Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , » Hewan Liar Bermunculan, Pura Besakih Mulai Ditutup, Badung Siap Membantu!

Hewan Liar Bermunculan, Pura Besakih Mulai Ditutup, Badung Siap Membantu!

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 23 September 2017 | 3:48:00 PM

Petugas dan warga pengungsian sibuk mempersiapkan makanan untuk belasan ribu pengungsi Gunung Agung di GOR Swecapura, Klungkung, Sabtu (23/9/2017) (Gbr Insert).
Badung Bantu Logistik Pengungsi

MANGUPURA - RSUD Mangusada Siap Tangani Pengungsi yang Jalani Rawat Inap. Pemerintah Kabupaten Badung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan kesiapan membantu segala kebutuhan logistik para pengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem.

"Untuk segala kebutuhan logistik dan pengerahan tim medis untuk membantu para pengungsi yang sakit kami siap membantu. Namun, saat ini kami masih menunggu koordinasi BPBD Provinsi Bali agar menjadi satu komando apa yang harus dilakukan BPBD di daerah," kata Kepala BPBD Badung Nyoman Wijaya saat dihubungi di Mangupura, Jumat.

Terkait dengan bantuan logistik apa saja yang siap diberikan Pemkab Badung kepada para pengungsi di Kabupaten Klungkung, lanjut dia, masih menunggu komando BPBD Bali.

Ia menegaskan apapun kebutuhan pengungsi Gunung Agung, Pemkab Badung siap memberikan bantuan secara optimal. "Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Pemkab Badung untuk membantu kebutuhan logistik para pengungsi yang mengungsi ke Badung nanti," katanya.

Selain itu, BPBD Badung juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait di Badung mulai dari camat, perbekel, dan bendesa adat juga ikut membantu para pengungsi yang tinggal di Badung untuk mengantisipasi dan kewaspadaaan maupun kesiapsiaaan kebencanaan.Terkait dengan kesiapsiagaan petugas medis dan obat-obatan, BPBD Badung sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, RSUD Mangusada, PMI dan Dinas Perhubungan di daerah itu agar siap mengerahkan petugasnya untuk membantu para pengungsi yang tinggal di Klungkung dan sekitarnya.

Berapapun jumlah petugas medis (dokter dan perawat) yang dibutuhkan untuk membantu pengungsi yang mengalami masalah kesehatan di tempat pengungsian, Pemkab Badung sudah siap mengerahkan puluhan personelnya. "Apabila kembali terjadi peningkatan status Gunung Agung dengan mengeluarkan letusan atau abu vulkanik maka kami sudah menyiapkan 25 kotak masker, obat-obatan, dan kebutuhan P3K dari RSUD Mangusada," ujarnya.

Wijata menegaskan RSUD Mangusada juga sudah siap membantu menyiapkan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan apabila ada pengungsi yang memerlukan rawat inap di rumah sakit. "Kami di jajaran Pemkab Badung sudah siap mengantisipasi hal ini dan mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semua pihak," ujarnya. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat di Pulau Dewata agar tidak mudah percaya dengan informasi bohong (hoax) tentang letusan Gunung Agung dan sebisa mungkin mencari informasi di webside BPBD Badung.

BPBD Badung pada Rabu (20/9) sudah menyiagakan dua mobil patroli, empat tenda besar yang dipasang di Desa Ulakan dan mengerahkan 10 personel BPBD di Kabupaten Karangasem. Selain itu, pada Kamis (21/9), pihaknya kembali diminta mengerahkan 18 personel BPBD untuk membantu pemasangan tenda pengungsi di Kabupaten Klungkung.

AWAS, Gunung Agung Tertutup Awan Tebal dan Turun Rintik Hujan, Binatang Turun ke Lereng Gunung

AMLAPURA - Tanda-tanda Gunung Agung bakal meletus semakin terlihat.

Puluhan binatang seperti kera dan ular sudah mulai turun gunung. Kegempaan meningkat tajam.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun tadi malam menetapkan status Gunung Agung naik dari Siaga (Level II) ke Awas (Level IV), yang merupakan tingkatan status tertinggi gunung berapi.

"Dengan ini kami sampaikan bahwa kita meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas atau Level IV. Mulai malam ini (tadi malam) status Awas pukul 20.30 Wita. Radius tadinya 6 jadi 9, yang sektoral dari 7 menjadi 12," kata Kepala PVMBG, Kasbani, di Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem, Jumat (22/9/2017) malam.

Dari pemantauan pos tadi malam, Gunung Agung tak terlihat.

Gunung tertinggi di Bali ini tertutup awan tebal dan turun rintik hujan.

"Kantung magma masih tetap tapi fluida sudah naik ke permukaan dan rentetan gempa semakin intensif, tapi masih belum tahu meletusnya kapan," tambah Kasbani.

Senada dengan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, I Gede Suantika.

Menurutnya, secara visual belum tampak kepulan abu di puncak Gunung Agung tapi kegempaan terus meningkat tajam sejak tiga hari terakhir.

"Hari ini (kemarin), meningkat tajam. Dari situ akhirnya disimpulkan kenaikan status dari Siaga ke Awas pada pukul 20.30 Wita," ungkapnya.

Rekomendasi PVMBG adalah masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 9 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 kilometer.

Di dalam radius ini tidak boleh ada wisatawan atau aktivitas masyarakat di dalamnya.

Kepala PVMBG telah melaporkan kenaikan status Awas tersebut kepada Kepala BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten di sekitar Gunung Agung untuk diambil antisipasi.

Dengan peningkatan status Awas, Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dewa Made Indra, mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas di daerah bahaya.

"Zona merah di radius 9 km plus sektoral barat daya, selatan, tenggara, timurlaut, dan utara sejauh 12 km," ujarnya.

Pada Jumat (22/9/2017) kemarin, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung terus meningkat.

Magma di dalam kawah terus naik ke permukaan.

Gempa tektonik lokal mulai dirasakan warga yang berada di kawasan rawan bencana III, II, I (KRB I). Seperti di Kecamatan Kubu, Rendang, Manggis, dan Karangasem.

Kasbani menjelaskan, gempa hampir mencapai 600 kali.

Sedangkan dalam periode pukul 00.00-12.00 Wita terjadi 58 gempa vulkanik dangkal, 318 kali gempa vulkanik dalam, dan 44 kali gempa tektonik lokal.

Amplitudo vulkanik dalam masih stagnan rata-rata 4 sampai 8 mm.

Untuk vulkanik dangkal amplitudo 3-5 MM, durasinya 10-11 detik. Gempa tektonik lokal amplitudonya 7-8 MM, durasi mengalami peningkatan drastis dari 30-47 detik menjadi 36-89 detik.

Kasbani menambahkan, magma terus naik ke permukaan. Asap kawah mulai naik ke atas, dan menutupi gunung agung.

“Sekarang masih tinggi-tingginya (gempa). Setiap hari aktivitasnya lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. Sejak ditetapkan level II (Waspada) tanggal 14 September, jumlah gempa puluhan. Saat meningkat ke Siaga, jumlah gempa naik hingga ratusan kali,” katanya.

Seperti diketahui, energi yang dihasilkan dari aktivitas magma di bawah kawah Gunung Agung cukup tinggi.

Itu bisa diprediksi dari jarak waktu letusan pada 54 tahun silam, dari tahun 1963.

Karakter Gunung Agung sangat eksplosif, berbeda dengan gunung berapi lainnya yang berada di Indonesia.

Dilihat dari frekuensi gempa serta kekuatan amplitudo, perubahannya begitu cepat dan meningkat begitu tajam.

Perubahan yang ditunjukkan Gunung Agung sangat berpotensi ke arah letusan.

"Tapi belum bisa dipastikan kapan terjadi letusan. Petugas akan terus membaca tanda-tanda dari gunung," tandas Kasbani.

Tanda dari Binatang

Sementara itu, sejumlah binatang yang selama ini hidup di kawasan puncak Gunung Agung dikabarkan sudah mulai turun ke lereng gunung.

Binatang-binatang tersebut masuk ke pemukiman warga.

Bendesa Adat Sogra, Kecamatan Selat, Jro Mangku Wayan Sukra, mengatakan binatang seperti monyet dan ular sudah mulai keluar sejak tiga hari lalu.

"Mungkin kepanasan di atas Gunung Agung,” kata Jro Mangku Sukra, Jumat (22/9/2017).

Pria yang juga Panglingsir Pura Pasar Agung, Desa Adat Sogra, ini menjelaskan, turunnya binatang dari puncak gunung merupakan tanda akan terjadi erupsi.

Biasanya antara 1-3 bulan sebelum erupsi, katanya, hewan di gunung turun dan masuk ke rumah warga.

Dikatakan, sebelum Gunung Agung erupsi tahun 1963, binatang buas di atas gunung juga keluar.

Seperti macan, ular, kera, dan binatang unik yang jarang ditemukan di pemukiman warga.

“Hewan yang turun jumlahnya masih sedikit, bisa dihitung. Kebanyakan hewan turun hingga di parkiran Pura Pasar Agung. Mungkin ini tanda-tanda gunung akan meletus. Kondisi ini tidak seperti biasanya,” aku Jro Mangku Sukra.

Untuk tanda lainnya masih belum tampak.

Seperti hujan abu yang membuat gatal dan luka jika menempel di badan.

Tanda secara niskala seperti ada bunyi baleganjur dan gamelan hingga kini belum muncul.

”Kalau gempa sudah sering terjadi. Makanya saya mengungsi,” tambah Jro Mangku.

Penyisiran Brimob

Aktivitas vulkanik Gunung Agung yang terus meningkat membuat pemerintah bergerak cepat mengosongkan daerah berbahaya seperti rekomendasi PVMBG.

Personel Brimob Polda Bali pun ikut diterjunkan ke lapangan.

Kemarin, personil Brimob Polda Bali melakukan penyisiran wilayah rawan bencana dan mengimbau warga di Desa Temukus segera mengungsi.

Desa Temukus berjarak sekitar tiga kilometer dari Gunung Agung.

Penyisiran dilakukan karena masih ada sejumlah warga yang enggan mengungsi meski gempa terus terjadi.

Kondisi ini tentunya membahayakan bagi warga di zona berbahaya.

Warga masih memilih kembali ke rumah pada siang hari dan baru ke pengungsian pada malam hari.

Hal ini dilakukan warga untuk memberi pakan ternak dan mengurusi lahan.

Adapun warga dari daerah yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) II sudah mengungsi sejak Kamis (21/9/2017) malam.

Daerah yang masuk KRB II di antaranya Desa Amerta Bhuana Kecamatan Selat, Desa Pempatan Kecamatan Rendang, Desa Tulamben Kecamatan Kubu, Desa Datah serta Desa Pidpid Kecamatan Abang.

Wayan Eka (28), pengungsi asal Banjar Dinas Abian Tihing, Desa Amerta Buana mengatakan, warga mulai ketakutan karena geteran gempa terasa hingga ke pemukiman warga di Desa Amerta Buana.

Kekuatan gempa cukup keras, dan berlangsung cukup lama.

“Untuk di Abian Tihing, warga yang ngungsi skitar 200 orang. Mereka ngungsi sekitar Posko Pengungsian di Rendang. Ada juga yang mengungsi ke Denpasar serta Klungkung ikut keluarga,” kata Eka.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemda Krangasem, Gede Waskita Sutha Dewa, membenarkan ada warga dari KRB II sudah mengungsi.

Warga yang tinggal sekitar KRB III dan KRB II masih dievakuasi oleh BPBD Karangasem, Kepolisian Resort (Polres) Karangasem, dan Kodim 1623 Karangasem.

Dari 97.017 warga yang tinggal di KRB III dan II, sebanyak 6.400 jiwa yang mengungsi.

Masing-masing di Lapangan Ulakan sekitar 221 jiwa, Buleleng 1.199 jiwa, Lapangan GOR Sweca Klungkung 549 jiwa, Sidemen 1.137 jiwa, Bebandem 1.730 jiwa, Rendang 1.564 jiwa.

“Untuk data seluruhnya masih proses rekapitulasi. Yang mengungsi baru sebagian. Masih banyak warga yang tinggal di rumah, alias tercecer. Kita akan terus lakukan pendekatan,” kata Waskita.

Adapun Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa pengungsi tersebar di 50 titik pengungsi di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Buleleng. Pengungsi di Kabupaten Karangasem terdapat 7.018 jiwa yang tersebar di 40 titik pengungsian, di Kabupaten Buleleng 1.722 jiwa pengungsi di 8 titik, dan di Kabupaten Klungkung terdapat 1.496 jiwa.

Petugas Logistik Kewalahan Siapkan Makanan untuk Ribuan Pengungsi di GOR Swecapura

SEMARAPURA - Sedari dini hari, sejumlah petugas logistik di dapur umum dibantu para pengungsi sibuk mempersiapkan makanan untuk belasan ribu pengungsi yang menempati GOR Swecapura, Klungkung, Bali.

Membludaknya pengungsi membuat para petugas logistik kewalahan mempersiapkan makanan.

Tenaga masak tambahan pun dibutuhkan untuk membantu petugas.

"Kendala kami saat ini butuh tenaga untuk membantu masak," ungkap Kepala Seksi Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinsos, Klungkung Wayan Sugata, saat ditemui pagi ini di tenda masak, GOR Swecapura.

Sedangkan logistik makanan berupa beras, makanan instan dikatakan Sugata hanya cukup untuk waktu satu minggu kedepan.

Yang kurang saat ini adalah lauk.

"Kalau beras dan makanan instan stoknya cukup untuk seminggu. Yang dibutuhkan sekarang ini lauk. Kita kekurangan lauk," ujarnya.

Pihaknya menjelaskan, untuk makanan para petugas memasak 24 jam penuh.

Sedangkan untuk jumlah makanan yang harus disiapkan, Sugata memperkirakan ribuan nasi bungkus.

"Kapasitas masak untuk jumlah pengungsi belum bisa kami tentukan karena terus dibanjiri pengungsi yang berdatangan, untuk data ada di BPBD. Kemarin kami masak untuk 1750 sampai 2 ribu nasi bungkus," terang Sugata.

AWAS Gunung Agung, Mulai Hari Ini Pura Besakih Ditutup Bagi Wisatawan

KARANGASEM - Pura Besakih ditutup bagi wisatawan.

Hal ini diberlakukan setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas pada Jumat (22/9/2017).

Pura Besakih sendiri berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dengan radius kurang dari 6 km dari puncak gunung Agung.

"Melihat perkembangan sebenarnya radius itu wisatawan tidak boleh masuk, penduduk saja tidak boleh apalagi wisatawan," kata Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa, Jumat (22/7/2017) malam.

Dengan dinaikannya status gunung Agung menjadi awas maka radius warga, wisatawan atau pendaki dihimbau tidak beraktifitas pada radius 9 km ditambah perluasan sektoral ke arah utara, tenggara dan selatan-baratdaya sejauh 12 km.

Khusus untuk Pura Besakih, penutupan sepenuhnya akan diberlakukan pada Sabtu (23/9/2017) ini.

"Mulai besok (Sabtu) sudah tidak boleh (ada wisatawan)," kata Arta Dipa.

Mengenai persembahyangan, hal itu bisa dilakukan warga di pengungsian sampai kondisi kembali normal.

"Untuk persembahyangan sesungguhnya bisa dilakukan di pengungsian," kata Arta Dipa.

Hingga Siang Ini Beberapa Kali Gempa Guncang Bali, Berpusat di Karangasem, Terasa Sampai Denpasar

Hingga siang ini sudah terjadi beberapa gempa bumi di Bali.

Getaran gempa terasa di beberapa wilayah seperti Denpasar dan Gianyar.

Gempa terakhir dirasakan sekitar pukul 11.00 WITA.

Karyawan gedung perkantoran di Gianyar pun merasakan adanya guncangan tersebut.

“Ada gempa lagi, televisi bergerak-gerak,” ucap Imam, seorang karyawan di Perkantoran ber lantai 4 di Gianyar, Bali, Sabtu (23/9/2017).

Gempa bumi sudah terasa sejak beberapa hari terakhir.

Pusatnya pun sama yakni di Karangasem, Bali, kabupaten yang paling dekat dengan Gunung Agung yang saat ini statusnya berada di level tertinggi yaitu AWAS .

Adapun informasi resmi yang telah diterima dari Pusdalops BPBD Provinsi Bali menyebutkan bahwa gempa bumi terjadi pukul 10:12:55 WIB.

Kekuatan gempa sebesar 3,7 Skala Ritcher dengan lokasi di 8.30 LS - 115.51 BT (9 km BaratLaut KARANGASEM-BALI), dengan kedalaman 6 KM.

Sebelumnya rentetan gempa yang dirasakan sampai keluar Karangasem juga sudah terjadi beberapa kali seperti dilansir dari akun @infogempaa.












sumber : tribun, nusabali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

PLN Bisa Berikan Bukti SHM Lahan,Tembok Gardupun Dibongkar

Pintu gerbang Gardu PLN Jalan Imam Bonjol Denpasar sudah bisa dilewati, Minggu (15/10) DENPASAR - Pihak PLN dibantu petugas kepolisi...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen