Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Pedanda Gunung Ingin Dikebumikan Dengan Sederhana

Pedanda Gunung Ingin Dikebumikan Dengan Sederhana

Written By Dre@ming Post on Kamis, 19 Mei 2016 | 10:51:00 AM

Ida Pedande Gede Made Gunung (atas). Para pelayat menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Ida Pedanda Gede Made Gunung di kediaman Griya Gede Purnawati Kemenuh, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar, Rabu (18/5/2016). (bawah)
Minta Tanpa Bade, Wasiat Ida Pedanda Gunung: ‘Kalau Aji Meninggal Nanti, Tolong!’

GIANYAR - Umat Hindu berbela sungkawa. Pada Rabu (18/5/2016) pukul 04.45 Wita, Ida Pedanda Gede Made Gunung menghadap Sang Pencipta.

Ida Pedanda menghembuskan napas terakhir di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali, dalam usia 65 tahun setelah dirawat beberapa hari akibat stroke.

Duka mendalam atas kepergian rohaniwan dari Griya Gede Purnawati Kemenuh, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar ini begitu terasa di kediamannya. Keluarga, kerabat, sisya (murid), pasemetonan sulinggih, pejabat dan masyarakat umum terus berdatangan untuk ikut menyatakan bela sungkawa.

Tangis pun pecah saat layon (jenazah) Ida Pedanda tiba di griya sekira pukul 09.30 Wita.

Tiada yang menyangka, panutan umat sang pencetus dharma wacana bernama walaka Ida Bagus Gede Suamem ini, berpulang begitu cepat.

"Keluarga sudah melakukan paruman dan disepakati kremasi akan dilakukan pada 21 Juli 2016, dengan sederhana," ujar Ida Bagus Made Purwita Suamem (40), anak kedua almarhum.

Tentang kesederhanaan kremasi tersebut, Gus Purwita punya cerita.

Suatu hari ia bercengkerama dengan ayahnya.

Mereka berdua duduk membahas ihwal keagamaan.

Perbincangan pun mengalir.

Namun tidak seperti biasanya, Ida Pedanda yang menjadi wiku (pandita) sejak 27 Oktober 1994 itu justru menyisipkan pesan lain kepada Gus Parwita kendati disampaikan sembari tersenyum.

"Kalau aji (ayah) meninggal nanti, tolong jangan buatkan upacara yang besar. Tanpa bade. Layon aji cukup diusung anak-anak menuju perabuan, pebasmian (tempat kremasi). Sesederhana itu," begitu Gus Purwita menirukan ucapan mendiang sang ayah.

Sulinggih yang lahir pada 31 Desember 1950 itu lalu melanjutkan pesannya.

"Tempatnya di halaman depan, di seputaran pohon cempaka," begitu ujar Ida Pedanda kepada Gus Purwita.

Pesan inilah yang dijadikan acuan dari paruman keluarga besar Griya Gede Purnawati Kemenuh.

Bagi keluarga, pesan itu seperti sebuah wasiat bahkan bhisama dari sang wiku sehingga pantang untuk dilanggar.

Gus Purwita pun berikhtiar menjalankan amanat tersebut.

"Bhisama yang pernah disampaikan langsung oleh beliau kepada saya sebagai anak laki-laki penerus ya seperti itu. Walaupun saat itu disampaikan dengan nada bercanda sembari tertawa, tapi ini tidak bisa kami langgar," ujar Gus Purwita.

Disebutkan Gus Purwita, ayahandanya mengatakan bahwa kesederhanaan tak harus jadi penghalang dalam beryadnya.

Yang terpenting, tidak kehilangan makna.

"Kesederhaan beliau mengacu pada raos (ucapan) almarhum Ida Pedanda Made Sidemen. Cukup dengan upacara yang sederhana toh juga beliau akan mendapatkan tempat terbaik. Dan aji saya meniru kesederhanaan Ida Pedanda Made Sidemen," ungkap Gus Purwita.

Dalam keseharian, Ida Pedanda Gede Made Gunung yang menjadi wiku sejak 27 Oktober 1994 itu memang dikenal sebagai sulinggih yang sederhana.

Banyak pola pikir dan laku diri yang bisa diteladani.

Wiku yang mantap menapak jalan dharma wacana ini selalu menyempatkan diri menyelipkan pesan kesederhanaan itu.

Sedih, Begini Kronologi Ida Pedanda Gunung Sakit Hingga Hembuskan Napas Terakhir

GIANYAR – Ida Pedanda Gede Made Gunung menghembuskan napas terakhir pada Rabu (18/5/2016) pukul 04.45 Wita, di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali, dalam usia 65 tahun setelah dirawat beberapa hari akibat stroke.

Ida Bagus Made Purwita Suamem (40), putra kedua almarhum menjelaskan, ada gumpalan di otak kiri ayahandanya sehingga menghalangi peredaran darah dan masuknya oksigen.

Kondisi Ida Pedanda mulai drop sejak 9 Mei 2016.

Saat itu mantan guru SD ini mengeluhkan sulit untuk bernapas.

Gus Purwita langsung mengajak sang ayah berobat ke Rumah Sakit Internasional Wing Amerta sekira pukul 20.00 Wita.

Atas diagnosis yang dilakukan tim medis rumah sakit, sang sulinggih harus mendapatkan perawatan intensif.

"Saya antar kontrol ke dokter jantung dan dokter paru-paru. Beliau terganggu pernapasannya, agak sesak atau ngangsur dalam istilah Bali. Sampai di sana (Wing Amerta) dapat pemeriksaan dokter, hasilnya aji tidak diizinkan pulang, harus dirawat inap dulu agar plong pernapasannya. Beliau dirawat di ruangan Jepun Bali Nomor 115, pukul 21.00 Wita," ujarnya.

Tiga hari kemudian kabar menggembirakan muncul.

Dokter menyatakan bahwa kondisi Ida Pedanda berangsur membaik.

Jika terus mengalami peningkatan, pada hari ke-7 di rumah sakit diprediksi Ida bisa pulang ke griya.

Ihwal ini membuat keluarga senang dan bersyukur.

"Berjalan tiga hari opname, napas aji sampun plong, sudah enakan. Aji terlihat sehat lagi dan sudah bisa dibesuk oleh pasemetonan. Komunikasi pun biasa. Hari keempat dokter sudah memberikan sinyal boleh pulang empat hari kemudian," ujarnya.

Namun harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

Sabtu (14/5/2016) dini hari sekira pukul 03.00 Wita, Ida terjaga.

Hal yang sama terjadi lagi. Kondisinya mendadak menurun.

Ida minta diberi seteguk air dan buah.

Beberapa saat kemudian, Ida lalu buang air kecil.

Pukul 03.30 Wita, Ida Pedanda kembali menyandarkan tubuhnya di ranjang perawatan.

Saat itu juga, tangan dan kaki kanannya mendadak lemas, suaranya pun hilang.

"Seketika itu beliau tidak bisa diajak komunikasi. Suaranya hilang, tangan dan kaki kanan lemas, lumpuh setengah. Dokter langsung mengajukan agar mendapatkan CT Scan. Pukul 04.30 hasilnya langsung dibaca. Ternyata ada gumpalan yang memblok otak kirinya," kata dia.

Selanjutnya, dokter langsung memberikan obat.

Namun kondisi Ida terlanjur memburuk dengan napas yang semakin sesak sehingga membuatnya tidak bisa minum dan makan.

Ida Pedanda kemudian mendapatkan perawatan di ICU Unit Jantung RSUP Sanglah sejak tanggal 15-17 Mei.

Dalam rentan waktu itu, dilakukan tindakan pengecekan secara spesifik di bagian kepala.

Hasilnya, di otak kiri sudah terblok total sehingga tidak ada aliran darah ataupun oksigen yang masuk.

Ida Pedanda mengalami gagal bernapasan.

Dokter pun langsung mengambil tindakan.

"Beliau diperkirakan mengalami gagal pernapasan sehingga masuk lagi ke ICU khusus untuk diberikan alat bantu pernapasan. Kejadiannya Selasa 17 Mei sekira pukul 14.00 Wita. Pernapasannya dibantu dengan mesin pernapasan. Kondisi terus menurun," paparnya.

Perjuangan dokter menyelamatkan Ida Pedanda terus berlanjut.

Gus Purwita turut masuk untuk memberikan bantuan. Tapi upaya itu gagal. Pada Rabu (18/5/2016) pukul 04.00 Wita kemarin, jantung sang sulinggih berhenti berdetak.

Namun dokter tidak mau menyerah.

Mereka meminta izin kepada keluarganya agar diberikan kesempatan kedua.

Tetapi Ida Sang Hyang Widhi Wasa bekehendak lain.

Pukul 04.45 Wita, detak jantung Ida Pedanda benar-benar berhenti, dan dinyatakan meninggal dunia.

Sang pencetus dharma wacana ini untuk selamanya beristirahat dalam kedamaian.

"Dokter sempat minta izin kepada saya melakukan usaha sekali lagi untuk berupaya agar jantungnya memberi respon. Ternyata tidak bisa. Napas aji sudah lepas," ujar Gus Purwita dengan tegar.







==================================
Dalam catatan kami Ida Pedanda merupakan pencetus Dharma Wacana yang digemerai dalam artian kalau dulu mendengar Darma Wacana orang sudah mengantuk, tapi dengan hadirnya beliau dharma wacana menjadi satu incaran yang paling dicari untuk didengarkan, hal ini terjadi tak lepas dari kepiawaian beliau dalam menyisipkan humor-humor yang mendukung materi yang dibawakan. Disisi lain pada suatu kesempatan kami mencatat bahkan merinding dan terharu mendengar statemennya yang menyatakan: 'Jika semua orang mendukung reklamasi maka saya akan berjalan sendiri di garda terdepan untuk menolak reklamasi, apapun resikonya'. Dan masih banyak catatan lain yang bisa ditauladani dari beliau. Namun takdir tetaplah harus berjalan, hidup dan mati merupakan rahasia ilahi. Kami bersama seluruh elemen media dalam naungan Dre@ming Grup menyampaikan duka sedalam-dalamnya, semoga amal dan ibadahnya di terima Ida Shang Hyang Widi Wasa. Dan Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran. Selamat Jalan Ida Pedanda Gede Made Gunung, Spiritmu selalu jadi pedoman kami dalam melangkah. (Mr. Brain Revolution)
==================================
sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen