Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Suporter Bali United Bersiap Hitamkan Dipta di Laga Terakhir

Suporter Bali United Bersiap Hitamkan Dipta di Laga Terakhir

Written By Dre@ming Post on Jumat, 10 November 2017 | 10:44:00 AM

Semeton Bali pun bersiap menghitamkan Stadion Kapten Dipta pada laga terakhir melawan Persegres Gresik United, Minggu (12/11/2017) malam, sebagai tanda duka cita.
MANGUPURA - Masyarakat Bali, khususnya fans Bali United, tengah berduka.

Gelar juara Liga 1 Indonesia yang sudah di depan mata, tiba-tiba melayang oleh keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang menguntungkan klub Bhayangkara.

Semeton Bali pun bersiap menghitamkan Stadion Kapten Dipta pada laga terakhir melawan Persegres Gresik United, Minggu (12/11/2017) malam, sebagai tanda duka cita.

Berdasarkan kesepakatan di grup-grup media sosial, suporter Bali United akan memakai jersey Bali United warna hitam pada laga pamungkas melawan Gresik United.

Bagi yang tidak memiliki jersey hitam, dipersilakan pakai kaos atau baju hitam.

Suporter juga mengusulkan kepada manajemen Bali United untuk memakai jersey hitam menghadapi Gresik.

"Ini sebagai bukti matinya sepak bola Indonesia," tulis pengumuman yang viral di media sosial tersebut, Kamis (9/11/2017).

Sejumlah elemen suporter Bali United juga telah menyiapkan koreo sebagai bentuk protes atau sindiran kepada PSSI, yang dianggap telah menjegal langkah Serdadu Tridatu menjuarai Liga 1 Indonesia.

Bukan hanya itu, suporter juga akan merayakan kemenangan Bali United layaknya pesta juara.

"Untuk membuka mata seluruh pecinta sepak bola dunia bahwa juara harus diperoleh dengan perjuangan, bukan juang (ambil, red) poin cuma-cuma," tulisnya.

Sementara Semeton Curva Sud sudah menyiapkan aksi nyata menyambut laga puncak tersebut.

Menurut Ketua Semeton Curva Sud Dewata Ketut Anjelo Santika, sekitar 300 orang telah terdaftar dalam aksi menyikapi keputusan aneh Komdis PSSI.

"Aksi akan dilakukan sesaat sebelum kick off laga Bali United vs Persegres Gresik, 12 November mendatang," katanya, kemarin.

Mereka akan melakukan longmarch dengan spanduk protes terhadap PSSI dimulai dari simpang Buruan-Stadion Dipta hingga main gate/pintu utama Stadion Dipta.

Selanjutnya menggelar aksi damai di tengah lapangan dengan membentangkan spanduk penolakan di tengah atau tepi lapangan sebelum kick off Bali United vs Persegres.

Senator asal Bali, Gede Pasek Suardika, juga turut menyerukan agar suporter Bali menghitam Stadion Dipta. Selama ini Gede Pasek termasuk intens mengikuti perkembangan Serdadu Tridatu.

"Pastikan semua hadir di stadion dengan kaos HITAM...Beri kado PSSI yang sukses menggelapkan sportivitas untuk meraih juara...#BUjuara sejati," tulis anggota DPD ini di akun Facebook-nya, kemarin.

CEO Bali United, Yabes Tanuri, mendukung rencana suporter untuk menghitamkan Stadion Dipta sebagai isyarat masyarakat Bali berduka. Yang terpenting dilakukan secara damai dan aman.

"Kita selalu berjuang bersama. Kita manajemen berjuang sampai akhir. Pemain juga berjuang sampai akhir. Kalau fans mau pakai jersey hitam, manajemen tidak melarang. Yang penting fans tetap mendukung dengan positif," kata Yabes Tanuri, kemarin.

Yabes pun meminta, pelatih dan pemain tetap semangat dan tidak mengecewakan suporter yang telah gigih membela tim kebanggaannya.

"Karena kita ada untuk suporter," ujar Yabes, yang mengaku sangat bersedih dengan kondisi yang dialami klubnya saat ini.

Pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro, pun tidak akan melarang aksi para fans.

Seperti suporter, Widodo pun merasakan kekecewaan luar biasa dengan keputusan PSSI.

“Kami tidak bisa menahan (gejolak) para fans. Terserah kreativitas mereka untuk meluapkan rasa kecewanya. Di sosmed juga silakan dan lainnya," kata Widodo, yang menyebut timnya sebagai juara tanpa mahkota.

Berdasarkan surat PSSI No 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 tanggal 5 November 2017, Komdis PSSI memberikan sanksi kepada Mitra Kukar karena memainkan pemain mereka yang terkena hukuman kartu merah, Mohamed Sissoko, pada laga melawan Bhayangkara FC, Jumat (3/11/2017) lalu.

Sissoko sebelumnya mendapat sanksi larangan bermain di dua laga, termasuk melawan Bhayangkara dan Persiba Balikpapan pada 11 November mendatang.

Namun, pemain asal Mali itu tetap diturunkan saat menghadapi Bhayangkara.

Pihak Mitra Kukar berani menurunkan Sissoko karena namanya tidak ada dalam Nota Larangan Bermain (NLB) yang diterbitkan PT LIB jelang laga.

Komdis kemudian memutuskan pertandingan ini berakhir untuk kemenangan Bhayangkara FC dengan skor 3-0 atas Mitra Kukar.

Surat yang ditanda-tangani Ketua Komdis PSSI, Asep Edwi Firdaus, ini juga memutuskan Mitra Kukar dikenakan sanksi denda sebesar Rp 100 juta karena melanggar Pasal 55 Kode Disiplin PSSI.

Dengan keputusan ini, Bhayangkara FC mendapatkan tambahan dua poin gratis.

Sebelumnya kedua tim bermain imbang 1-1.

"Hadiah" dua poin dari Komdis PSSI membuat Bhayangkara FC naik ke puncak klasemen Liga 1 dengan 65 poin, menggeser Bali United yang juga mengoleksi 65 poin.

Poin Bhayangkara kembali bertambah tiga angka setelah mengalahkan Madura United 3-1 di Bangkalan, Rabu (8/11/2017) malam.

Tim bentukan Polri ini kini mengumpulkan poin 68 sehingga menutup langkah Bali United jadi juara setelah berjuang mati-matian mengalahkan PSM Makassar.

"Sanksi tersebut sangat mencederai sportivitas olahraga, di mana ada klub yang pemainnya sampai mempertaruhkan nyawa demi laga hidup mati akhirnya harus menerima kenyataan ada klub lain (Bhayangkara) yang mendapatkan poin gratisan tanpa pertandingan," ujar seorang fans Bali United, Dewa J Putra.

Ambil Langkah Tegas

Selain menghitamkan Stadion Dipta, suporter Bali pun meminta Ketua PSSI Edy Rahmayadi segera mengambil langkah tegas.

Edy juga harus memberi solusi yang adil dalam penyelesaian kasus Mitra Kukar dan Bhayangkara FC.

Ketua Semeton Bulldog Bali, Ketut Budi, menyatakan Edy harus segera turun tangan. Sang jenderal harus ambil tindakan secepatnya sebelum laga terakhir akhir pekan ini.

"Cari solusi terbaik. Kejadian seperti Mitra Kukar dan Bhayangkara, seharusnya Mitra Kukar yang dikurangi nilainya dan hukuman denda. Bukan memberikan tiga poin hasil WO kepada Bhayangkara," ujar Ketut Budi, kemarin.

Ia juga mempertanyakan keputusan yang dikeluarkan setelah Bali United menang atas PSM Makassar.

"Dan sejak dikeluarkan Nota Larangan Bertanding (NLB), nama Sissoko tidak ada dalam formulir itu. Kenapa juga setelah Bali United menang, baru keluar surat sanksi itu kepada Mitra Kukar," ujarnya dengan nada heran.

Nyoman Suharta, pengurus Brigaz Bali, juga meminta Edy segera ambil tindakan agar kasus ini tak melebar ke mana-mana.

"Kepercayaan masyarakat ke PSSI sudah kembali ke titik terendah. Liga seperti lelucon. Sudah saatnya Ketua Umum PSSI ambil tindakan," katanya.

Perwakilan Semeton Dewata Reborn, Putu Leonk, juga meminta Ketua Umum PSSI ambil langkah cepat.

Seandainya ia baru bertindak setelah laga pamunkas, dianggap tidak ada artinya.

"Bali United sudah sangat dirugikan dengan keputusan yang memberikan menang WO terhadap Bhayangkara, kalau menurut saya harusnya Mitra Kukar yang mendapat pengurangan nilai atau sanksinya seperti apa, jangan memberikan kemenangan kepada Bhayangkara dong. Enak ngak bertanding tapi mendapatkan poin," ujarnya dengan nada berapi-api.

Putu Leonk meminta kepada PSSI memajukan sepak bola Indonesia dengan penuh keadilan bukan settingan.

"Sampai kapan PSSI akan seperti ini, katanya PSSI revolusi mental untuk memajukan sepak bola Indonesia. Tapi apa yang terjadi, apakah ini namanya sebuah perubahan?" protesnya.








sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Kecuali Jalur Unud, Koster Stop Sarbagita Ganti Kereta Api

“Jalur kereta api yang kita mau bangun tidak seperti di Bandung dan Jakarta. Nanti dirancang dengan interior yang bagus untuk publik dan ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen