Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Bali Aman, GA Belum Cukup Umur Meletus Dahsyat

Bali Aman, GA Belum Cukup Umur Meletus Dahsyat

Written By Dre@ming Post on Rabu, 13 Desember 2017 | 11:34:00 AM

Visual Gunung Agung dari Desa Suwat, Gianyar nampak mengeluarkan abu pekat pada pada pukul 07.00 Wita, Rabu (13/12/2017) (atas). Gubernur Bali Made Mangku Pastika menerima Aliansi Masyarakat Pariwisata di Kantor Dinas Pariwisata (Disparta) Bali, Denpasar, Selasa (12/12). (atas)
Sudah Tahu Bali Aman di Luar Zona 8-10 Km dari Kawah Gunung Agung, Ternyata Ini Ketakutan Wisatawan

DENPASAR - Gubernur Bali Made Mangku Pastika bertemu dengan kelompok pelaku pariwisata di Bali yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pariwisata pada Selasa (12/12/2017).

Pertemuan itu untuk membahas langkah ke depan terkait erupsi Gunung Agung (GA).

Intinya, para pelaku pariwisata itu menginginkan status Awas (atau level IV) Gunung Agung bisa diturunkan agar usaha pariwisata bisa pulih kembali.

Country Director Agoda International Indonesia, Gede Gunawan yang mengatakan bahwa kalau status Gunung Agung tetap Level IV (Awas), maka dirinya yakin tidak akan bisa mempromosikan Bali di level internasional.

Oleh karena itu, ia berharap ada penurunan level status Gunung Agung.

“Bisa atau tidak Level IV diturunkan? Kalau masih Level IV, bagaimana bisa mempromosikan Bali. Kalau area untuk pengungsian, silakan mau level V atau level X tak apa-apa,” ujarnya dalam pertemuan yang digelar di kantor Dinas Pariwisata (Disparta) Pemprov Bali, Denpasar, Selasa (12/12/2017).

Pertemuan ini dihadiri oleh OPD (Organissi Perangkat Daerah) terkait seperti Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Bali, Kepala BPBD Bali, Kadis Perhubungan Bali, dan Kadis Kebudayaan Bali, dan Kadis Sosial Bali.

Selain itu dari komponen pelaku pariwisata hadir AMPB, GIPI, PHRI, BTB, ASITA, BVA, IHGMA, FSP Bali dan pelaku pariwisata lainnya. Hadir pula perwakilan dari ITDC Nusa Dua, maskapai penerbangan dan aplikasi pemesanan online.

Ketua Association of Indonesian Travel Agents (Asita) Bali, I Ketut Ardana mengatakan bahwa saat Gunung Agung berada di Level IV sekarang setidaknya ada 12 grup wisata yang membatalkan ke Bali pada Desember ini.

Ardana mengatakan, selama ini ia sudah menjelaskan bahwa semua wilayah di Bali aman di luar zona 8-10 Km dari kawah Gunung Agung.

Namun, ketakutan para turis adalah bandara (airport) tutup dan mereka tidak bisa kembali.

Direktur ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation), Wayan Karioka, menambahkan status dan erupsi Gunung Agung adalah persoalan teknis kegunungapian yang berdampak secara psikologis.

“Untuk menekan ketakutan para wisatawan, harus ada kebijakan memberikan jaminan bahwa kalau terjadi erupsi lagi mereka aman dan siap diberangkatkan kembali ke negara asalnya,” kata Karioka.

Dalam pertemuan itu, Gubernur Made Mangku Pastika mengungkapkan, semua pelaku pariwisata berbicara kepadanya tentang status Gunung Agung.

Padahal, bukan kewenangan gubernur untuk menentukan status aktivitas gunung.

Bahkan, tidak boleh menekan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) untuk mengubah-ubah status aktivitas gunung, karena ada keilmuan yang harus dipertanggungjawabkan oleh PVMBG.

Pastika lantas menceritakan rapat yang melibatkan PVMBG di Kementerian Koordinator (Kemenko) Kemaritiman, Jakarta, pada awal November lalu yang berlangsung panas.

Saat itu dibahas tentang kemungkinan penurunan status Gunung Agung dan pemetaan kembali kawasan rawan bencana.

“Bagaimana kerasnya rapat saat itu di Kemenko Maritim. Mengerikan, panas sekali. Saat itu dibahas kemungkinan penurunan dari status Awas ke Siaga. Dewa Indra (Kepala BPBD Bali) dan Dewa Mahendra (Karo Humas dan Protokol Pemprov Bali) hadir. Kita fight untuk meminta status turun jadi Siaga saat itu. Sebab, dengan status Awas, saya menyiapkan beras 40 ton per hari. Saat itu, dengan status Awas ada 28 desa masuk KRB yang radiusnya hingga 12 Km. Sekarang sama-sama status Awas tetapi KRB-nya jadi 8 hingga 10 Km. Perbedaan itu membuat jumlah pengungsi sudah menurun separuh. Jadi, jangan dikira kita tidak memikirkan nasib industri pariwisata. Kami juga memikirkannya agar tak terjadi PHK,” terang Pastika.

Walaupun begitu, aku Pastika, dirinya sempat mendapat pelajaran kegunungapian.

Dari sisi keilmuan, Gunung Agung tidak meletus selama 54 tahun (sejak tahun 1963).

Kalau bicara Volcanic Explosivity Index (VEI) mulai dari 0 hingga 10, letusan tahun 1963 berada di level 5 VEI.

Menurut perhitungan ilmiah, Gunung Agung saat ini belum cukup umur untuk bakal meletus dahsyat seperti 1963, bahkan sampai meletus dengan indeks 5.

Hal ini karena kondisi Gunung Agung saat ini berbeda dari tahun 1963.

Kala itu, kawahnya kecil, dan sekarang sudah 4 kali lipat besar daripada kawah tahun 1963.

“Untuk terjadi letusan yang luar biasa hampir tidak mungkin saat ini. Kawahnya makin besar, umurnya belum cukup dan gerakan magma bisa dipantau. Sumber magma itu di utara Tejakula, Buleleng, di dalam perut bumi. Pergerakan magma bisa dipantau. Itulah hebatnya teknologi di samping seismograf. Belum lagi satelit ada lima yang memantau, ditambah lagi drone dan pengamatan visual. Karena itu, saya berani mengatakan saat ini tidak seseram tahun 1963. Sekarang jalan sudah bagus, telekomunikasi canggih dan petugas siap,” paparnya.

Menurutnya, ketakutan timbul karena perasaan. Perasaan muncul karena opini dan opini dibentuk oleh media entah media cetak, online atau media sosial.

Menurut Pastika, saat inilah perlu perang propaganda, dan semua gunakan ahli TI untuk perang propaganda di dunia maya.

“Pokoknya kini penanganan terhadap aktivitas Gunung Agung sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 1963. Media juga buat seram. Kalau gak seram gak laku. Jadi, mari bermedia masing-masing. Buat media sendiri dan propaganda masing-masing. Dan kalau bicara dana taktis untuk usaha pariwisata, itu tidak ada. Kalian (pelaku pariwisata) iuran, masa gak bisa? Orang kaya semua itu pemilik hotel bintang 5. Sekarang tak ada istilah dana taktis seperti zaman Orde Baru. Jadi semua harus bergerak, termasuk pelaku pariwisata,” sindirnya.

Pastika juga menyampaikan khususnya kepada negara-negara yang mengeluarkan travel advice bahwa yang berbahaya di Gunung Agung hanya kawasan dalam status Awas di radius 8 km dari kawah Gunung Agung.

Di luar itu sudah termasuk kawasan normal .

“Ada salah paham baik di dalam negeri atau luar negeri. Status Awas hanya dalam radius 8 Km dari permukaan Gunung Agung dan hanya 22 desa terdampak. Selama ini ada yang tidak mengerti dipikir semua Bali adalah berstatus awas (Level 4),” jelasnya.

Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali Dr. Gusti Kade Sutawa menyampaikan beberapa poin untuk mendapat solusi dari pertemuan ini.

Di antaranya soal transportasi saat terjadi bencana, adanya crisis center dengan SOP yang jelas, dan bagaimana memberikan informasi yang benar ke masyarakat termasuk harapan agar event MICE yang diselenggarakan pemerintah pusat dapat diselenggarakan di Bali.

Ada Permintaan Penurunan Status Gunung Agung, PVMBG: Kami Tak Bisa Tanggapi

Dimintai tanggapannya terhadap permintaan penurunan status Gunung Agung yang mencuat dalam pertemuan antara Gubernur Bali dan para pelaku wisata di Bali, PVMBG tidak banyak berkomentar.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Barat, Kristianto, mengatakan bahwa apa yang selama ini disampaikan oleh PVMBG tentang ancaman bahaya letusan Gunung Agung hanya bersifat rekomendasi.

Rekomendasi yang diberikan sudah berdasarkan data-data dari berbagai parameter.

"Kami selalu menyampaikan informasi berdasarkan data-data yang ada. Sampai saat ini data-data menunjukkan aktivitas Gunung Agung masih tinggi," kata Kristianto di Pos Pantau Gunung Agung, Rendang, Karangasem, Selasa (12/12/2017).

Berdasarkan data seismik, alat seismograf PVMBG mencatat Gunung Agung mengeluarkan hembusan sebanyak 40 kali dalam periode pengamatan pukul 00.00-18.00 Wita kemarin.

Jumlah ini lebih banyak daripada hari sebelumnya yang hanya sebanyak 36 kali.

Namun pada periode tersebut kemarin, jumlah letusan berkurang, yakni hanya tercatat sebanyak 1 kali.

Sehari sebelumnya, Gunung Agung meletus sebanyak 3 kali.

"Jadi memang kami tidak bisa menyebut adanya peningkatan dan penurunan, karena sekarang ini kan sudah fase erupsi. Intinya aktivitas Gunung Agung masih fluktuatif," jelas Kristianto.

Jika dilihat dari data-data kegempaan, masih tercatat adanya gempa vulkanik di dalam tubuh Gunung Agung.

Selama periode 00.00-18.00 Wita kemarin, tercatat gempa vulkanik dangkal sebanyak 8 kali dan gempa vulkanik dalam sebanyak 7 kali.

"Hal ini mengindikasikan bahwa masih adanya suplai magma ke permukaan gunung," kata Kristianto.

Asap Gunung Agung Hari Ini Condong Berwarna Putih, Begini Penjelasan PVMBG

Gunung Agung masih rutin mengeluarkan asap hingga Rabu (13/12/2017) pagi.

Asap yang keluar dari kawah Sang Giri Tohlangkir hari ini condong berwarna putih.

Hal ini menandakan bahwa material yang dikeluarkan dari tubuh gunung Agung lebih banyak berupa gas, dan uap air, bukan abu.

“Tanda bahwa abu yang keluar itu sedikit, artinya lebih banyak uap airnya,” kata Kepala Bidang Mitigas Gunung Api, Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, saat diwawancara di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali.

Hasil pengamatan PVMBG terhadap aktivitas Gunung Agung selama 24 jam terakhir, gunung Agung masih rutin mengeluarkan hembusan.

Hembusan yang keluar rata-rata dengan ketinggian antara 1000, dan paling tinggi 2500 meter dari puncak gunung Agung.

Gunung Agung saat ini masih dalam fase erupsi efusif, artinya masih adanya suplai magma ke kawah gunung agung yang akhirnya menjadi lava.

“Artinya di dalam kawah dipastikan akan terbentuk kubah lava,” ungkap pria lulusan S3 di Institute Teknologi Bandung (ITB) ini kepada awak media.

PVMBG mengamati pergerakan magma menuju ke permukaan gunung Agung cenderung mengalami perlambatan sejak tanggal 30 November lalu.

Itu sebabnya, meski terdapat kubah lava, namun perlu waktu cukup lama untuk lava memenuhi kawah gunung Agung.

“Sebenarnya kalau dia (lava) tidak ada kubah lava di kawah, dia akan mengalir biasa saja. Tapi karena kubah lava ini semakin lama semakin berat jadi aliran yang tetap dari bawah itu terhambat, nah pas keluarnya itu terakumulasi dalam bentuk tekanan yang agak besar, jadi terakumulasi dalam bentuk tekanan yang agak besar menimbulkan kepulan abu,” beber pria yang pernah bertugas mengamati Gunung Anak Krakatau itu.







sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen