Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Jalan Pura Pasar Agung Penuh Lumpur, Terdengar Suara Teriakan Kera

Jalan Pura Pasar Agung Penuh Lumpur, Terdengar Suara Teriakan Kera

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 02 Desember 2017 | 2:16:00 PM

Abu vulkanik masih terlihat di atap rumah warga dengan latarbelakang Gunung Agung di Desa Sibetan, Karangasem, Bali, Indonesia, Jumat (1/12/2017).
6 Perkembangan Terbaru Gunung Agung, Nomor 4 Tunjukkan Pergerakan Magma ke Permukaan

AMLAPURA - Cuaca di Pos Pantau Gunung Api Agung di Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali tampak cerah, Jumat (1/12/2017).

Dari utara, Gunung Agung (GA) terlihat jelas.

Sama seperti hari sebelumnya, asap abu vulkanik yang keluar dari kawah Gunung Agung tampak mereda yakni dengan ketinggian 1.500-2.000 meter di puncak kawah dengan arah terbangan abu ke tenggara.

Gunung Agung sempat disebut beristirahat sejenak.

Ini 6 Perkembangan Terbaru Gunung Agung, Suplai Magma Makin Cepat Menuju Permukaan

1. Tremor Terekam Sore Hari

Sejak pukul 00.00 Wita hingga 11.55 Wita, Jumat (1/12/2017) tidak ada tremor yang terekam oleh alat seismograf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Barulah sekitar pukul 16.42 Wita, terjadi tremor dengan amplitudo yang cukup tinggi yakni 23 mm, atau 1 mm di bawah overscale.

Tremor ini berdurasi selama 34 menit hingga tremor kembali mengecil pukul 17.16 Wita.

2. Terjadi Gempa 3,5 SR lebih besar dari hari sebelumnya

Tadi malam, terjadi gempa terasa dengan magnitudo 3,5 SR kedalaman 6 km (17 km timur laut Karangasem) pada pukul 21.54 Wita.

Gempa ini lebih besar dari hari sebelumnya, 3,1 SR.

3. Banyak gempa low frekuensi, suplai magma ke permukaan makin cepat

Namun kali ini tim PVMBG menemukan beberapa hal yang cukup signifikan, yakni banyak terekamnya gempa low frekuensi yang mencapai 19 kali.

Hal ini mengindikasikan semakin banyak dan semakin cepatnya suplai magma yang berusa meransek menuju permukaan.

"Hal yang baru sore ini adalah semakin banyaknya kita rekam gempa low frekuensi yang mencapai 19 kali. Ini artinya adanya aliran fluida magmatik ke permukaan. Atau dengan kata lain, semakin besar dan semakin cepat suplai magma menuju permukaan," jelas Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, di Pos Pantau, kemarin.

Berdasarkan data perekaman seismik, deformasi, citra satelit, dan geokimia, saat ini magma terus keluar untuk memenuhi kawah.

4. Magma di kawah makin panas, penuhi 1/3 dari kawah Gunung Agung

Sering terlihatnya cahaya glow di atas kawah, juga mengindikasikan magma di kawah masih sangat panas.

Dari data tersebut, pihak PVMBG juga mengestimasi jika magma sudah memenuhi 1/3 dari kawah Gunung Agung yang memilki diameter luas 900 meter dan kedalaman 200 meter.

Berdasarkan informasi dari data citra satelit yang diterima Rabu (29/11/2017), rata-rata pergerakan magma ke permukaan kawah gunung Agung mencapai 36 meter kubik per detik.

5. Jumlah lava capai 30 juta meter kubik

Saat ini jumlah lava di kawah Gunung Agung diestimasi sudah mencapai 20 juta meter kubik, dari total kapasitas kawah Gunung Agung yang mencapai 30 juta meter kubik.

"Ini artinya lava sementara baru memenuhi sepertiga kawah Gunung Agung. Masih cukup jauh untuk memenuhi hingga bibir kawah. Kita lihat saja pertumbuhan magma ini kedepannya, bisa bertambah, bisa melambat, bisa juga terhenti sama sekali," terang Devy.

6. Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi

Meskipun asap abu vulkanik cenderung menurun dan lebih dominan asap putih uap air, namun hasil pengukuran gas SO2 (Sulfur Dioksida) masih cukup tinggi, yakni sebanyak 201 ton per harinya.

Ini artinya aktivitas magmatik masih berlangsung.

Hal ini juga masih diikuti dengan masih tampaknya cahaya sinar api di atas kawah Gunung Agung, yang mengindikasikan influsi lava di kawah masih terjadi dan sangat panas.

"Kita juga masih merekam gempa vulkanik, yang juga mengindikasikan adanya laju lava yang rata-rata pergerakannya masih stabil. Saat ini kondisi gunung masih dalam fase kritis," ujar Kepala Bidang Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika.

Walau mereda, potensi erupsi selanjutnya pun masih tetap ada.

Gunung Agung masih dalam status Awas (level IV), sehingga tidak boleh ada aktivitas apapun di radius 8 km, perluasan sektoral 10 kilometer di sisi arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya.

"Kita pantau terus perkembangnya. Walau sekarang relatif menurun, kita tidak bisa menilai Gunung Agung sudah mereda sepenuhnya. Harus dikuti dengan data-data lainya secara berlahan. Hari ini (kemarin, red) statusnya masih Awas," jelas Suantika.

Kondisi tenang Giri Tohlangkir --sebut orang Bali terhadap Gunung Agung-- ini pun berlanjut hingga sore hari.

Gunung yang disucikan umat Hindu Bali ini tampak istirahat sejenak dari aktivitas vulkanik.

"Penurunan itensitas asap ini fluktuatif. Walau kepulan asap menipis, kita tidak bisa menilai Gunung Agung dalam kondisi sudah aman. Data kita menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi," kata Suantika.

Suara Teriakan Kera di Parkiran Pura Pasar Agung dan Jalan Penuh Lumpur, Begini Bahaya di Zona KRB!

Pasemetonan Jagabaya Gunung Agung (Pasebaya) melakukan pemantauan bersama Kapolda Bali, Irjen Petrus R Golose, di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung, Karangasem, Bali, Jumat (1/12/2017).

Rombongan ini pun menemui beberapa perubahan signifikan terhadap vegetasi di sekitar Pura Pasar Agung di Desa Sebudi atau yang berjarak sekitar 5 Km dari kawah Gunung Agung.

Tanaman keras seperti kopi, cempaka, boni, sengon, manggis, dan lainnya semua berguguran daunnya.

Bahkan ada yang mati akibat hujan abu yang mengandung zat belerang.

Sementara rerumputan dari Dusun Sogra menuju Pura Pasar Agung yang radiusnya 5 km dari bibir kawah tampak mengering.

Beberapa ekor hewan seperti anjing yang ditinggal di rumah warga ada yang mati, akibat kelaparan atau tidak kuat menghirup bau belerang.

Suara teriakan binatang seperti kera terdengar di parkir bawah Pura Pasar Agung.

Diperkirakan suara tersebut pertanda kera kelaparan akibat buah yang biasa dimakan oleh kera tidak ada lagi.

Jalan menuju Pura Pasar Agung penuh lumpur dan atau sisa debu vulkanik.

Daun-daunan berserakan di aspal yang mengakibatkan jalan licin dan bisa menyebabkan kecelakaan apabila dilalui kendaraan.

Sementara bau belerang sangat kuat dan terasa.

Hingga mengakibatkan sakit kepala apabila terus menghirupnya.

"Saya dan jajaran melakukan pengecekan apakah KRB III benar-benar sudah steril? Sesuai arahan presiden, peristiwa erupsi Gunung Agung ini untuk zero insiden atau tidak ada korban jiwa. Karenanya kami imbau untuk tidak ada aktivitas apapun di KRB," tegas Petrus Golose.

Golose juga meminta Kapolsek Selat, AKP I Made Sudartawan, dan jajarannya untuk terus bersiaga di kantor Polsek Selat.

"Buka sana kantornya. Pindahkan lagi kantornya ke tempat semula. Tidak boleh nyingkir, masih jauh itu kantornya. Puskesmas saja buka," ujar Golose kepada Kapolsek Selat.

Sementara Korem 163 Wirasatya melakukan langkah antisipasi bagi masyarakat/wisatawan yang masih nekat untuk masuk ke zona kawasan rawan bencana erupsi Gunung Agung.

Terlebih, beberapa hari lalu sempat beredar video di media sosial yang menunjukkan ada warga yang masih nekat untuk mendaki ke Giri Tohlangkir.

"Kami Korem 164 Wirasatya sudah memetakan dan menjaga ketat 60 titik yang menjadi pintu masuk menuju Gunung Agung. Setiap titik ada 4-5 personel kita yang akan berjaga selama 24 jam," tegas Komandan Korem Wirasatya Kolonel Arh Gede Widiana, kemarin.

PVMBG Beberkan Ini Terkait Material Abu Vulkanik saat Erupsi Freatik

Sampel material abu vulkanik yang jatuh saat erupsi freatik beberapa waktu lalu telah dikirim untuk dianalis di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi di Yogyakarta dan Bandung.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menyatakan, timnya telah melakukan penelitian secara internal.

Hasil hipotesis PVMBG menerangkan, bahwa erupsi tiga hari yang lalu merupakan erupsi freatik, karena tidak adanya kegempaan vulkanik yang besar terdeteksi di seismograf pos pengamatan Gunungapi Agung, Rendang, Karangasem, Bali.

"Sampai saat ini hipotesis kami adalah freatik karena kita tidak melihat ramp up (peningkatan) kegempaan vulkanik yang signifikan sebelum terjadinya erupsi," jelasnya, Sabtu (2/12/2017).

Pihaknya menerangkan, erupsi freatik merupakan uap dari magma yang berinteraksi secara langsung dengan air yang ada di bawah permukaan pada sistem hidrothermal.

Curah hujan tinggi di permukaan kawah bukan menjadi faktor utama terjadinya erupsi freatik.

"Hujan bukan pemicu utama erupsi, tapi hanya menambah volume air saja. Kalau memang hujan pemicu erupsi, seharusnya tiap musim hujan banyak gunung yang erupsi," ujar Devy.

Hasil analisis tim PVMBG menyebutkan bahwa erupsi freatik yang kemarin itu merupakan uap magma dengan volume cukup besar yang bergerak naik ke permukaan lalu berinteraksi dengan reservoir air.

"Karena tekanan yang dihasilkannya cukup besar maka kemarin mampu sedikit membuka celah ke permukaan," papar Devy.

Diberitakan sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengirim sampel material abu vulkanik beberapa waktu lalu saat terjadi erupsi freatik.

Sampel material abu dikirim ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi di Yogyakarta dan Bandung.

Kala itu, Devy Kamil Syahbana mengatakan, sampel tersebut untuk dianalisis kandungan partikel-partikelnya yang berada di abu.

Apakah mengandung material magma baru atau tidak.

Jika mengandung magma baru maka letusan pada tanggal 21 November 2017 silam merupakan erupsi freato-magmatik.

“Jika mengandung juvenile yang sangat signifikan, maka erupsi kemarin akan bernama freato-magmatik, jika juvenile tidak signifikan maka erupsi kemarin akan bernama freatik,” terang Devy saat itu.







sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 minggu yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Hotel Sebelumnya Tutup Buka Lagi, Tamu Mulai Berdatangan

Sejumlah wisman mengunjungi Pura Besakih meski masuk kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Agung, beberapa waktu lalu AMLAPURA - P...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen