Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Pemerintah Tidak Ada Mengusir Pengungsi, Pastika: “Mau Cari Untung Apanya?"

Pemerintah Tidak Ada Mengusir Pengungsi, Pastika: “Mau Cari Untung Apanya?"

Written By Dre@ming Post on Selasa, 31 Oktober 2017 | 9:04:00 AM

DENPASAR - Pastika tegaskan pemerintah tak pernah berpikir untung ketika ada permintaan kepada pengungsi untuk pulang ke rumah. 300 Pengungsi Sudah Meninggalkan Posko GOR Suwecapura Klungkun.

Pasca diturunkannya status Gunung Agung dari level IV (awas) menjadi level III (siaga), Minggu (29/10) sore, muncul isu miring bahwa ini adalah jurus ‘mengusir’ pengungsi balik ke rumahnya, supaya pemerintah tidak mengeluarkan biaya. Gubernur Bali Made Mangku Pastika pun dengan tegas membantah isu tersebut. Intinya, pemerintah tidak ada mengusir pengungsi.

Gubernur Pastika menegaskan, pemerintah tidak pernah berpikir untung ketika ada permintaan kepada pengungsi untuk pulang ke rumah. Menurut Pastika, setelah pe-nurunan status Gunung Agung ke level siaga, masih ada 6 desa yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) dengan radius 6-7,5 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Jumlah penduduk 6 desa ini lebih dari 47.000 jiwa. Mereka ini wajib bertahan di pengungsian.

Nah, di luar penduduk dari 6 desa terebut, kalau mau pulang ke rumahnya dipersilakan. “Jadi, kami tidak paksa. Jika ingin pulang, silakan pulang. Bukan berarti mengusir mereka. Mau bertahan di pengungisian, juga tidak apa-apa. Tapi jujur, pasti tidak nyaman hidup di pengungsian, tidur desak-desakan, tidak bisa kerja, dan serba terbatas aktivitas,” ujar Pastika saat ramah tamah dengan awak media di Ruang Press Room Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Niti Mandala Denpasar, Senin (30/10).

Menurut Pastika, persoalan pengungsi bukanlah masalah untung dan rugi. Sebab, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakatnya. “Mau cari untung apanya? Kok bisa buat isu seperti itu,” sesal Pastika.

Pastika menegaskan, awak media harus bisa meluruskan pemberitaan tidak benar yang beredar di masyarakat. Penurunan status Gunung Agung adalah hasil hitungan dan ke-wenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.

Untuk urusan keselamatan dari bencana, semua harus diingatkan harus mematuhi arahan PVMBG. Pasalnya, hanya lembaga PVMBG ini yang mempunyai otoritas soal langkah-langkah yang harus dilakukan terkait aktivitas vulkanik Gunung Agung.

“Ahli vulkanologi itu tidak banyak di Indonesia. Termasuk di ruangan ini (press room) juga nggak ada yang ahli. Jadi, kalau statusnya diturunin dan dinyatakan aman untuk kembali ke rumah, silakan. Bagi masyarakat yang masih termasuk dalam KRB, diminta bertahan di pengungsian, tolong dipatuhi itu,” ujar Pastika yang kemarin didampingi Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Dewa Gede Mahendra Putra.

Pastika menyebutkan, PVMBG punya perhitungan dengan pembanding juga. Misalnya, melalui perhitungan yang modern dan cermat tentang arah letusan dan waktunya. Namun, terkait aktivitas vulkanik Gunung Agung, PVMBG juga diminta menghitung ulang.

PVMGB sebelumnya memperkirakan dengan tepat meletusnya Gunung Merapi dan Gunung Kelud. Sedangkan Gunung Agung awalnya diperkirakan akan meletus 23 September 2017, tapi nyatanya meleset. “Nah, ini kan antara percaya dan tidak,” tandas mantan Kapolda Bali ini.

Pemerintah sendiri, kata Pastika, sudah menyiapkan fasilitas angkutan berupa truk dan bus bagi para pengungsi yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka tinggal koordinasi saja dengan pemerintah.

Bertepatan dengan Hari Raya Galungan pada Buda Kliwon Dungulan, Rabu (1/11) nanti, Pastika mengajak masyarakat Bali memaknainya lebih dalam lagi. Menurut Pastika, aktivitas vulkanik Gunung Agung juga harus dimaknai masyarakat Bali untuk lebih memupuk rasa persaudaraan kita. “Merayakan Galungan secara besar-besaran boleh, ngelawar yang banyak juga sah-sah saja. Tapi, ingat saudara kita yang kekurangan, bagilah sedikit, apalagi yang berada di pengungsian.”

Dan, inilah momentum yang tepat untuk lebih mempelajari agama, bukan hanya perayaan semata. “Pertanyakan pada diri sendiri dulu, sudah layakkah kita merayakan kemenangan dharma? Sudahkan kita terbebas dari penyakit AIDSS yaitu amarah, iri, dengki, sombong, dan serakah? Jika sudah, berarti sudah layak kita merayakan Galungan. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, haruslah kita kuatkan rasa persaudaraan kita,” katanya lagi.

Sementara itu, 300 pengungsi status awas Gunung Agung asal Karangasem yang mengungsi di Posko Induk GOR Swecapura Klungkung, berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya, Senin kemarin. Pengungsi sebanyak 300 jiwa yang tinggalkan posko pengungsian ini berasal dari dari Banjar Peringsari, Desa Duda Utara (Kecamatan Selat, Karangasem) dan Banjar Biaung, Desa Muncan (Kecamatan Selat, Karangasem).

Mereka sudah berkemas-kemas sejak Minggu malam, agar kesokan harinya langsung bisa pulang, Senin pagi pukul 09.00 Wita. Sebagian besar dari mereka memilih pulang dengan kendaraan pribadi berupa truk, mobil pick up terbuka, dan sepeda motor. Sedangkan sebagian kecil pengungsi lainnya, sebsanyak 30 orang, pulang dengan diangkut Bus Damri yang disiagakan pemerintah di Posko Induk Pengungsian GOR Suwecapura.

Data yang diperoleh, hingga Minggu malam pukul 19.00 Wita, jumlah pengungsi di Klungkung mencapai 17.850 jiwa. Rinciannya, dari zona KRB sebanyak 16.789 jiwa dan zona Non KRB mencapai 1.061 jiwa. Mereka menyebar di 42 desa/kelurahan dengan 118 titik posko pengungsian.

Pantauan di Posko Induk Pengungsian GOR Suwecapura, Senin kemarin, suasana haru pecah saat sejumlah pengungsi memasukkan barang-barang mereka ke atas mobil pick up. Pasalnya, mereka merasa bahagia bisa pulang ke rumah, setelah sebulan lebih berada di pengungsian. “Saya menangis karena merasa bahagia bisa kembali pulang bersama keluarga untuk rayakan Galungan di rumah,” tutur Ni Nyoman Wenten, pengungsi asal Banjar Perang Sari, Desa Duda Utara.

Pengungsi lainnya, I Wayan Nguwenten, asal Banjar Gunung Biau, Desa Muncan, juga mengaku senang bisa pulang. “Kami juga akan tetap ikuti instruksi dari pihak berwenang,” katanya. “Kami siap memfasilitasi sameton pengungsi yang ingin pulang kampung,” jelas Pelaksana BPBD Klungkung, I Putu Widiada.







sumber : nusabali
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Giri Prasta Bersyukur 10 Desa/Kelurahan dari Badung, Laoly: Sulit Capai Predikat Sadar Hukum

  MENTERI Hukum dan HAM Yasonna H Laoly meresmikan 14 Desa/Kelurahan Sadar Hukum di Bali, Rabu (8/8) MANGUPURA - Menteri Hukum dan Ha...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen