Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , , » Diyakini Jejak Zaman Megalitikum, Disangga 1.000 Batu Bersusun

Diyakini Jejak Zaman Megalitikum, Disangga 1.000 Batu Bersusun

Written By Dre@ming Post on Senin, 30 Mei 2016 | 2:42:00 PM

Pura Batur Gangsian merupakan stana dari Ida Ratu Mas Melanyat, sebagai penguasa batu-batu purba, bentuk palinggihnya pun hanya berupa bebaturan yang dikelilingi wastra poleng. Keunikan Pura Batur Gangsian di Desa Pakraman Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng

Pura Batur Gangsian merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang berlokasi di Banjar Kapas Jawa, Desa Pakraman Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Keberadaan Pura Batur Gangsian dinilai sangat unik, karena di sekitar pura ini terdapat kurang lebih 1.000 batu yang dipercaya sudah ada sejak zaman Megalitikum. Banyak pamedek yang tangkil ke pura ini mendapatkan paica (anugerah) dari Ida Batara.

Batu-batu yang jumlahnya mencapai 1.000-an buah tersebut menumpuk dan tersusun rapi di areal bagian bawah Pura Batur Gangsian. Meski terlihat menjorok di tebing dan tidak menggunakan perekat beton, namun tumpukan batu-batu tersebut sangat kuat dan tidak pernah bergeser.

Ajaibnya, batu-batu tersebut memiliki ukuran yang hampir sama, dengan panjang 2 meter dan diameter sekitar 0,5 meter. Lokasi di mana batu-batu bersusun ini berada, sejak dulu dikenal sebagai kawasan suci yang keramat. Tidak ada yang tahu secara pasti, sejak kapan batu-batu bersusun dengan ukuran hampir sama tersebut berada di sekitar Pura Batur Gangsian.

“Kami selaku generasi penerus, tidak mengetahui secara pasti bagaimana sejarah dan kapan terbentuknya susunan batu-batu tersebut serta palinggih yang ada. Sebab, tidak ada prasasti yang menjelaskan semuanya. Tapi, menurut penuturan para tetua yang kami warisi secara turun temurun, batu-batu itu sudah ada sebelum penduduk tinggal di sini,” ungkap Kepala Desa (Perbekel) Tinggarsari, I Ketut Perba wa, saat ditemui NusaBali di kantornya, beberapa waktu lalu.

Ketut Perbawa menuturkan, keberadaan batu-batu bersusun tersebut dipercaya sudah ada sejak zaman Megalitikum. Muncul dugaan batu-batu tersebut mulanya akan digunakan untuk membangun sebuah candi. Sampai saat ini, keberadaan batu-batu tersebut belum perah diteliti oleh ahli seja rah maupun purbakala.

Di antara bebatuan tersebut, terdapat sebuah bangunan suci (palinggih) yang juga dipercaya sudah ada sejak masa lampau. Sedangkan Pura Batur Gangsian merup kan Pura Pengayatan yang dibangun krama setempat di atas palinggih satu-satu nya yang berada di antara bebatuan. Karena lokasi untuk mencapai tempat tersebut suci nan keramat ini sangat curam dan sempit, maka krama berinisiatif membangun Pura Pengayatan di atas tebing, yang kemudian disebut Pura Batur Gangsian.

Pura Batur Gangsian merupakan stana dari Ida Ratu Mas Melanyat, sebagai penguasa batu-batu purba terebut. Bentuk palinggihnya pun hanya berupa bebaturan yang dikelilingi wastra (kain) poleng.

Krama setempat amat percaya palinggih berupa bebaturan di pura Batur Gangisan ini memiliki kekuatan gaib. Di kawasan suci yang dikeramatkan ini, beragam keja dian aneh pernah dialami pamedek. Mulai dari kejadian menyeramkan, hingga mendapatkan paica berupa batu mulia yang diberikan oleh Ida Batara.

“Karena dipercaya sebgai kawasan suci yang keramat, banyak umat yang tangkil sembahyang, bahkan melakukan tapa semedi di sini. Dan, banyak dari mereka itu yang mendapatkan paica berupa batu mulia,” beber Ketut Perbawa. Krama setem pat, kata dia, juga mempercayai palinggih di antara batu-batu yang dibangun menjadi Pura Batur Gangsian merupakan pura kesuburan untuk lahan pertanian mere ka.

Piodalan Pura Batur Gangsian sendiri dilaksanakan setahun sekali pada Purnama ning Kasa. Ketika dilaksanakan piodalan, krama Desa Pakraman Tinggarsari yang mencapai 760 kepala keluarga (KK) tangkil untuk menghaturkan persembahyangan bersama. Sebelum puncak piodalan, lebih dulu dilakukan prosesi Mendak Ida Ba ta ra yang berada di palinggih bebaturan di bawah Pura Batur Gangsian. Sedangkan di akhir upacara piodalan (masineb), krama setempat biasanya nunas tirta untuk di si ratkan ke tumbuhan di kebun mereka, agar cepat berbuah. Maklum, sebagian be sar dari 760 KK krama Desa Pakraman Tinggarsari bekerja sebagai petani cengkih dan kopi.

“Krama di sini sangat percaya bahwa Ida Batara yang berstana di Pura Batur Gang sian sangat pemurah dan memberikan berkah kesuburan pada tanaman pertanian mereka. Makanya, setiapkali usai piodalan, lahan pertanian warga selalu mengala mi panen raya, berkat percikan tirta dari Pura Batur Gangsian,” tandas Ketut Perba wa.

Sementara itu, salah seorang krama Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, I Putu Gatot, mengatakan keberadaan Pura Batur Gangsian dengan ciri batu Megalitikum-nya, memberikan pengaruh spiritual yang sangat kuat terhadap warga sekitar. Me nu rut dia, banyak pamedek yang tangkil ke Pura batur Gangian untuk mohon anu gerah, kemudian hasil panennya jadi berlimpah.

Sedangkan keberadaan batu-batu besar bersusun di bawah Pura batur Gangsian, ka ta Putu Gatot, juga sangat pingit. “Tidak ada orang yang berani untuk menduduki batu sembarangan di areal tersebut,” jelas Putu Gatot yang sempat ditemui NusaBali di areal pura Batur Gangsian. Disebutkan, pemerintah Desa Tinggarsari beren cana akan menjadikan lokasi Pura Batur Gangsian sebagai kawasan wisata spiritual dan cagar budaya.










sumber : nusabali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen