Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Nyepi, Jika Catur Brata Patokannya, Pecalang Melanggar, Lalu Bagaimana?

Nyepi, Jika Catur Brata Patokannya, Pecalang Melanggar, Lalu Bagaimana?

Written By Dre@ming Post on Senin, 04 Maret 2019 | 8:07:00 AM

Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Secara umum, banyak umat Hindu yang menilai esensi dari Hari Suci Nyepi adalah Catur Brata.

Yakni Amati Gni (tak menyalakan api), Amati Karya (tak bekerja), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang ataupun makan) dan Amati Lelungan (tidak bepergiatan).

Jika demikian adanya, lalu bagaimana dengan para pecalang yang mengawal prosesi Nyepi.

Sebab jika Catur Brata patokannya, tentu para pecalang ini dikategorikan melanggar.

Berbicara Hari Suci Nyepi, pengejawantahannya itu seharusnya lebih pada proses introspeksi diri.

Sebab agama Hindu itu tidak sama dengan agama lain, yang ada kata wajib atau tidak wajib.

Kalau agama lain, jika dia melanggar maka dikatakan dosa. Sementara jika dilakukan dia akan mendapatkan pahala.

Agama kita tidak demikian, karena pola agama kita bersifat ajaran. Jadi, yang menjadi dasar penting di dalam agama Hindu adalah proses yang disebut transformasi diri.

Saat ini pola beragama kita masih pada tahap penertiban lahiriah.

Seperti halnya Nyepi, umat disarankan agar tidak boleh keluar rumah, tidak melakukan ini dan melakukan itu. Namun prinsip utamanya belum dipahami.

Nyepi itu artinya sunya, niskala atau windu. Dalam bahasa zaman now, windu itu diartikan sebagai kosong (kesadaran yang hilang).

Mampu gak kita masuk ke wilayah itu? Membangun kembali sifat kedewataan yang hilang? Inilah sebenarnya inti atau saripati daripada Nyepi.

Dalam persembahyangan, ada mantra ‘Om Atma Tattvatma Suddhamam Svaha’, kan kita sembah ‘punyung’. Ketika kita berbicara puyung, itulah sesungguhnya niskala.

Nah dalam hari suci Nyepi ini, kita diajak kembali untuk menindaklajuti kosong atau bolong pada diri kita.
Dalam hal ini, bolong ada dua, yakni bolong berisi dan bolong yang tak pernah terpuaskan.

Bolong yang tak ternah terpuaskan ini adalah indrawi kita, yakni api nafsu.

Saat Nyepi, kita diajak untuk memadamkan api nafsu yang ada di dalam diri kita. Jadi yang dipadamkan bukan hanya api yang ada di dapur, lampu dan sebagainya.

Sementara sindu atau bolong yang harus dipuaskan adalah windu gni. Sementara windu yang harus kita cari adalah wandu amertha.

Apa itu, yakni bolong yang tidak kelihatan tetapi sesungguhnya bolong, seperti Ajna Cakra (mata ketiga atau mata pengetahuan masa depan) dan Siwadwara (alam Siwa).

Inilah yang harus kita aktifkan, tidak hanya saat Nyepi tetapi setiap hari. Tapi saat Nyepi lebih bagus, karena tingkat konsentrasi kita akan sangat sakral.
Jadi, walaupun saat Nyepi kita tidak ke mana-mana, tetapi kita tidak ada renungan ke arah sunya, berarti kita hanya merayakan Nyepi secara seremonial saja.

Kalau pecalang, jika dalam menjalankan tugasnya, pikirannya tertuju pada windu ini, atau mencari jalan sunya atau kelepasan, tentu dia mendapatkan kredit poin untuk meningkatkan status dirinya di tingkat spiritual.

Pesan saya, marilah kita lalui proses Nyepi tidak hanya sebatas Catur Brata, tetapi juga meningkatkannya ke arah filosofi, yakni kembali ke jati diri kita.

Siapa kita, kita adalah atman.

Di Hari Suci Nyepi, kita harus membangkitkan kembali sifat dan pengetahuan tentang kedewataan, yang akan kita pakai dalam mengarungi kehidupan di tahun berikutnya.











sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Fakta Terungkap, Diperkirakan 10 Kg Sabu-sabu Senilai Rp 15 Miliar Lolos di Ngurah Rai

Manjet Singh (23) bersama rekannya Harvinder Singh (26) asal India diamankan polisi. Keduanya diamankan saat tinggal di kamar hotel nomor...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen