya memiliki banyak khasiat, baik sekala maupun niskala.

‘Yeh Masem’, demikian nama mata air tersebut. Yeh Masem merupakan sumber mata air di Danau Buyan, Banjar Dinas Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Selain memiliki keunikan dengan rasa air yang asam, mata air tersebut juga dikenal sebagai sumber mata air suci, yang selama ini dipakai untuk melukat dan dapat berfungsi sebagai penawar racun.

Meski sumber mata air tersebut tidak memiki sejarah dan kapan pertama kali ditemukan, namun warga Desa Pancasari selama ini mempercayai, mata air tersebut sebagai sumber kehidupan. Tidak sedikit krama setempat yang menggunakan air tersebut untuk dikonsumsi langsung, tanpa melakukan proses penyaringan dan atau memasak airnya terlebih dahulu.

Dengan meminum air dari mata air Yeh Masem tersebut, dipercaya oleh krama dapat menjaga kekebalan tubuh dan kesehatan. Bahkan sebelum didirikannya Pura Beji di tepi Danau Buyan, sebagai stana Dewa Gangga selaku penguasa sumber mata air tersebut, warga setempat terbiasa memanfaatkan air danau untuk mandi.

“Dulu sebelum ada Pura Beji, datang mandi di sini hanya membawa canang. Tetapi sekarang kami sudah batasi, agar kesucian pura tidak tercemar,” ujar Pemangku Pura Beji, Desa Pancasari, Jro Mangku Wayan Sadaka, yang ditemui belum lama ini.

Dia menuturkan, keberadaan mata air Yeh Masem tersebut sudah ada sejak leluhurnya pertama kali memutuskan untuk menetap di Desa Pancasari. Mata Air Yeh Masem juga dikenal sebagai salah satu sumber mata air terbesar di Bali setelah sumber mata air di Danau Batur, yang menyuplai air hampir ke seluruh kabupaten yang ada di Bali.

Meski secara umum kondisi Danau Buyan tampak mengalami pendangkalan, namun air yang mengalir dari mata air Yeh Masem tidak pernah surut.

Kandungan senyawa dalam air pun sangat unik, sehingga dapat menciptakan rasa agak asam. Entah dipengaruhi oleh bebatuan yang ada di bawah tanah atau dipengaruhi oleh faktor lain. Karena hingga saat ini, dikatakan belum ada satupun ilmuwan yang melakukan penelitian khusus atas keberadaan sumber mata air Yeh Masem tersebut.

“Dulu ada seorang ilmuwan yang datang ke sini, mengatakan, bahwa kandungan sumber mata air ini 10 kali lebih bagus dari air minum dalam kemasan,” imbuh Jro Mangku Sadaka.

Keagungan penguasa sumber mata air tersebut, Dewa Gangga, menunjukkan kekuasaannya melalui orang-orang dari luar daerah, yang datang dengan sendirinya untuk berobat.

Bahkan datangnya orang untuk nunas tamba (meminta obat secara niskala) di Yeh Masem, mengawali pembangunan Pura Beji Pancasari yang merupakan stana Dewa Gangga.

Jro Mangku Sadaka menceritakan, bahwa peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1978, seorang yang tidak diketahui identitasnya dalam kondisi gangguan jiwa diantarkan keluarganya untuk melukat di Yeh Masem.

Setelah sebulan pasca-pengelukatan, secara ajaib orang yang menderita gangguan jiwa tersebut sembuh total, dan keluarganya menghaturkan dana punia ratusan juta untuk membangun Pura Beji. Hal yang sama juga beberapa kali terjadi, hingga proses pembangunan Pura Beji rampung dan dipelaspas.

“Semuanya swadaya, pura stana Ida ini hanya dari sumbangan orang-orang yang sakit dan kemudian sembuh setelah melukat di sini,” jelas Jro Mangku Sadaka.

Setelah bangunan pura rampung, krama pun mulai menata sumber mata air Yeh Masem tersebut yang berada di bawah di sisi utara pura.

Panitia pembangunan saat itu juga membuatkan semacam lorong di bawah pura, jika air mengalir deras, air juga dapat keluar dari sana. Selain rembesan airnya di sebelah utara pura, dibuatkan tembok pembatas agar sumber mata air tidak bercampur dengan lumpur maupun kotoran yang ada di danau.

Kisah lain mengenai khasiat penyembuhan banyak dialami oleh warga setempat. Yakni air Yeh Masem dapat difungsikan sebagai penawar racun. Baik keracunan karena makanan, maupun karena cetik.

Sedangkan untuk melakukan pengelukatan di sana, warga cukup membawa sarana banten berupa canang pejati, yang dilengkapi dengan membawa bunga yang akan digunakan untuk melukat. Dianjurkan untuk membawa bunga teratai lima warna.

Sementara itu, Pura Beji merupakan salah satu Pura Khayangan Tiga yang ada di Desa Pancasari, yang selalu diutamakan. Seluruh krama Desa Pakraman Pancasari, percaya bahwa keberadaan sumber mata air tersebut tidak hanya berfungsi bagi kehidupan manusia, tetapi juga bagi kehidupan hewan ternak dan kesuburan lahan pertanian di wilayah tersebut. Seluruh krama Desa Pancasari pun selalu nangkil ke Pura Beji pada piodalan yang dilaksanakan setiap Purnama Kalima, untuk mengucapkan rasa syukur mereka.










sumber : NusaBali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen