Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Pengungsi Capai 75.673 Jiwa, Ini Penyebab Jeda Erupsi Gunung Agung Cukup Lama

Pengungsi Capai 75.673 Jiwa, Ini Penyebab Jeda Erupsi Gunung Agung Cukup Lama

Written By Dre@ming Post on Rabu, 27 September 2017 | 7:52:00 AM

Gambaran puncak Gunung Agung berdasarkan citra satelit earthexplorer. (bawah)
BNPB: Gejala Erupsi Gunung Agung Mirip Saat Letusan Dahsyat 54 Tahun Silam

JAKARTA- Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa penduduk di sekitar Gunung Agung, Karangasem, Bali merasakan gejala erupsi yang mirip dengan letusan dahsyat 54 tahun silam, tepatnya pada 1963.

"Berdasarkan pengalaman yang mengalami letusan tahun 1963, mereka mengatakan apa yang mereka rasakan saat ini hampir setiap hari terjadi gempa bumi itu hampir mirip dengan ketika tahun 1963, ketika Gunung Agung belum meletus," kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Karena itu, masyarakat yang tinggal tak jauh dari kawasan gunung tersebut sudah meningkatkan kewaspadaannya demi menghindari bencana alam yang sama.

"Jadi dari tingkat kesiapsiagaan masyarakat pun meningkat," ucap Sutopo.

Setelah level kewaspadaan Gunung Agung dinaikkan menjadi awas, aktivitas erupsi Gunung Agung terus meninggi. Bahkan, Sutopo menyataka bahwa Gunung Agung masuk fase kritis.

Terjadi gempa kecil yang frekuensinya rata-rata 500 kali dalam sehari.

"Meski sudah level awas, Gunung Agung belum tentu meletus. Kapan secara pasti Gunung Agung akan meletus tidak tahu. Tak ada instrumen yang bisa memastikan kapan gunung meletus. Tapi berdasarkan pengamatan potensinya meletus tinggi," kata Sutopo.

Ia pun bercerita, pada 1963-1964 silam Gunung Agung pernah meletus hampir setahun lamanya.

Ketinggian letusannya mencapai 20 kilometer yang memuntahkan air sulfat dan membumbung tinggi ke angkasa.

Akibat letusan tersebut, kurang lebih 1.549 orang meninggal dunia, 1.700 rumah rusak dan 225.000 kehilangan mata pencaharian, serta 100.000 mengungsi.

"Letusannya ekslusif. Temperatur bumi turun akibat letusan Gunung Agung itu. Dampaknya sangat besar dan mematikan," kata dia.

Cegah terulang

Demi mencegah korban jiwa yang sama, BNPB terus melakukan upaya evakuasi para penduduk yang tinggal di dekat kawasan rawan bencana (KRB), terutama yang sudah dipetakan pihaknya yakni 9-12 kilometer dari Gunung Agung.

Tak cuma itu, sistem peringatan dini dan alat pemantau yang menggunakan satelit juga digunakan untuk meminimalisir korban jatuh yang sama.

Jumlah Pengungsi Gunung Agung Telah Mencapai 75.673 Jiwa

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah pengungsi Gunung Agung di Bali terus bertambah.

Sutopo menjelaskan, hingga Selasa (26/9/2017) pukul 12.00 Wita, jumlah pengungsi yang tercatat di Pusdalops BPBD Bali mencapai 75.673 jiwa. Pengungsi ini tersebar di 377 titik pengungsian di 9 kabupaten/kota di Bali.

"Diperkirakan data jumlah pengungsi masih bertambah karena pendataan masih terus dilakukan," ujar Sutopo.

Berdasarkan sebaran pengungsi di kabupaten/kota, sebanyak 756 pengungsi berada di 9 titik pengungsian di Kabupaten Badung.

Lalu Kabupaten Bangli 29 titik (4.890 jiwa), Kabupaten Buleleng 24 titik (8.518 jiwa), dan Kota Denpasar 27 titik (2.539 jiwa).

Kemudian di Kabupaten Gianyar 12 titik (540 jiwa), Jembrana 4 titik (82 jiwa), Kabupaten Karangasem 93 titik (37.812 jiwa), Kabupaten Klungkung 162 titik (19.456 jiwa), dan Kabupaten Tabanan 17 titik (1.080 jiwa).

Jumlah pengungsi ini, sambung Sutopo, lebih besar dibanding penduduk yang tinggal dalam radius berbahaya. PVMBG merekomendasikan warga yang tinggal dalam radius 9 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung harus mengungsi.

Selain itu, warga yang tinggal 12 kilometer di sektor utara-timur laut dan 12 kilometer di sektor tenggara-selatan-barat daya juga harus mengungsi.

"Memang sulit menentukan jumlah penduduk secara pasti. Sebab data penduduk menggunakan basis administrasi desa. Sedangkan data radius menggunakan batas daerah berbahaya oleh letusan Gunung Agung," tutur Sutopo.

Sutopo mengatakan, wilayah desa terpotong oleh garis radius berbahaya. Karenanya tidak mudah memastikan jumlah penduduk.

Akhirnya disepakati menggunakan pendekatan. Dari pendekatan itu, jumlah penduduk yang harus dievakuasi diperkirakan mencapai 62.000 orang.

"Batas radius berbahaya itu mudah terlihat di peta. Di lapangan tidak nampak. Di lapangan masyarakat tidak tahu mereka tinggal di dalam radius berapa. Inilah yang menyebabkan masyarakat yang tinggal di luar garis radius berbahaya pun ikut mengungsi," tambahnya.

Apalagi saat status Gunung Agung dinaikkan menjadi Awas (Level IV). Ribuan masyarakat mengungsi pada malam hari sehingga masyarakat yang tinggal di desa di luar radius berbahaya pun ikut mengungsi.

Ini adalah hal yang wajar saat bencana. Saat letusan Gunung Merapi tahun 2010, pengungsi mencapai lebih dari 500.000 jiwa ketika radius berbahaya dinaikkan dari 15 kilometer menjadi 20 kilometer.

Kondisi Terkini Gunung Agung, Asap Tebal Menyembul di Puncak Hingga Ratusan Meter

AMLAPURA - Gunung Agung kembali menunjukkan aktifitasnya, Selasa (26/9/2017) petang.

Gunung terbesar di Bali ini kembali mengeluarkan asap putih.

Namun kali ini asap yang menyembul dari puncak Gunung Agung lebih tebal dari sebelumnya.

Kepala PVMBG Kementrian ESDM, Kasbani mengatakan, dari beberapa laporan pantuan asap putih memang terlihat menyembul.

Sembulan ketinggian asap pun mencapai 200 meter dari puncak Gunung Agung.

"Itu uap air dari asal solfatara. Menyembul ketinggian 200 meter. Namun dibanding sebelumnya, asap yang sekarang lebih tebal," jelasnya.

Terpantau di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang Karangasem, sembulan asap baru terlihat saat awan mendung serta kabut yang menyelimuti puncak gunung menghilang.

Sebelumnya, pada Minggu (24/9/2017) pagi, kepulan asap sulfatara juga menyembul dari Gunung Agung.

Namun kepulan asap yang dikeluarkan tidak terlalu tebal.

Saat itu, Kabid Mitigasi Gunungapi PVMBG, I Gede Suantika mengatakan, asap tipis mulai terpantau sejak pukul 06.00 Wita.

"Jadi kondisi terakhir pukul 06.00 Wita secara visual terlihat ada kepulan asap tipis mencapai ketinggian 200 meter dari puncak Gunung Agung. Kepulan asap itu dilaporkan juga dari Rendang dan dari utara ada laporan," jelasnya ditemui di Pos Pengamatan PVMBG, Rendang.

Munculnya asap tipis, dijelaskan Suantika, karena asap solfara ini sudah ada sebelum kenaikan status dari normal ke waspada.

Pantauan Gunung Agung Selasa (26/9/2017) Siang

Aktifitas kegempaan Gunung Agung, Selasa (26/9/2017) siang mengalami fluktuatif dan cenderung mengarah tren penurunan.

Meskipun mengarah ke tren penurunan, Kepala PVMBG, Kasbani mengatakan tren penurunan sewaktu waktu bisa berubah ke arah peningkatan.

"Data kegempaan untuk saat ini trennya menurun tapi kan ini bisa berubah. Tiba-tiba meningkat, seperti yang hari-hari kemarin," terangnya ditemui di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Selasa (26/9/2017).

Dari data kegempaan PVMBG hari ini, tercatat, periode 00.00-06.00 telah terjadi gempa vulkanik dalam 86 kali, vulkanik dangkal 74 kali, dan gempa tektonik lokal terjadi sebanyak 5 kali, dengan sekali gempa terasa skala III MMI.

Dibandingkan sehari sebelumnya dengan periode yang sama, terjadi gempa vulkanik dalam 125 kali, vulkanik dangkal 102 kali.

Sedangkan gempa tektonik lokal terjadi sebanyak 14 kali, dan 2 kali gempa terasa dengan skala III MMI.

Sementara periode 06.00-12.00 telah terjadi gempa vulkanik dalam 72 kali, vulkanik dangkal 73 kali, dan gempa tektonik lokal terjadi sebanyak 7 kali, dengan dua kali gempa terasa skala III MMI.

Sehari sebelumnya dengan periode yang sama, terjadi gempa vulkanik dalam 143 kali, vulkanik dangkal 87 kali. Sedangkan gempa tektonik lokal terjadi sebanyak 24 kali, dan 5 kali gempa terasa dengan skala III MMI.

Alat Canggih dari Amerika Ini Diturunkan Untuk Pantau Aktifitas Gunung Agung

AMLAPURA - Sejak melakukan pemantauan aktifitas Gunungapi Agung, PVMBG Kementrian ESDM, Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Karangasem menggandeng lembaga geologi dari Amerika Serikat.

Adalah United States Geologycal Survey (USGS) lembaga yang diajak oleh PVMBG bekerjasama dalam melakukan pemantauan aktifitas Gunung terbesar di Bali ini.

Hal ini diungkapkan Kabid Mitigasi Gunungapi Kementrian ESDM, I Gede Suantika.

Dikatakannya, dalam melakukan pemantauan gunungapi diperlukan alat canggih, dan belum terpenuhi dalam melakukan pemantauan.

"Memantau gunungapi banyak peralatan modern yang canggih. Semua berbasis komputer. Kadang-kadang kami tidak bisa memenuhi semua itu," ujarnya.

"Kemudian ada dari negara lain bekerjasama dengan kami. Mereka memberi alat, kita download, kita prosesing bersama. Sharing data," imbuh Suantika.

Bentuk kerjasama dalam pemantauan gunungapi agung, USGS memasang GPS, yang telah terpasang lama.

"Mereka sudah lama memasang alatnya. Tapi transmisinya saja yang rusak. Tapi masih ada instrumen lain yang bisa digunakan," terang Suantika.

Jika Gunung Agung Meletus November hingga Januari, Abu Vulkanis akan Mengarah ke NTB dan NTT

Aktivitas kegempaan vulkanik dangkal dan dalam masih terjadi hingga saat ini.

Gempa terus dirasakan sampai ke Pos Pengamatan.

Kawah telah mengeluarkan uap air menandakan adanya pergerakan magma ke atas.

Asap pun mulai terlihat di puncak Gunung Agung.

Gejala-gejala tersebut merupakan karakteristik khas Gunung Agung sebelum terjadinya erupsi.

Potensi akan terjadinya letusan Gunung Agung pun sangat tinggi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani mengatakan dapat dipastikan akan meletus jika telah muncul gempa tremor yaitu gempa permukaan berskala kecil yang terjadi secara terus-menerus.

Sampai saat ini, seismograf memang belum mendeteksi adanya gempa tremor.

Walau demikian, pergerakan magma terus mendekati permukaan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebut Gunung Agung telah memasuki fase kritis dan peluang terjadinya letusan sangat besar.

Hal ini ditandai dengan banyaknya gempa vulkanik yang terjadi dalam sehari.

“Sehari terjadi rata-rata 500 kali gempa vulkanik. Kekuatan gempa yang dirasakan rata-rata mencapai 3,5 skala richter,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di Kantor BNPB, Jakarta.

Berdasarkan pantauan di Pos Pengamatan Gunung Agung, Senin kemarin, gempa terus mengguncang wilayah Gunung Agung dan sekitarnya.

Terkait kemungkinan sebaran abu vulkanis, Sutopo juga belum bisa memastikan.

Namun, jika Gunung Agung meletus antara September dan Oktober maka bisa dipastikan sebaran abu vulkanis bisa menyebar ke daerah Barat Daya, dan Barat yakni daerah Jawa Timur.

Jika Gunung Agung meletus di antara November hingga Januari, sebaran abu vulkanis akan mengarah ke Timur yakni bisa berdampak ke kawasan NTB dan NTT.

Ini Penyebab Jeda Erupsi Gunung Agung Cukup Lama, Diprediksi Berhubungan dengan Gunung Batur

Gunung Agung di Karangasem, Bali telah ditetapkan berada dalam status “awas” karena peningkatan aktivitas.

Warga di sektor barat daya, selatan, tenggara, timur laut, dan utara seluas 12 Km telah diungsikan untuk menghindari korban jiwa.

Peningkatan aktivitias ini terjadi setelah Gunung Agung tertidur dalam waktu lebih dari setengah abad.

Erupsi terakhirnya terjadi pada 18 Februari 1963 dan berakhir hingga 27 Januari 1964.

Korban jiwa mencapai 1.148 orang dan 296 orang mengalami luka-luka.

Bila dibandingkan dengan gunung seperti Merapi, jeda erupsi gunung Agung cukup lama. Apa sebabnya?

Pakar vulkanologi Surono mengatakan, lamanya erupsi dipengaruhi oleh pengisian kantung magma.

Dalam kasus peningkatan aktivitas Gunung Agung, kantung magma yang terisi berbarengan dengan kantung magma Gunung Batur.

“Bisa terjadi kantung magma Gunung Agung itu bersamaan dengan Gunung Batur, kan berjejeran,” kata Surono saat dihubungi, Senin (25/9/2017).

Dengan kantung magma yang besar, waktu yang dibutuhkan untuk mengisinya memang cukup lama.

Saat naik, magma lantas terbelah, menjadi dua, ke Gunung Agung dan Gunung Batur.

Tak semua kantung magma gunung berapi dalam.

Menurut Surono, kondisi itu terjadi di Gunung Merapi dengan kedalam kantung magma "hanya" sekitar 1.500-2.000 meter dari puncak kawah.

Entah kantung magmanya besar atau kecil, gunung api biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk aktif lagi.

Pasalnya, dengan sifat magma Indonesia yang kental, butuh waktu untuk mengisi penuh kantung magma.

“Perlu tenaga sangat besar untuk membuat magma migrasi dari kantung yang lebih bawah ke kantung yang lebih dangkal atau yang dekat dengan kawah,” kata Surono.

Magma yang ingin keluar akan membentuk rekahan. Pergerakan magma juga ditandai dengan adanya gempa vulkanik. Pergeseran ini juga disebut dengan migrasi fluida. Selain magma, uap dan gas juga ikut bergerak.

“Atau bisa campuran dari ketiga itu. Bergerak menuju ke permukaan, menimbulkan rekahan dan terjadi gempa vulkanik,” kata Surono.

Menurut Surono, dari gempa vulkanik dapat dipelajari kandungan yang telah mendekat ke permukaan. Setiap ketiga fluida itu memiliki letusan yang berbeda.

“Misalnya kalau dominan keretakan di permukaan itu adalah uap, paling letusanya uap nantinya,” kata Surono.







sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen