Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Bernada Kritikan, Dua Penjor di Tegalalang Gianyar Ini

Bernada Kritikan, Dua Penjor di Tegalalang Gianyar Ini

Written By Dre@ming Post on Selasa, 14 Juli 2015 | 4:40:00 PM

"Jaen Idup di Bali, yang artinya, enak atau asik hidup di Bali," kata I Wayan Wibawa Harta saat dihubungi, Selasa (14/7/2015).Kalimat itu dirangkainya dari daun kelapa hingga membentuk huruf-huruf yang berjejer. Satu penjor lainnya yang berdiri berhadapan juga menuliskan sesuatu."Yen Suud Ngadol Tanah, yang berarti kalau berhenti jual tanah," begitu bacaan penjor kreasi Tu Bagus Palayuda.
GIANYAR - Berbagai jenis kreasi penjor dibuat generasi muda untuk menyambut perayaan Galungan di Bali.

Ada yang tinggi menjulang, penuh pernak-pernak, megah sehingga membuat mata tercengang jika memandangnya.

Ada juga yang standar, berbahan seadanya, tampa dihiasi bling-bling ataupun tedeng aling-aling.

Namun di luar pakem penjor tersebut, ada penjor yang mampu mencuri perhatian.

Dua buah penjor yang tampak tidak seperti biasanya berdiri di Banjar Pujung Kaja, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali.

Di bagian punggung penjor dibubuhi seni instalasi berasal dari kalimat trendy yang selalu dilontarkan sejumlah orang Bali belakangan ini.

"Jaen Idup di Bali, yang artinya, enak atau asik hidup di Bali," kata I Wayan Wibawa Harta saat dihubungi, Selasa (14/7/2015).

Kalimat itu dirangkainya dari daun kelapa hingga membentuk huruf-huruf yang berjejer. Satu penjor lainnya yang berdiri berhadapan juga menuliskan sesuatu.

"Yen Suud Ngadol Tanah, yang berarti kalau berhenti jual tanah," begitu bacaan penjor kreasi Tu Bagus Palayuda.

Dua penjor tersebut seakan saling bercengkerama satu sama lain. Satunya melontarkan pernyataan, satunya lagi melengkapi pernyataan sebelumnya. Wayan Wibawa Harta mengatakan, penjor ini dibuat dengan bahan seadanya tanpa merogoh kocek sepeserpun.

"Samasekali tidak menghabiskan. Bahan nyari di masing-masing pekarangan. Hanya tenaga saja," kata pria yang pernah membuat penjor Bali Not For Sale ini.

Dua pemuda ini menjelaskan, makna yang tersirat dari dua penjor tersebut. Tulisan yang terbaca di punggung penjor merupakan wujud curahan hati. Mereka melihat selama ini, betapa gampang masyarakat Bali menjual tanahnya.

Cara itu tidak mereka setujui. Tanah bagi mereka adalah warisan leluhur yang tidak bisa dijual. Harga mati untuk dipertahankan dan harus dilestarikan. Jadi terminologi "Jaen Idup di Bali" yang belakangan marak terdengar mereka lengkapi dengan "Yen Suud Ngadol Tanah".

"Berarti kita berhenti untuk menjual tanah di Bali karena itu warisan leluhur yang tidak bisa dijual dan harus dilestarikan. Setelahnya baru jaen idup di Bali, tanpa investor yang merusak alam Bali yang sejatinya indah ini," tutur Wibawa Harta.

Kendati dibubuhi instalasi di bagian punggung, ia menegaskan penjor tersebut tidak lepas dari pakem.

Berbagai hasil bumi sebagai wujud persembahan atas kesuburan yang dilimpahkan Sang Hyang Widhi Wasa ada di dalamnya.

"Semua persembahan hasil alam tetap ada, dan seni itu relatif. Kalau kita terus membeli perlengkapan penjor, terus siapa yang akan membuat. Mari menjadi generasi yang memproduksi bukan generasi pembeli," tandasnya.







sumber : tribun
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    3 hari yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

MUDP Tak Larang Kremasi Hanya Harus Lapor Bendesa

"Tapi kami juga tidak melarang krama melakukan kremasi, sepanjang itu bisa dilakukan di desa pakraman yang nantinya sama-sama menjag...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen