Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Setelah Pailit, Gede Hardy Minta Doa Agar Bisa Bangkit Lagi

Setelah Pailit, Gede Hardy Minta Doa Agar Bisa Bangkit Lagi

Written By Dre@ming Post on Kamis, 23 November 2017 | 9:23:00 AM


DENPASAR - Grup Hardys Holding milik Gede Hardy yang dinyatakan pailit pada putusan Pengadilan Niaga Surabaya di PN Surabaya per tanggal 9 November 2017 yang lalu.

Kini sang Owner Gede Hardy didampingi Istri berbicara secara gamblang kepada awak media, Rabu (22/11/2017) sore dan difasilitasi oleh Aprindo Bali.

"Kami cenderung menerima ini kalau dalam bahasa Balinya kalau ini memang karma saya dipailitkan. Maka saya terima karma dari 20 tahun saya merintis usaha," ungkap Gede Hardy.

Pailit ini terjadi karena pihak Grup Hardys Holding tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar kepada kreditur yang telah jatuh tempo.

"Kalau kami di bank ada 18 bank telah jatuh tempo. Dan kami telah gagal bayar berdasarkan UU No 37 dari Januari lalu kami sudah dipailitkan," tuturnya.

Namun saat itu Gede Hardy meminta keringanan perpanjangan jatuh tempo hingga pada akhirnya tidak dapat melakukan pembayaran dan beberapa bank mengajukan pailit terhadap Grup Hardys Holding.

Dan pihaknya mengajukan PKPU perdamaian namun para kreditur saat voting saat itu tidak menyetujuinya akhirnya dinyatakan pailit.

Ia menyampaikan aset dari Grup Hardys Holding saat dihitung tim kurator tercatat mencapai 4,1 Triliun dan hutang 2,3 Triliun. Kapan kurator mengeksekusi?

Gede Hardy menjawab hak untuk menjual sendiri dari Bank itu 60 hari sejak dinyatakan pailit. "Jadi Bank punya hak menjual tanpa melalui tim kurator sampai tanggal 9 Januari 2018," ucapnya.

Setelah itu hak berada di kurator untuk menjual aset, Gede Hardy berharap pihak kurator dapat menjual aset tersebut dengan harga yang wajar.

"Mudah-mudahan apa yang saya mohon apa yang saya minta itu bisa terpenuhi. Kalau 40 persen di kalikan 4 triliun katakanlah berarti hanya 2,4 triliun. Utang 2,3 triliun bisa-bisa impas saya tidak dapat susuk apa-apa," ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya terdapat dua krediturnya yang mendaftarkan pihaknya pailit pada 14 Agustus 2017.

Bahkan isu awalnya akan dipailitkan telah terjadi sejak awal tahun 2017 ini.

"Ada bank yang akan mempailitkan kami, sehingga kami berjaga-jaga dan ternyata tanggal 14 Agustus ada yang mendaftarkan kami untuk mempailitkan,” jelasnya.

Berdasarkan Undang-undang kepailitan dan PKPU Nomor 37 tahun 2004, Hardi membela diri dengan mendaftar Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada tanggal 18 Agustus 2017.

"Kemudian tanggal 25 September 2017, langsung turun putusan PKPU ini. Dari tanggal 25 September ini, saya diberikan waktu 45 hari untuk menyusun proposal perdamaian. Nah sampai 9 November 2017, dan seluruh kreditur voting. Kemudian pada saat voting itu, ada kreditur yang tidak menyetujui proposal perdamaian kami, dari kreditur 2 bank yang sangat keras menolak dan akhirnya proposal perdamaian kami ditolak dan kami jatuh pailit,” katanya.

Ada faktor eksternal dan faktor internal, yang menyebabkan Grup Hardys Holding pailit.

Gede Hardy Oner Grup Hardys Holding
Faktor eksternalnya adalah daya beli masyarakat sedang turun, berdasarkan survei Nielsen Indonesia, penurunan daya beli khususnya di ritel sudah melebihi 20 persen pada 2017 ini.

Sementara faktor internalnya pihak hardys terlalu ekspansif mengembangkan outlet karena bermimpi mengejar planning IPO Hardys Retail pada tahun 2020. Namun setelah Pailit, Gede Hardy Minta Doa Agar masyarakat agar Bisa Bangkit kembali.


10 Pertanyaan Menohok yang Dijawab Gede Hardi Secara Blak-blakan, ‘Ini Sudah Karma Saya Dipailitkan’

DENPASAR - Setelah dinyatakan pailit, pemilik PT Hardys Retailindo, I Gede Agus Hardiawan akhirnya memaparkan secara terbuka apa penyebab dan bagaimana kronologinya sehingga kerajaan bisnis ritelnya runtuh.

Hardi, pangilan akrabnya, juga berbagi informasi seputar tren ekonomi global, serta memberi pesan-pesan untuk para pengusaha di Indonesia, khususnya di Bali.

Bertempat di salah satu rumah Gede Hardi di Perumahan By Pass Garden R14. B3, Jalan Danau Tempe, Sanur, Denpasar, Hardi menjelaskan secara gamblang kepada awak media.

Tribun Bali merangkai penjelasan itu dalam bentuk tanya-jawab berikut ini:

Kapan Hardys secara resmi dinyatakan Pailit?

Bahwa per tanggal 9/11/2017 melalui Pengadilan Niaga Surabaya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dengan sebelumnya melalui keputusan PKPU tanggal 25/09/2017 Pengadilan Niaga pada PN Surabaya, dengan amar keputusan menyebutkan: 1. Grup Hardys Holding, 2. PT Hardys Retailindo, 3.

Pribadi saya sendiri Gede Hardi telah dinyatakan “pailit” melalui hasil voting para kreditur Grup Hardys melalui sidang pembahasan proposal perdamaian di Pengadilan Niaga Surabaya.

Bagaimana kronologinya?

Sebelumnya 14 Agustu 2014 ada yang mendaftarkan pailit. Kemudian tanggal 18 kami membela diri.

Dari awal Januari ada kreditur yang akan mempailitkan kami. Kuasa hukum kami memantau.

Dari Januari dipantau, sampai Agustus itu masih aman. Tapi 14 Agustus ada yang daftarkan kepailitan.

Pada 18 Agustus kami daftar PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang).

Maka majelis hakim, sesuai UU 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU bahwa pengajuan PKPU lah yang diputuskan duluan.

Kami diberi waktu 45 hari untuk menyusun proposal perdamaian yang akan diajukan ke seluruh kreditur.

Kami memiliki 18 bank kreditur separatis. Ada juga kreditur preferen dan kreditur konkuren.

Nah dalam waktu 45 hari, kami road show sampai ke Papua. Kami meminta dukungan.

Pada saat itu rata-rata bank menyetujui. Sebab, mereka percaya Hardys asetnya bagus.

Kami cenderung menerima pailit ini. Saya menerima dengan lapang dada. Kenapa pailit terjadi?

Pailit itu terjadi jika terjadi gagal bayar minimal satu atau dua, minimal terjadi gagal bayar terhadap kewajiban yang telah jatuh tempo. Kalau kami, 18 bank kewajibannya telah jatuh tempo, dan gagal bayar.

Sebetulnya kalau berdasarkan UU, dari Januari pun kami sudah pailit. Tapi karena kami menegosiasi seluruh bank dengan baik, pengampunan dan pengampunan terus diberikan, dan negosiasi berjalan dengan baik bahkan sangat ditolelir.

Sehingga ada beberapa bank menjadi gerah, kenapa kok Hardys seperti diperlakukan spesial.

Bank Permata lagi, kalau mau, bayar 50 persen saja. Karena keputusannya dari pusat.

Jadi hutang kami sudah ditangani oleh holding mereka. Nah ini membuat bank-bank lain menjadi gerah.

Ini Hardys enak-enakan hidup ini. Mulailah ada upaya-upaya untuk mempailitkan kami.

Apa yang menyebabkan Hardys sampai Pailit?

Adapun hal-hal yang menyebabkan grup Hardys Holding dan anak-anak perusahan plus pribadi Gede Hardy dipailitkan adalah karena gagal bayar hutang-hutang yang telah jatuh tempo kepada para kreditur.

Akibatnya, kinerja perusahaan menurun drastis.

Apa yang menyebabkan Hardys mengalami penurunan kinerja secara drastis?

Ada faktor internal dan eksternal

Faktor Eksternal:

1. Masyarakat zaman now, shifting belanjaan cenderung menggunakan uangnya untuk leisure/jalan-jalan dan kongkow-kongkow di resto, bar, cafe, bioskop dll. Jadi memang airport dan jalanan ramai, tapi itu mereka jalan-jalan, bukan lifestyle.

2. Ekonomi global, nasional, dan lokal sedang mengalami fall down (merosot), sangat lesu, sehingga daya beli masyarakat menurun drastis. Industri ritel Indonesia menurun di atas 20 persen, sehingga ada banyak toko di Indonesia tutup operasi selama beberapa waktu terakhit, atau seluruh gerainya seperti Matahari, Giant/Hero Group, Seven, Lotus Supermarket, Debenhams, lalu hypermarket dll. Bahkan di dunia global banyak sekali toko WalMart di AS dan China tutup juga, plus H&M di Inggris sudah tutup toko-tokonya.

3. Persaingan mart-mart (toko ritel modern) yang menjamur masuk ke desa-desa, bahkan disinyalir banyak yang bodong atau tidak berizin. Saya tidak anti persaingan sebenarnya.

4. Bisnis ritel online, seperti Alibaba, tokopedia, blibli dll, yang saat ini sedang merambah Indonesia, sangat memanjakan konsumen, dengan harga murah dan layanan onlinenya bahkan sampai melayani masyarakat ke desa-desa. Jika ini perpajakannya tidak diatur, maka pasti akan menghabiskan bisnis offline.

5. Perpajakan yang diberlakukan pemerintah saat ini sangat ketat di tengah situasi ekonomi dan pelaku bisnis yang sedang menurun. Ada banyak aneka ragam, pemeriksaan pajak yang dilakukan oleh DJP secara beruntun, sehingga terjadi banyak WP (Wajib Pajak) tidak mampu bayar pajak karena likuiditasnya yang sangat terbatas. Kami sempat jadi pembayar pajak terbesar, tiga kali berturut-turut. Bukan kami menyombongkan diri. Tiga kaliantara tahun 2011-2013. Sekarang malah jadi penunggak pajak terbesar. Saya tidak menutupinya. Tunggakan kami tidak main-main ratusan miliar, belum dendanya.

Faktor Internal:

1. Hardys terlalu ekspansif mengembangkan outlet, karena bermimpi mengejar rencana IPO (tawarkan saham ke publik) Hardys Retail pada 2020. Saat ini Hardys memiliki sekitar 12 titik lokasi yang sangat luas antara 5 hektare hingga 14 hektare per lokasi yang telah dibeli Hardys. , yang saat ini mangkrak. Sedianya itu akan dikembangkan dengan concept property mix used, antara commercial property, residential property dan hotel property. Namun belum sempat berkembang, keburu properti anjlok

2. Hardys telat mengantisipasi ritel dengan konsep digital online. Zaman now konsumen bukan hanya yang di kota saja, bahkan sampai masyarakat pelosok pedessaan pola belanja telah berubah. Mereka tidak mau ribet pusing keluar rumah. Nah ini Hardys belum antisipasi, belum membentuk e-retail/e-grocery seperti Alibaba/Tokopedia dll

3. Sumber pembiayaan bisnis Group Hardys 70 persen bersumber dari dana bank. Jika pengusaha dengan proporsi investasi seperti ini, maka ini sangat berbahaya. Sedikit saja salah dalam tata kelola keuangan/manajemen cashflow, maka pasti akan meledak menjadi gagal bayar ke para kreditur, sehingga akhirnya kreditur mempailitkan Hardys Group.

Dari penyebab itu, mana yang paling mempengaruhi?

Yang paling menyebabkan pailit karena daya beli menurun, karena kami terlambat melakukan inovasi.

Nah di satu sisi di internal kami justru sibuk berinvestasi properti. Modal kerja kami tersedot pada investasi, dan kiamatlah.

Ada yang menyebut Anda sengaja mempailitkan agar mendapatkan untung? Bagaimana tanggapan anda?

Kalau saya mengajukan pailit, maka kelihatan record-nya. Kami bukan mengajukan pailit, tapi PKPU karena ada yang mau mempailitkan kami. Dengan mengajukan PKPU, maka prosesnya melalui proposal perdamaian. Proposal itu bukan majelis ketok palu.

Kalau sudah melalui proposal, majelis hanya ketok hasil voting. Nah berdasarkan hasil keliling, ternyata semua setuju.

Tapi nyatanya kami masih dipailitkan juga. Begitu voting di Surabaya, dua bank memprovokasi.

Semua angkat tangan. Satu bank lagi bawa tiga orang. Yang lain ikut terpancing waktu sidang. Karena syarat itu disetujui.

Harus disetujui oleh 51 persen oleh kreditu,. dan 2/3 dari total hutang itu harus menyetujui.

Perihal berita miring, kok tahu saya gimana. Saya sampai ke Jagatnata Surabaya sembahyang. Toh juga keputusannya seperti itu. Ini jalan Tuhan. Kalau dalam bahasa Bali, ini memang sudah karma saya dipailitkan, dan saya terima karma saya dari 20 tahun merintis usaha.

Apakah Anda merasa ada ketidakadilan soal aturan pailit di Indonesia?

Ada lima pengadilan niaga di Indonesia: Surabaya, Makassar, Semarang, Jakarta, dan Medan. Kemarin ada seminar di Trans Hotel, dan dipaparkan ada ratusan perusahaan yang terdaftar PKPU di 5 pengadilan niaga yang ada di Indonesia. Mudah-mudahan ending-nya perdamaian. Tidak seperti kami yang ending-nya justru pailit. Padahal saya berharap damai.

Nah, perusahaan lain (ritel), asetnya jauh di bawah nilai hutang. Mungkin asetnya sekitar seratus miliar, hutangnya 400 ratus miliar. Namun justru ketika ada masalah, proposal perdamaiannya disetujui. Karena pengacaranya juga hebat. Kalau pengacara saya biasa-biasa saja. Saya tidak mampu membayar pengacara mahal. Karena Hardys ini mengalir seperti air. Tapi memang faktanya yang menentukan pailit atau tidaknya itu memang hasil voting dari kreditur.

Apa saja usaha yang anda miliki?

Seluruhnya mulai dari ritel, properti, kemudian line hotel, dan transportasi. Kendaraan saja kami ada lebih dari 100 unit. Total aset Rp 4,1 triliun, dengan utang Rp 2,3 triliun.

Bagaimana status outlet, dan usaha lain yang anda milik saat ini?

Untuk outlet, pada Desember 2016 itu telah dibeli oleh PT Arta Sedana Propertindo. Owner-nya Putu Gede Sedana. Pembelian melalui Bank Muamalat Indonesia. Jadi persitiwanya Desember 2016, tapi kenapa masih merek Hardys? Karena Bank Muamalat telah survei bahwa branding Hardys sangat kuat di Bali. Sehingga Pak Putu tetap pakai nama itu. Saya tidak bisa menolak, karena sampai mereknya digadaikan pada saat ajukan kredit.

Berapa aset outlet Anda dibeli?

Jadi ceritanya seluruh aset kami diambil alih oleh Bank Muamalat, kemudian Bank Muamalat yang menjual ke Putu Sedana. Nilainya berapa? Kami tidak tahu. Kalau hutang kami di Bank Muamalat sekitar Rp 600 miliar. Belum termasuk bunga berjalan dan dendanya. Berapa deal-nya Pak Putu, kami tidak tahu.

Kemudian bagaimana dengan hotel?

Semua di bawah tim kurator Pengadilan Niaga pada PN Surabaya. Rp 1 pun saya tidak bisa ngambil uang. Lalu bagimana karyawan? Tidak ada yang di-PHK. Kalau Hardys Retail di bawah Putu Sedana, sedangkan di luar itu di bawah tim kurator PN Surabaya.

Terkuak, Rahasia Gede Hardi Yakin Bisa Bangkit Lagi, “Saya akan Belajar dari Alibaba”

DENPASAR - Pemilik PT Hardys Retailindo, I Gede Agus Hardiawan memaparkan secara terbuka apa penyebab dan bagaimana kronologinya sehingga kerajaan bisnis ritelnya runtuh.

Bertempat di salah satu rumah Gede Hardi di Perumahan By Pass Garden R14. B3, Jalan Danau Tempe, Sanur, Denpasar, Rabu (22/11/2017), Hardi menjelaskan secara gamblang kepada awak media.

Meski pailit, Gede Hardi yakin bisa bangkit lagi.

Bahkan, ia mengaku mendapat pengalaman berharga yang bisa dibagikan ke publik soal kepailitin Hardys.

“Saya ingin berbagi. Di China ada kejadian aneh pada tanggal 11, bulan 11, tahun 2017. Pada akhir pekan itu, di pusat keramaian belahan dunia yang paling padat, yakni China, pada tanggal itu lengang. Biasanya orang tidak bisa papasan di sana. Apa yang terjadi? Alibaba mendiskon jualannya sampai 50 persen. Satu hari transaksi Rp371 triliun,” jelasnya.

Satu hari saja, karena diskon 50 persen untuk belanja online itu.

Sehingga apa? Pusat keramaian menjadi sepi.

Semua orang sibuk dengan gadgetnya untuk belanja.

Belajar dari Alibaba.

Gede Hardi mengaku mulai hari ini juga, akan harus fokus untuk menyelesaikan kepailitan ini.

“Sehingga seluruh hutang itu, mudah-mudahan bisa terbayarkan. Dan tim kurator bisa menego aset-aset kami,” ungkapnya.

Ia berharap tim kurator menjualnya dengan harga yang bagus, sehingga nantinya kami dapat saldo untuk recovery bisnis.

“Mudah-mudahan tuntas seluruh hutang kami, dan masih ada modal. Kami akan kembali berbisnis dengan online, tapi tetap dengan core business atau fokus tetap di ritel, dengan konsep e-grocery. Jadi cepat lambat, jejaknya Alibaba melalui Tokopedia di Indonesia, saya harus belajar walaupun dari skala kecil,” paparnya.

Belajar dari pengalamannya, ia merasa sangat perlu waspada soal dunia bisnis ke depan.

“Ini di Indonesia, yang perlu diwaspadai uang senilai Rp 14 triliun yang dibelanjakan oleh Jack Ma (bos Alibaba) untuk bisnis Tokopedia itu tidak main-main. Siapa yang merasa diri jumawa bahwa itu tidak akan ngefek? Secara statistic memang sekarang kurang dari 5 persen pengaruhnya. Tapi ke depan, uang Rp 14 triliun yang diinvestasikan Jack Ma melalui Tokopedia itu akan menjelma menjadi wabah buat kita,” paparnya.

Setelah pribadi Gede Hardi dan perusahaan mengalami pailit, apa saja yang terjadi?

Gede Hardi di bulan November ini diundang jadi pembicara di ITB untuk menjelaskan soal ini.

“Saya jawab siap. Karena apa, karena kondisi ini saya share ke grup alumni ITB, di jurusan saya Teknik Industri ITB. Saya sebar semuanya. Tidak perlu saya tutupi,” akunya.

Ia berpesan pada para pebisnis, dan meminta dukungan pada masyarakat Bali.

Gede Hardi mengingatkan agar tidak gegabah dalam menggunakan uang bank.

Komposisi investasi jangan sampai 70 persen pakai uang bank.

“Mudah-mudahan tim kurator menjual aset dengan harga yang wajar. Artinya, properti di Bali ini terkoreksi 30-40 persen. Sehingga kami dapat susuk atau kembalian untuk modal usaha baru,” jelasnya.

Menurutnya, bisnis apapun harus berorientasi pada digital online.

“Ada teman baik saya, bisnis di Lotte Mart, sedang mendesain e-grocery. Inovasi. Saya terlambat berinovasi,” ungkapnya.

Ditanya terkait prediksi masa depan, Gede Hardi mengaku outlook yang dimiliki terhadap ekonomi itu kurang.

“Saya jarang gaul dengan ahli ekonomi. Hanya main feeling saja. Sehingga outlook-nya ke depan seperti apa, politik ke depan seperti apa, kurang begitu bisa bicara. Juga tentang bagaimana dampak perbedaan pimpinan politik di Bali,” katanya mengakhiri











sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 minggu yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Hotel Sebelumnya Tutup Buka Lagi, Tamu Mulai Berdatangan

Sejumlah wisman mengunjungi Pura Besakih meski masuk kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Agung, beberapa waktu lalu AMLAPURA - P...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen