Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Selesai Agustus 2018, Nuarta: Ide GWK Diilhami Lambang Negara Indonesia

Selesai Agustus 2018, Nuarta: Ide GWK Diilhami Lambang Negara Indonesia

Written By Dre@ming Post on Kamis, 26 Oktober 2017 | 6:54:00 AM

Para pekerja menyelesaikan modul patung Garuda Wisnu Kencana di Bukit Jimbaran, Bali, Rabu (25/10/2017).
MANGUPURA – Penggarapan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Ungasan, Kuta Selatan, Badung sudah memasuki tahun ke-28.

Sejak pertama kali dirancang pada tahun 1989, pengerjaan patung setinggi 121 meter ini dikebut dua tahun terakhir.

Sempat mangkrak beberapa tahun lantaran terkendala biaya, akhirnya ada semacam angin segar.

Patung GWK akan selesai Agustus 2018.

Rabu (25/10/2017), paruh dan kepala garuda sudah dipasang.

Direktur PT Nuart Consultant, Ersat B. Amidarmo menceritakan gagasan pembangunan patung monumental ini berawal pada era gubernur Bali, Ida Bagus Oka.

Semula, Nyoman Nuarta sebagai seniman patung GWK ditawari membangun sebuah ikon pariwisata Bali berupa patung di dalam Bandara Ngurah Rai.

Tetapi, karena Sang Maestro merasa akan terbatas oleh ruang, ia mengusulkan pembangunan patung itu dilakukan di luar bandara.

Setelah mencari lahan, disepakatilah lokasinya di tempat sekarang yang dikenal GWK.

“Lahan ini dulunya bekas galian C, lokasinya berantakan sekali. Pak Nyoman mendapat inspirasi untuk dikembangkan. Bukit-bukit kapur itu diiris-iris, dibikin koridor-koridor dan dijadikan karya seni. Dalam istilah seni rupa disebut land art (seni lahan),” ujar Ersat di kawasan GWK, Rabu (25/10/2017).

Dijelaskan, seni lahan akan memberikan atmosfer khusus yang khas dan punya daya tarik tersendiri.

Terlebih lagi, prinsip pembangunannya juga memperhatikan perencanaan arsitektur Bali yang membuatnya kuat secara filosofis.

Hirarki ruang dan hirarki ketinggian betul-betul dipertimbangkan.

Dengan istilah lain, posisi patung GWK dirancang letaknya di utama mandala, ruang-ruang pendukungnya berada di madya mandala, dan bagian tepi atau pinggiran letaknya di nista mandala.

“Bagi Pak Nyoman (Nuarta), patung ini yang kedua kalinya berskala besar, pertama monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya yang diresmikan tahun 1995,” imbuhnya.

Mengingat tingginya patung, kata dia, pembangunannya tidak menggunakan perancah (scaffolding).

Sempat mendapat tawaran menggunakan perancah khusus dari Inggris, tetapi biayanya lebih mahal dari harga patungnya.

Akhirnya, pengerjaan patung dilakukan tanpa menggunakan perancah, melainkan dengan menyusun kulit patung dari dalam struktur.

Jadi, strukturnya dikerjakan terlebih dahulu sehingga kulit patung bisa dipasang dari dalam.

“Memang ada bercak kotor pada sambungan-sambungan (las), tetapi nanti akan dibersihkan. Alam akan memelihara patung itu, seperti bangunan yang dibuat dari tembaga, akibat oksidasi membuat warnanya kehijau-hijauan,” imbuh Ersat.

Sementara itu, sang maestro patung, Nyoman Nuarta mengaku saat ini dirinya akan lebih sering berada di Bali.

Ia mengungkapkan, beberapa kendala yang dihadapi timnya dalam pembangunan patung GWK antara lain terkait cuaca dan detail patung yang agak rumit.

Selain itu, tower crane yang digunakan hanya bisa mengangkat maksimal 5 ton modul (kulit patung).

Padahal, bulu garuda saja beratnya mencapai 22 ton.

Oleh karenanya, lempengan-lempengan tembaga atau kulit patung harus dipotong-potong dulu agar bisa dinaikkan dengan tower crane.

“Kelak, pemasangan bulu (garuda) akan sulit karena jumlahnya banyak,” ujar Nuarta.

Ia menambahkan, pembangunan patung ini bisa dipertanggungjawabkan secara science, teknologi, dan seni.

Patung yang disebut-sebut menjadi tertinggi di dunia ini sudah melalui berbagai proses untuk memastikan ketahanan patung.

Termasuk melakukan tes hancur pada kulit patung.

Berdasarkan tes tersebut, kata dia, patung akan hancur bila kecepatan angin mencapai 250km/jam.

Sementara, kecepatan angin di Bali baru pernah 70km/jam.

“Kami optimis (patung ini) kuat. Tidak bisa hanya memikirkan soal seni saja, tetapi juga standar-standar keamanan lainnya,” imbuh Nuarta.

Gaya Nuarta

Patung GWK di Bukit Ungasan, Kuta Selatan, Badung adalah patung Garuda Wisnu gaya Nuarta.

Di berbagai tempat, bisa saja ditemukan banyak patung garuda dengan gaya yang berbeda-beda.

Bagi Nyoman Nuarta, ide pembuatan patung GWK salah satunya diilhami oleh lambang negara Indonesia yang juga burung garuda.

Ia kemudian mendapat inspirasi dari dongeng mitologi Hindu tentang kesetiaan sang garuda terhadap Dewa Wisnu yang menungganginya.

“Dalam dongeng, Garuda memikul Wisnu sebagai ucapan terima kasih karena sudah ditolong untuk membebaskan ibunya yang tersandera. Ia berjanji untuk selalu memikul Wisnu. Mudah-mudahan saya juga bisa memegang janji untuk menyelesaikan patung ini,” ujar Nuarta.






sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    6 bulan yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Menang Telak Di Lembaga Survey, KBS-Ace Ingin Terapkan PPNSB Badung Di Bali

KBS-ACE saat Simakrama di Kampial - "Program dan kebijakan yang dilaksanakan Pak Giri Prasta sangat memihak kepentingan serta kebutu...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen