Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Dana Upakara Dari Tajen, Ayamlah Yang Dapat Pahala Tinggi

Dana Upakara Dari Tajen, Ayamlah Yang Dapat Pahala Tinggi

Written By Dre@ming Post on Senin, 30 April 2018 | 9:18:00 AM

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Tajen atau sabung ayam, sudah dianggap menjadi sebuah tradisi dan budaya oleh sebagian umat Hindu di Bali.

Padahal dalam hukum negara tajen sangat dilarang, karena memiliki unsur perjudian.

Bahkan untuk mengelabui hukum negara, tajen dengan perjudian, dibalut unsur keagamaan, seperti tabuh rah hingga penggalian dana untuk keperluan ritual upakara (yadnya).

Dalam dharma wacana kali ini, kita akan membahas tentang esensi yadnya yang sumber dananya dari tajen.

Sebelum membahas lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu konsep yadnya. Pelaksanaan yadnya di Bali, merupakan satu kewajiban yang bersandar pada nilai dharma.

Dalam kitab Sarasamuscaya dijelaskan, penghasilan itu harus dialokasikan pada tiga sasaran.

Pertama, artha kasidanin dharma atau untuk pelaksanaan ajaran agama, baik itu dalam bentuk yadnya ataupun dana punia.

Dijelaskan di sana, penghasilan yang harus disisihkan untuk substansi ini sebanyak 1/3 (sepertiga).

Kedua, artha kasidanin dharma atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketiga, arta kasidain artha atau untuk investasi.

Hal ini membuktikan agama Hindu sejak ribuan tahun lalu sudah mengajarkan umatnya untuk teliti dalam penggunaan penghasilan.

Jadi, yadnya adalah sebuah kewajiban yang harus dilandasi oleh sebuah karma yoga (kerja).

Namun kita tak boleh menampik, belakangan ini, dikarenakan umat lebih banyak melihat yadnya dari segi substansi isi, bukan kualitas, sehingga banyak umat mengabaikan esensi dari sumber biayanya.

Bahkan ada pura yang biaya upakaranya berasal dari penggalian dana dalam bentuk tajen. Tentunya hal ini tak sesuai koridor dharma.

Ironisnya lagi, ada umat yang membuat pembenaran sendiri atas tajen tersebut, dengan balutan ritual tabuh rah.

Dalam prasasti Bali kuno dijelaskan, tabuh rah itu memang wajib dilakukan. Akan tetapi tidak boleh ada taruhan sepeser pun.

Selain itu, jumlah ayam yang diadu dalam ritual ini hanya tiga pasang. Namun kenyataannya, ada taruhan dan bahkan ‘nyejer’ sampai 1,7 bulan.

Maaf sekali, kalau begitu faktanya (dana upakara dari tajen), maka yang mendapatkan pahala tinggi justru ayam itu. Sementara kita sendiri tidak dapat apa-apa.

Bahkan buruknya, jika kita kembali pada konsep bebangkit, bhuta kala yang masuk dalam aktivitas perjudian itu adalah Sang Kala Wisaya (simbol objek indriawi).

Jadi, pura yang ritualnya dibiayai oleh judi, maka dipastikan lebih banyak mengakomodir kesenangan duniawi, bukan sebagai bentuk persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Imbauan saya selaku sulinggih dan anggota Parasida Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, marilah kita kembalikan yadnya pada esensinya.

Yadnya harus dibiayai oleh sebuah karma yoga, bukan dari hasil perjudian.

Jika hal ini terjadi berlarut-larut, maka yadnya akan terus kehilangan esensinya, sehingga apa yang kita ingin saat menggelar yadnya, maka yang akan kita dapatkan justru sebaliknya. I





Dharma Wacana : Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda




sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen