Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Jerit Tangis Pilu Dari Songan Bangli Bencana Longsor Itu

Jerit Tangis Pilu Dari Songan Bangli Bencana Longsor Itu

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 11 Februari 2017 | 8:02:00 AM

Longsor terparah menerjang kawasan Banjar Bantas, Desa Songan A, Kamis malam sekitar pukul 23.00 Wita, yang menyebabkan 7 korban tewas dan 7 korban terluka. Sementara bencana longsor serupa di Desa Awan pada saat bersamaan, menyebabkan 4 korban tewas. Sedangkan bencana longsor di Desa Sukawana, Jumat dinihari, merenggut 1 nyawa dan 2 korban terluka.
BANGLI - Jerit tangis pilu bencana longsor yang merenggut 12 korban nyawa menerjang tiga desa berbeda di kawasan pengunungan Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (9/2) malam hingga Jumat (10/2) dinihari, yakni Desa Songan A, Desa Awan, dan Desa Sukawana. Selain 12 nyawa, bencana ini juga menyebabkan 9 korban terluka.

Longsor terparah menerjang kawasan Banjar Bantas, Desa Songan A, Kamis malam sekitar pukul 23.00 Wita, yang menyebabkan 7 korban tewas dan 7 korban terluka. Sementara bencana longsor serupa di Desa Awan pada saat bersamaan, menyebabkan 4 korban tewas. Sedangkan bencana longsor di Desa Sukawana, Jumat dinihari, merenggut 1 nyawa dan 2 korban terluka.

Lima (5) korban tewas dalam bencana longsor di Desa Songan A masing-masing I Gede Sentana, 56, Ni Ketut Bunga, 54 (istri dari I Gede Sentana), Ni Kadek Dini, 12 (anak dari I Gede Sentana), Jro Balian Resmi Restiti, 34, Jro Balian Kadek Sriasih, 3 (anak dari Jro Balian Resmi), Komang Agus Putra Panti, 1 (anak dari Jro Balian Resmi), dan Ni Ketut Susun, 48.

Sedangkan 4 korban tewas dalam bencana longsor di Desa Awan masing-masing Ni Kadek Arini, 25, Ni Putu Natalia, 7 (anak dari Ni Putu Natalia), I Nyoman Budiarta, 45 (asal Desa Suter, Kecamatan Kintamani, tapi kebetulan menginap di Desa Awan), Ni Nengah Parmini, 40 (istri dari Nyoman Budiarta). Perlu dicatat, pasutri Nyoman Budiarta dan Nengah Parmini merupakan orangtua dari korban Ni Kadek Arini. Sebaliknya, korban tewas dalam bencana longsor di Desa Sukawana adalah I Made Kawi, 50.

Bencana maut di Desa Songan A terjadi karena longsornya lereng Bukit Bungbung Pegat, yang diawali hujan deras sejak Kamis petang pukul 18.00 Wita. Puncaknya, malam sekitar pukul 23.00 Wita, lereng Bukit Bungbung Pegat longsor menimpa 5 rumah di bawahnya. Selain menghancurkan 5 rumah hingga menyebabkan 7 korban tewas dan 7 orang terluka, material longsoran juga menimbun mobil, motor, dan barang-barang lainnya.

Ada pun 5 unit rumah yang ambruk diterjang longsor lereng Bukit Bungbung Pegat, Banjar Bantas, Desa Songan A, masing-maisng milik keluarga I Wayan Wirtana, keluarga I Gede Sentana, keluarga I Ketut Merta, keluarga I Gede Santa, dan keluarga I Gede Arta. Dua rumah di antaranya malah sama sekali tidak berbekas, karena hanyut, yakni milik I Gede Sentana dan I Ketut Merta.

Seluruh 7 korban tewas dalam longsor di Desa Songan ini meregang nuawa larena tertimbun material, lantaran taksempat menyelamatkan diri. Kondisi ini diperparah keadaan sekitar yang gelap gulita, lantaran listrik padam. Warga sekitar pun kesulitan menolong korban yang tertimpa longsoran.

Akibatnya, bukan hanya 7 korban tewas dalam longsor di Desa Songan A ini, namun juga terdapat 7 korban terluka. Sebagian dari mereka masih dalam satu keluarga dan kemarin dirawat di RSUD Bangli. Para korban terluka ini masing-masing I Wayan Budiana, 17, Ni Komang Rista Sari, 13, I Ketut Merta Jaya, 45, Jro Alep, 30, I Kadek Ardi Yasa, 9 (anak dari Jro Alep), I Gede Arta, 34 (suami dari Jro Alep), dan I Wayan Wirtama, 39.

Kelian Banjar Bantas, Desa Songan A, Jro Cokot, menyatakan pihaknya sempat membunyikan kulkul bulus (pukul kentongan adat pertanda situasi bahaya), untuk membangunga warga. “Kami semua panik, hingga kulkul sampai dibawa ke lokasi,” cerita Jro Cokot di lokasi bencana, Jumat kemarin.

Proses evakuasi 7 korban tewas bencana longsor di Banjar Bantas, Desa Songan ini baru berhasil dilakukan, Jumat kemarin. Pasca dievakuasi, jenazah para korban sempat dibawa ke tenda penampungan di pinggir jalan raya dekat Setra Desa Pakraman Songan. Hingga kemarin sore, jenazah korban longsor masih disemayamkan ditenda dengan ditunggu krama sekampung, sembari menunggu upacara pemakaman.

Pantauan di tenda penampungan, suasana duka menyelimuti keluarga korban dan warga sekampung. Mereka menangisi keluarganya yang telah terbujur kaku dibungkus kain kafan. I Wayan Wirtana bahkan menangis histeris, karena kehilangan istrinya, Ni Nengah Resmi Restiti alias Jro Balian Resmi serta dua anaknya: Ni Kadek Sriasih (Jro Balian Sriasih) dan Komang Agus Putra Panti.

Di sisi lain, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali dan BPBD Bangli beserta relawan, Jumat kemarin membuat penampungan sementara untuk jenazah para korban tewas longsor dan warga sekampung di dekat Setra Desa Pakraman Songan. “Itu untuk penampungan sementara, sambil menunggu dewasa ayu (hari baik) pemakaman,” ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli, I Ketut Agus Sutapa, di lokasi kemarin.

Sementara itu, bencana longsor di Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Kamis malam terjadi di Banjar Awan Merta. Dalam bencana ini, 4 orang sekeluarga yang tidur di satu rumah tewas tertimbun, yakni Ni Kadek Arini, Ni Putu Natalia (anak dari Kadek Arini), I Nyoman Budiarta (ayah dari Kadek Arini), dan Ni Nengah Parmini (ibu dari Kadek Arini).

Terungkap, pasutri Nyoman Budiarta dan Nengah Parmini yang tinggal di Desa Suter, Kecamatan Kintamani malam itu tengah mengingap di rumah anaknya, Kadek Arini, di Desa Awan. Masalahnya, Kadek Arini berada di rumah hanya bersama putri ciliknya, Putu Natalia, karena sang suami, I Gede Kembar berada di Denpasar, menunggui orangtuanya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Bencana longsor tebing yang menimpa rumah Gede Kembar ini terjadi Kamis malam, namun baru diketahuyi wargha setempat, Jumat pagi ketika mereka hendak gotong royong. Adalah Jro Mangku Wayan Jaman, kakak kandung dari Gede Kembar, yang pertama kali melihat rumah adiknya tertimbun longsor. Warga pun bantu memberi pertolongan.

Namun malang, selutruh 4 orang yang berada dalam rumah yang tertimbun longsor ini ditemukan sudah tak bernyawa. Jenazah Nengah Parmini dan suaminya, Nyoman Budiana, kemarin sudah langsung dibawa ke rumah duka di Desa Pakraman Suter, Kintamani. Sedangkan jenazah Kadek Arini dan putrinya, Putu Natalia, telah dikuburkan secara nyingid (sembunyi) dio Setra Desa Pakraman Awan, Jumat malam.

Ini untuk kedua kalinya dalam kutrun 5 tahun terakhir terjadi bencana longsor dan banjir yang merenggut banyak korban jiwa di wilayah timur Kecamatan Kintamani, Bangli. Bencana serupa sebelumnya sempat terjadi 14 Maret 2012 dinihari silam, ketika merenggut 7 korban nyawa dan belasan korban terluka.

Korban tewas kala itu tersebar di Desa Belandingan, Desa Pinggan, dan Desa Sukawana. Korban tewas di Desa Belandingan masing-masing I Wayan Tapa, 12, I Wayan Budaradnya, 25, I Wayan Dastri, 29, I Made Karbi, 36, dan I Komang Witri alias Jro Mangku Witri, 46. Sedangkan korban tewas di Desa Pinggan adalah bocah I Ketut Ari Sutapa, 5. Sementara korban tewas di Desa Sukawana kala itu adalah I Nyoman Gunawan, 47.

Begini Imbauan dan Penjelasan Wabup Bangli Terkait Bencana Tanah Longsor

BANGLI – Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta langsung terjun meninjau lokasi pengungsian korban tanah longsor di Desa Songan B, Kintamani, Bangli, Bali, Jumat (10/2/2017) siang.

Ia pun mengimbau kepada warganya agar menempati lokasi yang aman dari daerah bencana.

“Kita selaku pemerintah daerah menginginkan warganya tinggal di daerah aman yang jauh daripada bencana. Karena memang geografi kabupaten Bangli yang berbukit-bukit maka akan kami instruksikan warga agar tinggal di daerah yang aman,” tutur orang nomor dua di Kabupaten Bangli tersebut kepada media.

Ia menjelaskan jika lokasi tanah longsor tersebut merupakan perkebunan mereka bukan tempat tinggal asli mereka.

“Karena kita yakini bahwa sebenarnya yang sebagian besar ini adalah tinggalnya di daerah perkebunannya mereka sendiri. Atau di kebunnya bukan di rumah-rumah aslinya mereka di desa,” ungkap Nyoman Sedana.

Dan jika masih bersikukuh tinggal di dekat daerah rawan bencana, pihak Pemda akan melakukan pendekatan persuasif yang dilakukan semua komponen mengenai bahayanya tinggal di daerah rawan bencana untuk bisa pindah ke tempat yang aman.

Akibat bencana tanah longsor ini, sebanyak 12 orang meninggal dunia, 4 orang luka berat dan 7 rumah mengalami kerusakan.

Saat ini para korban tanah longsor tersebut menempati tenda darurat yang dibangun oleh BPBD Provinsi Bali untuk tinggal sementara.

Bantuan logistik berupa sembako dari BPBD, PMI dan instansi terkait lainnya sudah dikirimkan ke lokasi pengungsian.

Dapur umum darurat pun dibangun untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum mereka selama beberapa hari kedepan.










sumber : tribun, Nusabali
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    2 hari yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Setelah Pailit, Gede Hardy Minta Doa Agar Bisa Bangkit Lagi

DENPASAR - Grup Hardys Holding milik Gede Hardy yang dinyatakan pailit pada putusan Pengadilan Niaga Surabaya di PN Surabaya per tanggal...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen