Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Ngeri! Nangkil ke Pura Goa Giri Putri, Gusti Ayu Dihantam Ombak

Ngeri! Nangkil ke Pura Goa Giri Putri, Gusti Ayu Dihantam Ombak

Written By Dre@ming Post on Jumat, 10 Juni 2016 | 3:00:00 PM

Upaya pencarian Ni Gusti Ayu Sukaseni (57) yang jatuh dan hilang saat menumpang Boat Caspla III, Kamis (9/6/2016). Gbr Insert Ni Gusti Ayu Sukaseni
Sebelum Tenggelam Gusti Ayu Sempat Haturkan Pekelem ke Laut, Korban Belum Ditemukan!

SEMARAPURA - Upaya Tim SAR mencari Ni Gusti Ayu Sukaseni yang terjatuh dari kapal boat Caspla III dari Nusa Penida yang ditumpanginya, Rabu (8/6/2016) belum berhasil.

Kakak ipar I Gusti Ketut Kertiasa menceritakan, ia dan 7 anggota keluarganya termasuk korban Ni Gusti Ayu Sukaseni tangkil ke Pura Dalem Ped hari Selasa (7/6/2016).

Keluarga tersebut setiap tahun rutin tangkil karena korban dipercaya ngiring ida Betara Dalem Ped.

Korban dan keluarganya sempat mekemit semalam di Pura Dalem Ped dan memutuskan untuk balik ke Pelabuhan Pesinggahan, Rabu sore sekitar pukul 15.40 Wita.

"Kita sekeluarga yang jumlahnya 7 orang dari Pelabuhan Buyuk Nusa Penida, naik Kapal Caspla III. Kira-kira saat itu ada 35 penumpang di kapal tersebut," ujar Gusti Ketut Kertiyasa yang ketika itu masih menggenakan pakaian adat.

Saat akan bertolak menuju Pelabuhan Pesinggahan, Gusti Ayu Sukaseni duduk di posisi belakang, teoatnya disisi kanan kapal boat.

Meskipun kondisi gelombang kurang bersahabat, saat akan berangkat pihak ABK maupun Kapal boat Caspla III yang total berjumlah 4 orang, sama sekali tidak menjelaskan mengenai standar keselamatan penumpang seperti menggunakan jaket pelampung (life jacket) dan sebagainya.

Sekitar 10 menit bertolak dari pelabuhan buyuk, kapal Caspla III yang mereka tumpangi dihadapkan pada gelombang tinggi sekitar 5 meter.

Mengetahui hal tersebut, Gusti Ayu Sukaseni sempat menghaturkan pekelem ke laut untuk memohon keselamatan.

Namun, sekitar 2 menit setelah menghaturkan pekelem, kejadian yang tidak terduga terjadi.

Kapal boat Caspla III yang dikendarai kapten kapal bernama I Kadek Agus Adi Rada Kresna dihantam gelombang setinggi 5 meter.

Kapten kapal pun terus memacu boat Caspla III dengan kecepatan tinggi hingga kapal terombang-ambing.

Bahkan, kapal penumpang tersebut sudah sempat miring sekira 90 drajat, hingga kapal kemasukan air dan nyaris tenggelam.

Sosok Kepala Sekolah Panutan

Kerabat dan rekan-rekan kerja dari Ni Gusti Ayu Sukaseni (57) berdatangan silih berganti ke Pelabuhan Pesinggahan untuk memberikan support moral ke Keluarga.

Mereka berharap jika kepala sekolah di SD N 13 Sesetan tersebut segera ditemukan.

Ni Made Ariani, guru kelas VI SD N 13 Sesetan menjelaskan jika Ni Gusti Ayu Sukaseni merupakan sosok kepala sekolah panutan bagi guru dan siswa di SD N 13 Sesetan.

Sebelum ijin berangkat ke Nusa Penida Selasa (7/6/2016), Gusti Ayu Sukaseni sempat berpesan akan pulang cepat karena masih ada urusan di sekolah yang harus segera diselesaikan seperti tanda tangan ijazah siswa.

"Terakhir saya ketemu beliau di sekolah hari Senin (6/6/2016) lalu. Beliau minta ijin dan pamit untuk berangkat ke Nusa Penida," jelas Made Ariani.

Hal serupa diungkapkan oleh Wayan Suama, Guru kelas V di SD 13 Sesetan.

Ia mengenal Gusti Ayu Sukaseni sebagai sosok yang disiplin dan bertanggung jawab. Ia juga mengakui jika sosok Sukaseni merupakan panutan bagi guru dan siswa di SD 13 Sesetan. "Kami berharap Sukaseni segera ditemukan. Bahkan, kami sampai saat ini masih menyembunyikan kejadian ini dari siswa-siswa kami agar tidak ada informasi yang simpang siur terkait peristiwa ini," jelas Wayan Suama.

Ni Gusti Ayu Sukaseni, warga asal Banjar Celuk, Panjer, Denpasar Selatan diketahui memiliki seorang suami, Gusti Made Murdika.

Serta telah dikaruniai 2 oranh putri dan seorang putra.

Dihantam Gelombang saat Nangkil ke Pura Goa Giri Putri, Gusti Ayu Belum Ditemukan

DENPASAR - Seorang guru asal Banjar Celuk, Panjer, Denpasar, Bali, Ni Gusti Ayu Sukaseni (57), terjatuh dari kapal Caspla Bali 3 setelah dihantam gelombang tinggi di perairan Nusa Penida, Klungkung, Rabu (8/6/2016).

Hingga tadi malam, upaya pencarian terhadap Sukaseni belum menemukan titik terang, ia belum ditemukan.

Pencarian melibatkan tim gabungan dari BPBD Klungkung berjumlah 20 personel, BPBD Karangasem, Basarnas, Polair, pihak Kapal Boat Caspla, termasuk satgas siaga bencana di beberapa desa.

"Tim sudah bergerak melakukan pencarian sejak Kamis pagi. Kami dari BPBD Klungkung melakukan pencarian sepanjang garis Pantai Kusamba. Sementara tim lainnya telah bergerak melakukan pencarian dari Nusa Penida menyusur Pantai Kusamba, Masceti, Sanur, sampai Nusa Dua. Hal ini karena kami melihat arah angin ke barat," ujar Kalak BPBD Klungkung, I Putu Widiada, saat ditemui di Pelabuhan Pesinggahan, Kamis (9/6/2016).

Selain beberapa kerabat korban, Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta, Kapolsek Dawan AKP Ketut Suwastika, dan Camat Dawan AA Widana Putra juga tampak hadir di Pelabuhan Pesinggahan untuk memantau proses pencarian korban.

Siang hari sekitar pukul 13.00 Wita, pencarian terhadap Sukaseni sempat dihentikan untuk sementara waktu karena kondisi gelombang yang mengganas.

Pencarian ditunda hingga kondisi normal. Tapi, hingga pukul 18.00 Wita, Sukaseni belum berhasil ditemukan.

Anak bungsu Sukaseni, Gusti Ngurah Agung Wahyudi Wijaya (21), sangat berharap ibunya segera ditemukan.

Mahasiswa semester VI Teknik Arsitektur Universitas Udayana ini mengaku perasaannya sangat kalut semenjak mendengar ibunya terjatuh di laut dan hingga kini belum ditemukan oleh Tim SAR.

“Perasaan saya tidak tenang sedari kemarin. Gelisah dan cemas. Saya nggak bergairah melakukan apapun sekarang. Bahkan untuk persiapan ujian semester yang tinggal beberapa hari lagi juga saya tidak bisa konsentrasi dan fokus belajar. Saya terus memikirkan apa ibu saya selamat di sana,” lirihnya saat ditemui di rumahnya di Jl Tukad Banyu Poh, Panjer, kemarin siang.

Wahyudi mengatakan, sebelum ibundanya berangkat ke Nusa Penida untuk tangkil ke Pura Goa Giri Putri, dirinya sempat melarang.

Sukaseni sempat meragu untuk berangkat.

Namun, pada akhirnya di detik-detik akhir, Sukaseni memutuskan tetap berangkat bersama suami beserta kerabatnya.

Adapun suami Sukaseni, I Gusti Made Murdika, mengaku sejak Rabu (8/6/2016) malam, ia bersama ketiga anaknya berserta keluarga besar tiada henti-hentinya memanjatkan doa kepada Ida Shang Hyang Widhi Wasa.

Kini ia dengan keluarga besar hanya bisa memasrahkan diri serta menantikan kabar pencarian dari Tim SAR.

"Berharap yang terbaik saja. Sekarang keluarga hanya di rumah menunggu kabar pencarian," ucapnya.

"Belum dapat kabar dari Klungkung. Sekarang masih khawatir sama cemas, apa istri saya selamat," imbuhnya.

Menurut Murdika, ia bersama keluarga besar mendatangi jero balian di Intaran, Sanur, pada Kamis pagi.

Tujuannya untuk memohon petunjuk terkait keberadaan sang istri.

"Kata jero baliannya istri saya masih hidup terombang-ambing dan tersangkut di karang dekat pesisir. Hanya petunjuknya belum jelas tepatnya pesisir sebelah mana. Saya sama keluarga besar berharap istri saya segera ditemukan," ujar Murdika.

Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi menjelaskan, pihaknya saat ini fokus dalam upaya pencarian Sukaseni.

Namun, pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda kapal terkait dengan insiden ini.

" Nahkoda atau kapten kapal sudah kita mintai keterangan dengan kapasitasnya sebagai saksi terkait insiden jatuhnya penumpang dari kapal boat. Tapi saat ini kita belum bisa kasi kesimpulan seperti apa, smeua masih kita dalami," ujar Arendra saat ditemui di Polres Klungkung, kemarin.

Tidak menutup kemungkinan dalam kejadian ini adanya unsur kelalaian ataupun mengabaikan SOP.

Oleh sebab itu kasus ini masih didalami oleh reskrim, Polsek Nusa Penida, dan Polair.

Mencekam, Ini Detik-detik Gusti Ayu Jatuh dari Kapal yang Miring 90 Derajat

DENPASAR - Ekspresi resah dan gelisah jelas teraut dari wajah I Gusti Ketut Kertiasa (45) ketika berada di Pelabuhan Pesinggahan, Klungkung, Bali, Kamis (9/6/2016).

Kertiasa terus mondar-mandir di sekitar pantai sembari memandangi gelombang laut di Pantai Pesinggahan yang ketika itu tampak tinggi.

Di tengah kecemasannya menantikan kabar pencarian kakak iparnya, Ni Gusti Ayu Sukaseni (57), ia bercerita detik-detik kapal boat Caspala 3 dihantam ombak besar hingga menyebabkan Sukaseni terjatuh di tengah laut.

Kapal boat Caspla 3 yang ditumpangi Kertiasa dan Sukaseni mendapat hantaman ombak besar dalam perjalanan dari Pelabuhan Buyuk, Nusa Penida, menuju Pelabuhan Pesinggahan, Klungkung, Rabu (8/6/2016).

Sehari sebelumnya mereka tangkil ke Pura Dalem Ped.

"Kita semua syok dengan kejadian kapal boat nyaris terbalik di tengah lautan. Saya kira saya sudah mati karena peristiwa tersebut," ujar Kertiasa saat ditemui di Pelabuhan Pesinggahan, kemarin.

Kertiasa menceritakan, ia dan tujuh anggota keluarganya tangkil ke Pura Dalem Ped hari Selasa (7/6/2016).

Keluarga tersebut setiap tahun rutin tangkil karena Sukaseni dipercaya ngiring Ida Betara Dalem Ped.

Mereka sempat mekemit semalam di Pura Dalem Ped dan memutuskan untuk balik ke Pelabuhan Pesinggahan, Rabu sore sekitar pukul 15.40 Wita.

"Kita sekeluarga yang jumlahnya 7 orang dari Pelabuhan Buyuk Nusa Penida, naik Kapal Caspla 3. Kira-kira saat itu ada 35 penumpang di kapal tersebut," ujar Kertiyasa yang ketika itu masih menggenakan pakaian adat.

Saat akan bertolak menuju Pelabuhan Pesinggahan, Sukaseni duduk di posisi belakang, tepatnya di sisi kanan kapal.

Meskipun kondisi gelombang kurang bersahabat, saat akan berangkat petugas kapal yang total berjumlah 4 orang, sama sekali tidak menjelaskan mengenai standar keselamatan penumpang seperti menggunakan jaket pelampung (life jacket) dan sebagainya.

Sekitar 10 menit bertolak dari Pelabuhan Buyuk, Kapal Caspla 3 yang mereka tumpangi dihadapkan pada gelombang tinggi sekitar lima meter. Mengetahui hal tersebut, keluarga Sukaseni sempat menghaturkan pekelem ke laut untuk memohon keselamatan.

Namun, sekitar dua menit setelah menghaturkan pekelem, kejadian yang tidak terduga terjadi.

Kapal Boat Caspla III yang dinahkodai kapten kapal bernama I Kadek Agus Adi Rada Kresna dihantam gelombang setinggi lima meter.

Kapten kapal pun terus memacu Boat Caspla 3 dengan kecepatan tinggi hingga kapal terombang-ambing.

Bahkan, kapal penumpang tersebut sudah sempat miring sekira 90 derajat, hingga kapal kemasukan air dan nyaris tenggelam.

"Saat itu situasi mencekam! Sudah tahu gelombang tinggi, kapten kapal terus ngebut hingga kami terombang-ambing. Kapal lalu miring 90 derajat dan nyaris tenggelam.

Semua penumpang histeris dan menangis, kami berdoa dan saling berpegangan tangan tanpa sedikit pun pelindung di tubuh kami, dan tidak ada imbauan dari ABK terkait apa yang harus kami lakukan dalam situasi seperti itu.

Beberapa saat kemudian, kapal kembali di posisi normal," ungkap Kertiasa.

Dalam situasi kepanikan, para penumpang baru menyadari jika saat kejadian tersebut, seorang penumpang yakni Sukaseni terjatuh ke laut saat kapal nyaris terbalik.

Namun ironisnya, ABK kapal yang berjumlah tiga orang maupun kapten kapal hanya diam.

Tidak ada yang berusaha menolong Sukaseni sesaat setelah terjatuh dan hilang.

Kapal Caspla 3 hanya bisa putar setir untuk kembali ke Pelabuhan Buyuk, Nusa Penida, sesuai permintaan penumpang.

Barulah setelah itu mereka mencari Sukaseni yang terjatuh dan hilang di lautan lepas.

"Saya heran, ketika kejadian itu ABK kapal, maupun kapten kapal tidak ada yang berusaha memberikan penyelamatan. Ketika kapal menghadapi gelombang tinggi, kami sudah teriak dan meminta kapten kapal untuk mengurangi kecepatan tapi malah ngebut hingga kapal kami terombang-ambing. Kami juga dari awal berangkat tidak diberi petunjuk penggunaan jaket pelampung," keluh Kertiasa lagi.

Ia pun sempat mengeluhkan tidak adanya komunikasi dari pihak pengelola kapal Caspla 3, kepada pihak keluarga terkait musibah yang menimpa Sukaseni.

"Saya kecewa, sampai saat ini pihak pengelola Caspla belum ada berkomunikasi ataupun menemui kami terkait peristiwa ini. Bahkan, bapak Wakil Bupati Klungkung (Made Kasta) yang duluan sejak pagi datang menemui kami untuk memberikan support moral, itu sangat berarti bagi kami. Saya juga harap pihak kepolisan segera bertindak apakah pihak Caspla ada unsur tidak menjalankan SOP atau standar keselamatan," tegas Kertiasa.

Kerabat dan rekan-rekan kerja Sukaseni juga berdatangan silih berganti ke Pelabuhan Pesinggahan untuk memberikan support moral ke keluarga.

Mereka berharap kepala sekolah di SD N 13 Sesetan tersebut segera ditemukan.

"Kami berharap Sukaseni segera ditemukan. Bahkan, kami sampai saat ini masih menyembunyikan kejadian ini dari siswa-siswa kami agar tidak ada informasi yang simpang siur terkait peristiwa ini," jelas Wayan Suama, guru kelas V di SD 13 Sesetan.

Di mata para guru, Sukaseni merupakan kepala sekolah yang disiplin.

Ia tidak sungkan menggantikan tugas para guru yang berhalangan mengajar siswa.

"Dengan adanya musibah ini kita jadi amat kelimpungan terlebih sekarang ini tahun ajaran akan segera berakhir. Siswa-siswi akan naik kelas dan ada yang lulus. Jika ibu kepala sekolah tidak ada, siapa yang akan menandatangani rapor siswa serta surat tanda tamat belajar (STTB) mereka,” kata guru olahraga SD 13 Sesetan, AA Ngurah Putra, yang masih saudara ipar dari Sukaseni.







sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    2 hari yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Setelah Pailit, Gede Hardy Minta Doa Agar Bisa Bangkit Lagi

DENPASAR - Grup Hardys Holding milik Gede Hardy yang dinyatakan pailit pada putusan Pengadilan Niaga Surabaya di PN Surabaya per tanggal...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen