Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Bu Ratih: Hukum Negara Diatas Hukum Adat, Jadi Kami Berhak Memagari Rurung Agung

Bu Ratih: Hukum Negara Diatas Hukum Adat, Jadi Kami Berhak Memagari Rurung Agung

Written By Dre@ming Post on Senin, 27 Agustus 2018 | 12:19:00 PM


Pada hari Jumat, 24 Agustus 2018 sekira pukul 19:00 rapat antara Br. Adat Giri Dharma dengan PT. Gain / Alam Sutra digelar dalam balutan acara silahturahmi. Management GWK diwakili oleh Presiden Komisaris PT Gain Mayjen Purn. Sang Nyoman Swisma, Erwin, Arifin (Direktur), Dewi (Legal), Agung Kompyang (HRD), Bu Ratih (Pengacara / Bagian aset PT Gain), Nengah Widana. Sementara Br. Giri Dharma diwakili oleh Kedis, Kedat, Utusan Bendesa, WSP (tokoh Masyarakat) dan Warga Agung Giri Dharma. Hal yang dibahas mengenai berbagai permasalah seperti Rurung Agung, pelepasan lahan, dan lain sebagainya.

Preskom PT Gain Swisma, yang berasal dari Bangli ini becerita panjang lebar tentang pendirian monumen Patung GWK. Seperti misalnya ia bercerita bahwa satu-satunya perusahan yang komit menyelesaikan patung GWK adalah Alam Sutra. Setelah patung jadi beliau menyarankan Pertama harus diupacarai Rsi Gana, berikutnya tanggal 4 Agustus 2018 harus diplaspas setelah itu baru diresmikan. "Saya mendorong agar Alam Sutra selalu mengikuti tradisi Hindu", tegasnya.

Pada suatu kesempatan para pemegang saham bertanya : "kenapa perusahaan PT. Alam Sutra Tbk yang bergerak dalam usaha di bidang ptoperti mau mengakuisi karya seni yang tidak terukur permasalahannya?". Disinilah ia menyatakan kekagumannya dengan The Ning King, salah satu pengusaha yang mempunyai rasa kebangsaan sangat tinggi, agar monumen patung GWK bisa jadi yang nantinya jadi kebanggaan Bali dan Indonesia.

Proses pendiriaan pondestal betul-betul dicek dengan mendatangkan pakar dari luar negeri agar tanah tidak ada gelombang sedikitpun jika ada maka harus disuntik beton agar bisa bertahan minimal sampai 100 tahun. Kemudian beton-beton tiang pondestal harus diberi es, sampai mendatangkan es balok dari Jawa Timur karena di Bali sudah habis untuk memastikan agar pondestal mampu menahan beban patung 3000 ton.

Pria asal Bali ini juga berkisah bahwa didunia tidak ada lebar patung 64 M, kalau tinggi sudah ada yang 120 M. Ia memastikan tanggal 22 September 2018 patung mahakarya maestro Nyoman Nuarta ini akan diresmikan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo dengan tema Indonesia Esa.

Dalam sesion tanya jawab barulah suasana sedikit menghangat dan kemudian menjadi panas. Hal ini di picu karena jawaban dari pertanyaan seorang warga yang menanyakan kenapa Rurung Agung yang merupakan milik Desa Adat Ungasan Harus Di Pintu dan dipagari?.

Bu Ratih yang merupakan Pengacara dan bagian pengurus aset Alam Sutra menyatakan dengan entengnya bahwa pihaknya sudah berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Mereka membeli lahan sudah mendapatkan sertifikat itu artinya mereka berhak mengamankan asetnya, karena hukum positif atau hukum negara diatas hukum adat. Jadi mereka berhak memagari Rurung Agung yang tanahnya milik Alam Sutra secara hukum positif tapi secara hukum adat Rurung Agung Adalah milik Desa Adat Ungasan.

Bagai di sambar petir semua warga terdiam sejenak, bagaimana tidak karena pada awalnya GWK didirikan oleh Nyoman Nuarta memberikan garansi agar segala permasalahan akan diselesaikan dengan mengutamakan musyawarah mufakat dan asas kekeluargaan, dan GWK didirikan untuk memberikan kesejahteraan masyarakat lokal sehingga nanti menjadi kebanggaan Masyarakat Bali khususnya dan Indonesia umumnya.

Mendengar pihak Alam Sutra menyatakan bahwa Hukum Negara diatas Hukum adat itu artinya mereka berhak memagar semua jalan dilingkungannya, menggusur bale banjar, menggusur rumah warga (walau belum dapat ganti rugi), bahkan atas nama hukum mereka bisa "merampok" lahan warga karena jaman dulu sertifikat gelobal berbentuk ental sudah diserahkan (karena mendengar niat luhur awal pendirian GWK) namun tidak semua tanah diserahkan. Contoh Tanah milik Alm. Bapak Wayan Purja Masih dalam lingkungan GWK seluas 1,5 Are (tegak rumah dong Tomat), dan 23 Are berupa tegalan. Ini bisa jadi "makanan empuk mereka". Dengan mengatasnamakan hukum negara mereka bisa mengambil semua lahan itu.

"Salah seorang warga menyatakan tidak selamanya hukum positif bisa menang bu, contoh apa yang terjadi 1998, saat situasi chaos masa beringas, bisa hukum positif seperti itu digunakan?. Ditambahkan oleh warga yang lain tak selamanya Ibu dan Bapak bisa menang kemudian berjalan sendiri, maka lihatlah ketika bapak atau ibu mengadakan acara, pasti meminta tanda tangan kelian adat dan dinas, itu artinya apa saat kami memberikan ijin maka tanggung jawab berlangsungnya acara ada dipunggung kami. Kalau ibu menghandalkan hukum positif tanpa memperhatikan hukum adat apa bisa itu berjalan?. Mungkin masalah lahan jika ibu bawa kepengadilan kami pasti kalah bu, karena mungkin sertifikat tanah/lahan sudah masuk di sertifikat PT. gain, tapi apa cara seperti itu yang kalian pilih, ingat kami lahir disini matipun juga disini, jika dengan cara seperti itu kalian mengambil hak kami, maka sejengkal saja tanah yang kalian ambil dengan cara tidak benar akan kami minta dikelak kemudian hari entah itu sama ibu atau bapak yang ada disini, anak ibu bapak yang natinya kerja disini, dan seterusnya. Ingatlah kembali selesaikan semuanya berdasarkan musyawarah atas dasar kekeluargaan. Warga yang lain juga meneruskan Ingat bu/pak dimana Bumi dipijak disana langit dijunjung. Jalan rurung Agung itu tidak pernah dijual itu adalah jalan kematian yang juga jalan umum yang bisa digunakan warga, jika seperti sekarang ini ibu/bapak pagari, itu artinya kalian sudah menghina dan tidak mengakui adat istiadat kami".

Situasi yang semakin panas itu terpaksa dihentikan oleh pengelingsir dan tokoh masyarakat agar dicarikan waktu lain.   Wayan Sugita Putra yang akrab dipanggil WSP berpesan, "dalam menyelesaikan masalah harus pesemetonan diutamakan, kalau tanah belum mendapat ganti rugi diberikan dengan harga dan data yang sesuai jangan digusur dulu, harap dicarikan waktu lain untuk menyelesaikan semua permasalahan....".

Hasil paruman kali ini yaitu Kesepakatan Pihak PT Gain tidak akan melakukan tindakan apapun seperti melanjutkan pemagaran, penggusuran, dan lain sampai menunggu pertemuan berikutnya. Pihak banjarpun tidak akan memberikan ijin rekomendasi seperti ijin soundrenalin dan lain-lain sampai janji-janji yang ada di MOU terealisasi semuanya.

PT Gain Mengingkari Kesepakatan Belum Capai 12 Jam

Pak Kelian Dinas dan Kelian Adat Giri Dharma Menegur Pimpro GWK
Belum juga capai 12 jam setelah dilakukan kespakatan pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 sudah dilanggar. Pemagaran terus saja berlangsung, Pimpro project GWK yang akrab di panggil Pak Kadek berdalih bahwa ia tidak tahu dan tidak diberitahu hasil kesepakatan yang sudah diputuskan dan ditandatangani oleh Pihak Alam Sutra selaku pengakuisisi GWK pada hari Jumat, 24 Agustus 2018 sekira pukul 21:00 malam waktu setempat.

Setelah didatangi oleh keliaan Adat Br. Giri Dharma I Wayan Kurma dan Kelian Dinas I Nyoman Widana, pekerjaan langsung dihentikan dan para pekerja langsung meninggalkan tempat sementara Pak Kadek meminta maaf pada masyarakat.

Dalam statemennya Kelian Adat Wayan Kurma yang akrab dipanggil jero GD2 menyatakan kekecewaannya dan tidak akan memberikan ijin apapun sampai janji-janji yang sudah disepakati dalam akta notaris Sugitha N0.7 tahun 2014 dipenuhi semua. Teguran kepada Pak Kadek agar disampaikan kepada managemen yang intinya tidak akan memberikan ijin apapun sampai semuanya beres, "Ok fine, tanah itu sudah pak beli, tapi ingat pak itu berada di Desa Ungasan, yang mempunyai adat istiadat yang punya awig-awig anda mau tunduk nggak, kalau nggak mau tunduk dengan awig dan aturan desa setempat berarti apapun yang anda perlukan berkaitan dengan desa adat setempat, desa adat juga tidak akan memberikan, ya apapun itu perijinan, rekomendasi keramaian, ijin Amdal dan segala macam tidak akan pernah dapat dia...."

Ditanya kembali mengenai ijin rekomendasi mengenai acara soundrenaline sebentar lagi, Jero GD2 dengan tegas menonak dan tidak akan memberikan ijin.




Mr. Brain Revolution
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Terseret Ombak, Dua Nyawa Wisatawan Lokal 'Melayang' di Pantai Tropicola

Warga ketika mengevakuasi tubuh Kiky, Wisatawan asal Bandung, yang tewas tenggelam di Pantai Klingking, Nusa Penida, Minggu (16/9/2018) ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen