Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Dipawali Dirayakan Dengan Banten Dan Api Simbol Penerangan Hati

Dipawali Dirayakan Dengan Banten Dan Api Simbol Penerangan Hati

Written By Dre@ming Post on Rabu, 18 Oktober 2017 | 11:50:00 AM

Hanya saja, dalam memperingati Dipawali ini diharapkan umat Hindu tidak hanya berhenti pada seremoni dengan memasang lampu-lampu dan berbagai ritualnya, namun juga ke esensi dari perayaan tersebut, yaitu menyalakan `lilin hati` untuk berbuat baik kepada sesama dan alam.“Lampu hati juga dinyalakan, itu intinya,” jelas Wiana. Gbr Ist
DENPASAR - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengeluarkan surat edaran (SE) tentang libur fakultatif (bersifat pilihan) Hari Raya Dipawali, yang jatuh pada Rabu 18 Oktober 2017.

SE yang menyatakan Hari Raya Dipawali sebagai hari libur di Bali untuk pertama kali ini dikeluarkan pada 16 Oktober, dan diumumkan kepada media pada Selasa (17/10/2017) kemarin.

SE itu ditujukan kepada bupati/wali kota, pimpinan instansi pemerintah, TNI, Polri, BUMN, BUMD, dan perusahan swasta di wilayah Bali.

Menurut Kepala Biro (Karo) Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra, SE Gubernur itu merupakan tindak lanjut dari surat Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia.

Dalam surat Dirjen Bimas Hindu tertanggal 4 Oktober 2017 nomor B-4240/ DJ.VI /BA.03.1 itu diterangkan bahwa Dipawali dirayakan pada 18 dan 19 Oktober 2017.

“Terkait dengan perayaan itu, gubernur se-Indonesia, pimpinan instansi pemerintahan sipil, TNI/Polri dan pimpinan BUMN, BUMD dan perusahaan swasta dimohon memberikan libur fakultatif selama satu hari di antara kedua tanggal tersebut kepada karyawan/karyawatinya yang beragama Hindu,” kata Dewa Mahendra dalam siaran persnya yang diterima kemarin.

Karena ditetapkan sebagai hari libur bagi umat Hindu di Indonesia dan khususnya di Bali, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana pun menerima surat edaran tersebut.

Namun, ia mengaku belum mendengar sebelumnya tentang penetapan hari libur fakultatif perayaan Dipawali.

“Saya juga baru terima surat edaran itu. Makna persis hari raya itu saya kurang tahu. Yang jelas ini banyak diperingati di India,” kata Sudiana saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (17/10/2017).

Menurut mantan Ketua PHDI Pusat, I Ketut Wiana, Dipawali merupakan hari suci sebagai peringatan pulangnya Sri Rama ke Ayodya setelah menang bertarung melawan Rahwana.

“Setelah melantik Wibisana sebagai raja di Alengka, nah Sri Rama pulang ke Ayodya. Nah pulangnya ini membawa kemenangan, karena kan dianggap membawa penerangan kepada masyarakat, kemenangan terang atas kegelapan,” jelas I Ketut Wiana saat dihubungi kemarin.

Dikatakannya, hari raya Dipawali serupa dengan perayaan kemenangan dharma melawan adharma yang disebut sebagai hari raya Galungan di Bali. “Sama dengan Galungan, kan memperingati kemenangan,” imbuhnya.

Hari raya Dipawali, lanjut Wiana, memang baru kali pertama diperingati di Bali.

Namun, Dipawali setiap tahun dirayakan oleh umat Hindu di India.

Wiana juga mengatakan bahwa umat Hindu di India merayakan hari Dipawali ini dengan cara menghaturkan sesaji, menyalakan api, dan menyalakan lampu-lampu sebagai simbol dari penerangan.

“Mereka biasanya memperingatinya dengan banten, dan api. Mereka memasang lampu damar. Lampu-lampu menyala itu sebagai lambang penerangan dengan menangnya Rama melawan Rahwana, teranglah rakyat begitu,” terang pria berusia 71 tahun ini.

Mengenai hari raya Dipawali yang diperingati di Bali dan dinyatakan sebagai hari libur, menurut Wiana, tidaklah perlu diperdebatkan.

Sebab, baginya, agama adalah sesuatu yang fleksibel.

Semakin sering manusia itu beribadah atau mengamalkan ajaran agama, menurut Wiana, itu semakin bagus.

“Kalau kita megalungan dengan baik, sebenarnya itu sudah baguslah. Kalau ditambah dengan Dipawali tidak apa-apa juga. Kan semakin sering kita mengamalkan kebaikan tidak apa-apa. Tapi ini juga tidak merupakan keharusan. Karena agama itu kan kesadaran, bukan harus seperti ini dan seperti itu,” tutur Wiana.

Hanya saja, dalam memperingati Dipawali ini diharapkan umat Hindu tidak hanya berhenti pada seremoni dengan memasang lampu-lampu dan berbagai ritualnya, namun juga ke esensi dari perayaan tersebut, yaitu menyalakan `lilin hati` untuk berbuat baik kepada sesama dan alam.

“Lampu hati juga dinyalakan, itu intinya,” jelas Wiana.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali yang juga presiden The Hindu Centre Indonesia, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna juga tidak mempermasalahkan hari raya Dipawali diperingati dan ditetapkan sebagai hari libur fakultatif.

Menurut Wedakarna, keputusan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI sudah tepat, karena mengakomodasi kepentingan umat Hindu di Indonesia.

“Karena Hindu Indonesia bukan hanya Hindu Bali saja, tapi ada komunitas Hindu Indonesia yang merayakan hari Dipawali. Seperti komunitas Hindu keturunan Tamil di Medan, dan juga WNI keturunan India. Jadi saya mendukung sekali,” kata mantan Rektor Universitas Mahendradatta itu.

Ia mengajak umat Hindu di Bali tidak perlu khawatir dengan adanya peringatan Dipawali di Bali.

Dipawali, menurut Wedakarna, adalah hari penghormatan kepada ibu Dewi Laksmi (Dewi Sri).

“Sikap kita ya menghormati saja. Toh selama ini umat Hindu non-Bali juga sama-sama mengikuti hari raya Nyepi, dan hingga kini mereka baik-baik saja,”tandas tokoh muda ini.







sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Kecuali Jalur Unud, Koster Stop Sarbagita Ganti Kereta Api

“Jalur kereta api yang kita mau bangun tidak seperti di Bandung dan Jakarta. Nanti dirancang dengan interior yang bagus untuk publik dan ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen