Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Sekitar 253 Orang Ikut Ngaturang Pakelem Di Puncak GA

Sekitar 253 Orang Ikut Ngaturang Pakelem Di Puncak GA

Written By Dre@ming Post on Jumat, 03 November 2017 | 10:21:00 AM

Suasana sekitar Puncak Gunung Agung dan Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kamis (2/11) kemarin. Krama yang naik ke puncak gunung nampak mengelar upacara sekitar Pura Pasar Agung, pasca ngaturan pekelem.
Ratusan Krama Lakukan Ngaturan Pekelem di Kawah Gunung Agung

AMLAPURA - Ratusan Umat Hindu dari berbagai daerah di Bali mekemit di Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Rabu (1/11/2017) sekitar pukul 22.00 wita.

Mereka datang untuk mengelar upacara ngaturan pekelem di Puncak Gunung Agung (GA).

Koordinator upacara, I Wayan Bawa mengaku, kegiatan ngaturan pekelem mulai digelar sekitar pukul 01.00 wita, Kamis (2/11/2017).

Sekitar 253 orang ikut serta mendaki gunung ketinggian 3.142 MDPL, dan membawa sesajen seperti kerbau, kambing, monyet, dan ayam.

Selama mendaki, krama tak ada yang merasa khawatir dan takut.

Mereka tak gentar walaupun status Gunung Agung masih berada di level III (siaga).

Semua krama menyatakan berani demi ngaturan ngayah kepada yang berstana di puncak gunung tertinggi di Bali itu.

"Semua berani naik ke atas. Nggak ada yang khawatir, apalagi takut. Yang naik ke atas perempuan, laki. Syukur prosesi upacaranya berjalan lancar," kata I Wayan Bawa saat dihubungi, Kamis (2/11/2017).

Ditambahkan, krama sampai di Puncak Gunung Agung sekitar pukul 06.00 wita.

Saat itu juga proses persembahyangan dimulai.

Hewan yang dibawa, seperti kerbau, ayam, angsa, dan sesajen dibuang ke kawah Gunung Agung sesuai keyakinan sebagian krama.

"Sebelum ngaturan di puncak, krama juga ngaturan pekelem di tengah alas. Dengn cara melepas kebo putih, menjangan, dan kera hitam (petu). Krama sampai di bawah sekitar pukul 11.00 wita. Syukur warga selamat semua, tak ada korban atau kram," imbuhnya.

Pria yang juga Perbekel Desa Peringsari, Kecamatan Selat, upacara ngaturan pekelem digelar secara perorangan bukan atas nama pemerintah atau instansi lain.

Ini digelar atas intruksi Dewa Beratha yang diperintah Jro Mangku Gede selaku penerima pewisik.

Kegiatan ini digelar murni untuk kebaikan Gunung Agung dan melihat kondisinya.

Krama mengelar sembahyang hingga satu jam, dipimpin langsung Jro Mangku Reta asal dari Desa Sebudi.

Saat sembahyang krama mendoakan agar kondisi Gunung Agung terus membaik.

"Upacara ini digelar murni karena ngaturan ngayah di puncak. Untuk kebaikan gunung, dan keselamatan masyarakat sekitar lereng. Seluruh krama yang naik ke atas mengaku terketuk hatinya. Kegiatan ini sempat melapor ke camat, tapi tak direspon,"akuinya.

Pelinggsir Pura Pasar Agung, Jro Mangku Wayan Sukra, menjelaskan, ngaturan pekelem murni untuk memohon keselamatan, dan terhindar dari bencana.

Seperti Erupsi Gunung Agung yang kini masih berada di status siaga (level III).

"Mungkin ada berapa kesalahan yang dibuat, sehingga krama harus mengelar seperti ini. Selain di puncak Gunung Agung, kita juga ngaturan pekelem di watu klotok, Klungkung di waktu yang sama,"akui Jro Mangku.

Jro Mangku menambahkan, sehari setelah ngaturan pekelem krama akan gelar upacara dalam rangkaian Purnama Kelima sekitar Pura Pasar Agung Sebudi.

Kemungkinn acara digelar sehari.

17 Lubang Keluarkan Asap di Kawah Gunung Agung, Ratusan Monyet Ikuti Krama ke Puncak

AMLAPURA- Koordinator upacara ngaturan pekelem, I Wayan Bawa mengatakan, kondisi di Puncak Gunung Agung sudah alami perubahan.

Dibagian utara kawah terlihat sekitar 15 lubang yang keluarkan asap solfatara.

Dibagian tengah ada 2 titik.

Ratusan monyet juga terlihat mengikuti krama yang hendak ngaturan pekelem ke puncak Gunung Agung.

Volume asap yang keluar dari lubang relatif banyak, dan berbau belerang.

Asap yang keluar membumbung tinggi hingga ketinggian ratusan meter.

Sekitar kawah hanya terdengar bunyi angin yang menyerupai desiran ombak.

Tak terasa gempa di puncak gunung.

Seperti diberitakan, ratusan umat Hindu dari berbagai daerah di Bali mekemit di Pura Pasar Agung, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Rabu (1/11/2017) sekitar pukul 22.00 wita.

Mereka datang untuk mengelar upacara ngaturan pekelem di Puncak Gunung Agung.

Koordinator upacara, I Wayan Bawa mengaku, kegiatan ngaturan pekelem mulai digelar sekitar pukul 01.00 wita, Kamis (2/11/2017).

Sekitar 253 orang ikut serta mendaki gunung ketinggian 3.142 MDPL, dan membawa sesajen seperti kerbau, kambing, monyet, dan ayam.

Mereka tak gentar walaupun status Gunung Agung masih berada di level III (siaga).

Semua krama menyatakan berani demi ngaturan ngayah kepada yang berstana di puncak gunung tertinggi di Bali itu.

"Semua berani naik ke atas. Nggak ada yang khawatir, apalagi takut. Yang naik ke atas perempuan , laki. Syukur prosesi upacaranya berjalan lancar," kata I Wayan Bawa saat dihubungi, Kamis (2/11/2017).

Ditambahkan, krama sampai di Puncak Gunung Agung sekitar pukul 06.00 wita.

Saat itu juga proses persembahyangan dimulai.

Hewan yang dibawa, seperti kerbau, ayam, angsa, dan sesajen dibuang ke kawah Gunung Agung sesuai keyakinan sebagian krama.

"Sebelum ngaturan di puncak, krama juga ngaturan pekelem di tengah alas. Dengn cara melepas kebo putih, menjangan, dan kera hitam (petu). Krama sampai di bawah sekitar pukul 11.00 wita. Syukur warga selamat semua, tak ada korban atau kram," imbuhnya.

Pria yang juga Perbekel Desa Peringsari, Kecamatan Selat , upacara ngaturan pekelem digelar secara perorangan bukan atas nama pemerintah atau instansi lain.

Ini digelar atas intruksi Dewa Beratha yang diperintah Jro Mangku Gede selaku penerima pewisik.

Kegiatan ini digelar murni untuk kebaikan Gunung Agung dan melihat kondisinya.

Krama mengelar sembahyang hingga satu jam, dipimpin langsung Jro Mangku Reta asal dari Desa Sebudi.

Saat sembahyang krama mendoakan agar kondisi Gunung Agung terus membaik.

"Upacara ini digelar murni karena ngaturan ngayah di puncak. Untuk kebaikan gunung, dan keselamatan masyarakat sekitar lereng. Seluruh krama yang naik ke atas mengaku terketuk hatinya. Kegiatan ini sempat melapor ke camat, tapi tak direspon,"akuinya.

Pelinggsir Pura Pasar Agung, Jro Mangku Wayan Sukra, menjelaskan, ngaturan pekelem murni untuk memohon keselamatan, dan terhindar dari bencana.

Seperti Erupsi Gunung Agung yang kini masih berada di status siaga (level III).

"Mungkin ada berapa kesalahan yang dibuat, sehingga krama harus mengelar seperti ini. Selain di puncak Gunung Agung, kita juga ngaturan pekelem di watu klotok, Klungkung di waktu yang sama,"akui Jro Mangku.

Jro Mangku menambahkan, sehari setelah ngaturan pekelem krama akan gelar upacara dalam rangkaian Purnama Kelima sekitar Pura Pasar Agung Sebudi.

Ritual Pakelem di Kawah Gunung Agung Yang Dilakukan Jero Mangku Ada

AMLAPURA - Kembali warga menaiki puncak Gunung Agung, namun kali ini diikuti oleh 253 orang pada Kamis (2/11/2017) pagi guna melakukan ritual pakelem.

Dimana sekira 7 orang menggelar Ritual Prani Mapiuning dipimpin oleh Jero Mangku Ada, dan Ritual digelar di kawah sisi barat sekira pukul 10.00 Wita pagi tadi.

Bersama warga lainnya Jero Mangku Ada berangkat dari Pura Pangubengan Besakih sekira pukul 04.00 Wita dan akhirnya tiba di puncak kawah Gunung Agung sisi barat sekira pukul 09.30 Wita.

Menurut Jero Mangku Ada asap belerang sebelum tiba di puncak sudah tercium menyengat sehingga ia bersama krama lainnya harus memakai masker.

Ia terakhir naik tanggal 29 kemarin dia juga naik ngaturan bakti dengan sarana bakti pejati.

Kali ini ia naik kembali ke kawah Gunung Agung karena rasa penasaran yang tinggi karena terus mendengar gaung gunung agung pada level awas dan sudah mengeluarkan asap Solfatara.

"Dibanding tanggal 29, sekarang sudah ada perubahan. Saat itu keyakinan saya tipis gunung agung bakal meletus. Tapi setelah melihat lagi tadi, memang kita harus memandang serius aktifnya gunung agung ini," ujar Jero Mangku Ada.

Jero Mangku Ada merupakan seorang Pemangku di Desa Pakraman Temukus, Desa Besakih, Rendang, Karangasem, Bali.

Simak videonya diatas yang berhasil didapat langsung dari Jero Mangku Ada dengan sedikit dipangkas dari video aslinya karena durasi yang terlalu panjang.

Asap di Puncak Gunung Agung Lebih Tebal dari Biasanya

Kekhawatiran mulai terjadi pada Kamis (2/11/2017) malam pukul 21.00 Wita saat warga sekitar Desa Besakih melihat bahwa asap di Puncak Gunung Agung lebih tebal dari biasanya.

Penampakan Gunung Agung dari Pura Kiduling Kerteg juga menebal.

Bahkan penampakan asap kali ini dianggap paling tebal dari penampakan asap sebelumnya.

Inilah yang kemudian membuat mereka kembali menuju ke pos pengungsian masing-masing.

Dua jam berselang, kabut tebal kemudian menutup gunung sehingga tak terlihat lagi.

Namun, masih tetap ada warga yang bertahan di Besakih, karena warga menganggap kepulan asap seperti itu akhir-akhir ini sering terjadi.

Dan juga status gunung sudah di level 3, turun dari level sebelumnya.

Ada dari mereka yang mengungsi ke pos pengungsian Banjar Pande Galiran (Klungkung), pos pengungsian di Banjar Besang, pos Puri Boga Bukit Jambul Pesaban Rendang (Karangasem), dan beberapa yang lain pergi mengungsi ke rumah sanak saudara yang ada di Rendang.






sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Kecuali Jalur Unud, Koster Stop Sarbagita Ganti Kereta Api

“Jalur kereta api yang kita mau bangun tidak seperti di Bandung dan Jakarta. Nanti dirancang dengan interior yang bagus untuk publik dan ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen