Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Gempa Tremor Membesar, Asap Pekat GA Hingga 2200 Meter

Gempa Tremor Membesar, Asap Pekat GA Hingga 2200 Meter

Written By Dre@ming Post on Kamis, 07 Desember 2017 | 8:59:00 PM

Gunung Agung Kamis (7/12/2017) diambil dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem, Kamis (7/12/2017) pukul 10.50 wita
Misteri Gunung Agung, Apakah akan Meletus Secara Eksplosif atau Kembali ke Fase Normal?

AMLAPURA - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam gempa tremor membesar Rabu (6/12/2017) pukul 14.40 Wita sampai pukul 17.00 Wita.

Gempa Tremor membesar ini terekam dari alat seismograf pasca terjadinya gempa tremor overscale pukul 14.46, sampai pukul 15.06.

"Gempa tremor overscale ini gempa yang melebihi kemampuan alat untuk merekam. Sedangkan tremor membesar ini tremor yang amplitudonya kecil, terus menuju ke amplitudo yang lebih besar. Jadi masih bisa direkam seismograf," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur, PVMBG, Devy Kamil Syahbana.

Menurut Devy, gempa tremor overscale menandakan masih adanya suplai magma ke permukaan.

Tremor overscale itu merupakan kali ketujuh sejak gunung yang akrab disebut Sang Giritohlangkir ini mengalami fase kritis.

Hasil pengamatan Gunung Agung pada pukul 12.00 sampai pukul 18.00, PVMBG masih merekam adanya gempa-gempa di tubuh Gunung Agung (GA).

Sebagaimana hasil pengamatan sebelumnya, gempa dengan frekuensi rendah masih mendominasi.

Selain itu, tercatat adanya hembusan dengan amplitudo 6 mm, dan 35 detik.

Gempa low frekuensi yang terekam sebanyak 12, dengan amplitudo 4, sampai 23 mm, dengan durasi 40, sampai 65 detik.

Gempa vulkanik dangkal dan tektonik lokal juga masih terekam.

PVMBG juga masih merekam gempa tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo 1, sampai 24 mm (dominan 3 mm).

Kondisi cuaca di kawasan Gunung Agung teramati mendung dan hujan dengan kilat petir yang terlihat bekali-kali.

Angin bertiup lemah ke arah barat.

Suhu udara 23-28 °C dan kelembaban udara 71-90%. Volume curah hujan tidak tercatat.

Gunung jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis dan tinggi 1000-1500 m di atas puncak kawah.

Dengan demikian, hingga saat ini Gunung Agung masih berada pada fase kritis atau masih berstatus awas (level IV).

PVMBG merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki atau pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah gunung dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya sejauh 10 km dari kawah gunung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yg paling aktual/terbaru.

Letusan VEI 5

Anomali Gunung Agung masih terjadi hingga kemarin.

Apakah Gunung Agung benar-benar meletus secara eksplosif (meledak ke atas), atau malah kembali ke fase normal? Hal ini masih menjadi misteri.

Devy mengatakan, jika dilihat dari catatan sejarah letusannya, Gunung Agung adalah satu di antara tujuh gunung api di dunia yang sempat meletus dengan skala VEI 5 secara berturut-turut. Apa itu VEI?

VEI atau kepanjangan dari Volcanic Explosivity Index, kata Devy, adalah skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan erupsi atau ledakan sebuah gunung api.

Devy mengatakan, Gunung Agung bahkan memiliki ciri khas dengan letusan berskala VEI 5 dua kali berturut-turut.

"Artinya memang ini adalah satu-satunya gunung di Indonesia yang pernah mengalami eksplosivitas yang sangat tinggi dua kali berturut-turut. Biasanya di gunung lain ada fase erupsi yang kecil, baru fase yang besar," kata Devy.

Sementara itu, sejak status awas 22 September 2017 hingga kemarin, skala VEI Gunung Agung paling tinggi VEI 2.

VEI dua ini, kata Devy, seribu kali lipat lebih lemah dibanding VEI 5.

Bukan cuma itu, Gunung Agung yang dinamakan Sang Giri Tohlangkir ini adalah satu di antara 59 gunung yang sempat meletus dengan skala VEI 5.

"Total gunung api di dunia itu ribuan. Jadi yang memiliki skala letusan VEI 5 cuma 59 gunung api. Gunung Agung salah satunya," kata Devy.

Lalu bagaimana dengan potensi letusan sekarang?

Apakah ada kemungkinan bakal mencapai VEI 5 sebagaimana yang terjadi pada tahun 1843 dan 1963?

Sayangnya belum ada satupun ahli vulkanologi yang bisa menjawab secara pasti.

"Bisa jadi masuknya lebih rendah dari itu, bisa juga tidak. Kami tidak bisa memastikan. Yang bisa kami lakukan adalah terus memonitor datanya. Kalau ada indikasi erupsi yang lebih besar, tentunya kami akan menyesuaikan dengan rekomendasi kami," kata pria asal Aceh ini.

Saat ini, PVMBG masih menetapkan status Gunung Agung pada level IV awas.

Itu artinya, dengan masih awasnya status Gunung Agung, PVMBG menyarankan agar masyarakat tetap mengikuti rekomendasi dari PVMBG.

Untuk memaksimalkan pemantauan Gunung Agung, PVMBG menggunakan sejumlah alat, di antaranya 3 CCTV untuk memantau kondisi visual Gunung Agung, 11 stasiun untuk merekam kondisi secara seismik, 5 stasiun GPS, 3 tiltmeter untuk mengukur kadar deformasi (perubahan bentuk), dan peralatan geokimia serta seismograf dll.

"Cuma, dengan kondisi gunung yang sering diselimuti kabut ini agak menyulitkan kami. Kami berharap agar tidak ada kabut supaya kami bisa mengkoneksikan antara data seismik dengan kondisi visual," jelas Devy.

Warga Datangi Pos Pantau Gunung Agung Usai Asap Pekat Keluar, PVMBG: Itu Ada Abunya

Posko Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali kembali didatangi warga, Kamis (7/12/2017) pagi.

Ini karena gunung agung kembali mengeluarkan dua hembusan.

Yang satu hembusan asap berwarna putih, dan satunya lagi tampak berwarna agak kehitaman.

"Itu ada abunya,namun masih tipis dan sebarannya masih di sekitar puncak," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunungapi Wilayah Timur, PVMBG, Devy Kemal Syahbana.

Pantauan dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, kepulan asap pekat berwarna agak kehitaman itu tampak pada detik-detik keluar dari kawah.

Semakin meninggi, kepulan asap pekat itu perlahan memutih.

Peringatan PVMBG

Cuaca di kawasan Gunung Agung tampak cerah, Kamis (7/12/2017) pagi.

Sang Giri Tohlangkir tampak mengeluarkan asap putih dan abu-abu (dua warna) dilihat dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali.

Saat ini Gunung Agung masih berpotensi mengalami erupsi eksplosif.

"Hari ini terlihat tenang, namun di dalamnya aktivitas vulkanik masih relatif tinggi. Karena gempa-gempa vulkanik dangkal yang terkait dengan aliran fluida magmatik ke permukaan masih kelihatan dari gempa low frekuensi yang kami rekam," kata Kepala Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani.

Dari seluruh metode yang digunakan oleh PVMBG untuk memonitor kondisi Gunung Agung, Kasbani mengatakan PVMBG masih belum berani memutuskan untuk menurunkan status Gunung Agung.

Apalagi, secara visual Gunung Agung saat ini masih terus mengeluarkan asap, hembusan, dan tercatat gempa-gempa low frekuensi yang mengindikasikan bahwa masih adanya aliran magma menuju ke permukaan.

"Kalau produksi magma, dari indikasi kegempaan, masih berlangsung. Artinya suplai masih ada terus," jelas Kasbani.

Kasbani menegaskan bahwa Gunung Agung saat ini masih berpotensi mengalami erupsi.

Namun Kasbani memberikan catatan bahwa erupsi tidaklah selalu soal letusan saja.

"Erupsi bisa juga keluarnya magma ke permukaan. Bisa juga keluarnya abu, bisa juga keluar lontaran-lontaran. Itu yang harus dipahami," jelas pria

Dari laporan resmi PVMBG periode 00.00, sampai 06.00 WITA, Kamis (7/12/2017), tercatat gunung dengan ketinggian 3142 Mdpl ini masih berstatus awas.

Selama periode tersebut, teramati asap keluar dengan ketinggian rata-rata 500, sampai 2000 meter.

Tercatat pula gempa-gempa masih terjadi di tubuh gunung agung, seperti laporan PVMBG sebagai berikut:

Gempa Hembusan, Jumlah : 4, Amplitudo : 3-6 mm, Durasi : 20-30 detik.

Gempa Low Frekuensi, Jumlah : 12, Amplitudo : 4-22 mm, Durasi : 26-80 detik.

Gempa Vulkanik Dangkal, Jumlah : 5, Amplitudo : 3-15 mm, Durasi : 9-23 detik.

Gempa Vulkanik Dalam, Jumlah : 4, Amplitudo : 3-24 mm, S-P : 1-3 detik, Durasi : 11-46 detik.

Selain itu, tercatat pula gempa tremor menerus amplitudo 1 - 20 mm, dominan 1 mm.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur, PVMBG, Devy Kemal Syahbana menjelaskan, sebelumnya masyarakat sudah sempat terbiasa mendengar gempa-gempa dengan jumlah ribuan per hari.

Nah sekarang gempa relatif dengan jumlah yang lebih kecil namun justru perlu diwaspadai.

"Dengan kondisi sekarang, kita tidak perlu lagi menunggu gempa yang jumlahnya seribu. Perlu diingat bahwa erupsi tanggal 21 November 2017 kemarin, itu adalah titik dimana jumlah gempa paling sedikit," kata Devy.

Asap Pekat Gunung Agung Hingga 2200 Meter, Gempa Low Frekuensi 15 Kali Dalam 6 Jam Terakhir

Cuaca di kawasan Gunung Agung tampak cerah, Kamis (7/12/2017) pagi.

Namun Gunung Agung tampak mengeluarkan asap putih dan abu-abu (dua warna) dilihat dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali.

Sedangkan berdasarkan laporan kegempaan PVMBG terbaru siang ini, periode pukul 06.00 – 12.00 WITA tercatat asap setinggi 2200 meter dan gempa low frekuensi mendominasi.

Seperti laporan berikut ini :

KEGEMPAAN

■ Hembusan

(Jumlah : 7, Amplitudo : 7-22 mm, Durasi : 70-90 detik)

■ Low Frekuensi

(Jumlah : 15, Amplitudo : 4-11 mm, Durasi : 30-116 detik)

■ Vulkanik Dalam

(Jumlah : 1, Amplitudo : 22 mm, S-P : 2 detik, Durasi : 42 detik)

Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 1-2 mm (dominan 1 mm)

Jumlah gempa Low Frekuensi ini mencapai 15 kali dalam 6 jam terakhir.

Sedangkan visual gunung jelas. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 1000-2200 m di atas puncak kawah.

Juga terjadi Hembusan asap putih-kelabu tebal tinggi 2200 meter yang condong ke arah Barat daya.

Dua hembusan asap keluar, satu eembusan asap berwarna putih, dan satunya lagi tampak berwarna agak kehitaman.

"Itu ada abunya,namun masih tipis dan sebarannya masih di sekitar puncak," kata Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pengamatan Gunungapi Wilayah Timur, PVMBG, Devy Kemal Syahbana.

PVMBG terus memonitor kondisi Gunung Agung, dan belum berani memutuskan untuk menurunkan status Gunung Agung.

Apalagi, secara visual Gunung Agung saat ini masih terus mengeluarkan asap, hembusan, dan tercatat gempa-gempa low frekuensi yang mengindikasikan bahwa masih adanya aliran magma menuju ke permukaan.

"Kalau produksi magma, dari indikasi kegempaan, masih berlangsung. Artinya suplai masih ada terus," jelas Kepala PVMBG, Kasbani.

Kasbani menegaskan bahwa Gunung Agung saat ini masih berpotensi mengalami erupsi.









sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 minggu yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Hotel Sebelumnya Tutup Buka Lagi, Tamu Mulai Berdatangan

Sejumlah wisman mengunjungi Pura Besakih meski masuk kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Agung, beberapa waktu lalu AMLAPURA - P...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen