Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , » Disuruh Pulang Pengungsi Ini Was-was, Diminta Ngungsi Mangku Sueca Malah Makemit

Disuruh Pulang Pengungsi Ini Was-was, Diminta Ngungsi Mangku Sueca Malah Makemit

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 30 September 2017 | 1:39:00 PM

Gunung Agung saat diabadikan dari Pura Besakih,Karangasem,Jumat (22/9/2017) (kiri). Jro Mangku Sueca saat ngayah di Pura Besakih, Kamis (28/9/2017) sore (kanan).
Tiap Hari Rasakan Gempa, Pengungsi di Luar Radius Bahaya Was-was Diminta Pulang, Ini Katanya

SEMARAPURA - Pengungsi asal Banjar Benekasa, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, I Ketut Simpen (50), sibuk merapikan pakaiannya di Pos Pengungsian GOR Swecapura, Gelgel, Klungkung, Jumat (29/9/2017) malam.

Rumahnya berada di Desa Muncan bagian atas dan masuk radius aman terdampak erupsi Gunung Agung.

Meskipun demikian Simpen tetap khawatir jika diminta pulang dari tempat pengungsian, seperti rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.

“Kalau diminta pulang saya masih ragu. Saya masih merasa was-was jika status Gunung Agung belum normal. Siapa yang bisa jamin jika kampung saya aman? Gempa yang kami rasakan nyaris setiap hari, kami takut sekali,” kata Simpen saat ditemui di Gor Swecapura, semalam.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana Gunung Agung di ruang rapat Posko Induk Pelabuhan Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Karangasem, Jumat siang, pemerintah berencana memulangkan ribuan pengungsi dari wilayah zona aman atau di luar radius 9 km sampai 12 km.

Sedang pengungsi yang wilayahnya masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) atau berada di radius 6 km hingga 9 km dari puncak Gunung Agung tetap berada di pengungsian.

"Yang wajib mengungsi adalah mereka yang berada di KRB I, II, dan III, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 70 ribu orang, mereka sudah harus mengosongkan tempat tinggalnya. Dan jika saat ini terdapat lebih dari 140 ribu pengungsi, itu berarti ada warga yang berada di kawasan aman yang ikut mengungsi,” kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika usai rapat koordinasi kepada awak media.

"Jadi warga yang dari 51 desa ini akan dipulangkan ke rumahnya masing-masing, karena tidak ada alasan untuk mengungsi. Ini jadi beban. Pertama beban bagi yang menerima, dan kedua beban karena meninggalkan rumahnya. Tolong ini disosialisasikan," tambah Pastika.

Sebelumnya jumlah pengungsi diperkirakan hanya sekitar 70 ribu orang dari 27 desa yang berada di KRB III dan II. Namun, ternyata jumlah pengungsi membludak, bahkan sampai dua kali lipat. Hingga Jumat (29/9/2017) pengungsi yang terdata sebanyak 144.389 orang dan tersebar di 475 titik di sembilan kabupaten/kota di Bali.

Dengan demikian ada 75 ribu pengungsi dari 51 desa/kelurahan yang masuk zona aman.

Untuk diketahui, total ada 78 desa/kelurahan di Karangasem.

Adanya kepanikan atau ketakutan, membuat warga yang daerahnya tidak masuk pemetaan rekomendasi bahaya juga ikut mengungsi.

Inilah yang berakibat membludaknya jumlah pengungsi sehingga menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah dalam hal penanganannya.

Namun, warga pengungsi dari zona aman enggan jika diminta pulang selama Gunung Agung masih berstatus Awas (Level IV).

Mereka takut jika sewaktu-waktu Gunung Agung benar-benar meletus.

Walaupun mulai merasa jenuh di pengungsian, mereka memilih untuk bertahan.

“Dari cerita orangtua saya, saat Gunung Agung meletus tahun 1963, kampung saya diterjang hujan abu yang hebat. Tidak ada siang, dan langit terasa gelap sepanjang hari. Banyak yang sakit dan meninggal. Kami takut jika itu terjadi lagi, jadi kami lebih memilih untuk bertahan di pengungsian,” ujar Simpen.

Perwakilan dari sejumlah desa yang tidak masuk zona rawan juga mempertanyakan keputusan pemerintah tersebut. Perbekel Desa Duda Timur, I Gede Pawana, mengatakan pemerintah seperti plin-plan.

Dikatakan, seluruh warga Duda Timur mengungsi karena ada surat imbauan dari Camat Selat.

Padahal secara geografis Duda Timur tidak termasuk rawan bencana.

"Binggung sama pemerintah. Dulu suruh warga (Duda Timur) ngungsi, sekarang malah diimbau balik. Saya tegaskan pemerintah plin-plan dan panik," kata Gede Pawana saat ditemui di Posko Utama Dermaga Cruise, kemarin.

Sebelum warga mengungsi, Desa Duda Timur dinyatakan KRB I. Tapi saat ini masuk zona aman.

Sempat ditanya ke Kantor Camat, dan diimbau untuk mengungsi.

"Saat diimbau mengungsi, warga panik dan resah. Sekarang warga sudah mengungsi malah disuruh pulang sama pemerintah. Nanti kalau sudah pulang siapa yang mau bertanggung jawab?" tanya Pawana.

Warga Desa Duda timur mengungsi ke tiga tempat. Satu di antaranya Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung. Sisanya menyebar ke Pos Pengungsian di Kecamatan Manggis dan Kecamatan Sidemen.

Pastika yang turut didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat, Wakil Gubernur Bali, Bupati, dan Wakil Bupati Karangasem, Deputi Pencegahan Dini Bencana, dan jajaran instansi lainnya yang terkait, menjamin para warga aman di tempat tinggalnya.

Pemerintah akan menyiapkan segala fasilitas yang diperlukan guna memulangkan para pengungsi dari 51 desa.

Gubernur pun meminta pemerintah daerah harus segera membuat kartu identitas pengungsi dengan menyertakan nama, umur, dan desa asal.

Kartu sudah akan dibuatkan oleh setiap bupati untuk validasi data pengungsi.

Tugas ini harus tuntas dalam waktu tujuh hari.

“Pada tahapan rekonsiliasi setelah tahapan evakuasi, seharusnya kita sudah memiliki validasi data pengungsi. Untuk itu saya kasi waktu seminggu untuk memulangkan mereka, dan saya jamin warga aman, jikapun Gunung Agung meletus mereka hanya terkena dampak abu vulkanik, dan lahar dingin hanya terjadi jika saat letusan dibarengi hujan. Saat letusan kita akan tetap lakukan pengamanan,” ujar Pastika.

Manfaatkan Balai Banjar

Penetapan wilayah yang berada di zona aman dan bahaya berdasarkan hasil koordinasi antara BNPB dan Pusat Vulkanilogi dan Mitigasi Bencan Geologi (PVMBG).

Adapun 27 desa yang masuk KRB tersebar di enam kecamatan.

Sebanyak 27 desa yang masuk KRB II dan III yang wajib mengungsi yakni 7 (tujuh) desa di Kecamatan Kubu yakni Desa Tulamben, Kubu, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Ban, dan Tianyar (Tianyar tengah dan barat aman).

Kemudian 5 (lima) desa di Kecamatan Abang yakni Desa Pidpid bagian atas (Laga dan sekitarnya), Nawekerti, Kesimpar bagian atas yang berbatasan dengan Wates-Datah, Datah bagian atas (Kedampal, Karangsari, Wates), dan Ababi bagian atas dan barat (Umaanyar, Besang, dan sekitarnya).

Selanjutnya, sebanyak 3 (tiga) desa di Kecamatan Karangasem yakni Desa Padangkerta (kecuali Desa Adat Peladung dan Temega), Kelurahan Subagan (kecuali Jasri) dan Kelurahan Karangasem (yang dekat Tukad Janga).

Selain itu juga 4 (empat) desa di Kecamatan Bebandem yakni Desa Buwana Giri (bagian atas), Budekeling (dekat Sungai Embah Api), Bebandem (bagian atas) dan Jungutan.

Kemudian 5 (lima) desa di Kecamatan Selat yang juga diperintahkan mengungsi yakni Duda Utara, Amerta Bhuana, Sebudi, Peringsari bagian atas, dan Muncan bagian atas. Serta yang terakhir yakni 3 (tiga) desa di Kecamatan Rendang yakni Besakih, Menanga bagian atas, serta Pempatan bagian atas.

Para pengungsi dari 27 desa tersebut akan ditampung di posko-posko yang memanfaatkan wantilan Balai Banjar, Balai Desa, Gedung Serba Guna maupun Gedung Olah Raga (GOR) yang sepenuhnya berada di Kabupaten Karangasem.

“Kita tempatkan di wantilan-wantilan di seputaran Karangasem untuk mempermudah koordinasi dan penyaluran logistik, dan yang terpenting demi kenyamanan para warga pengungsi. Bayangkan coba gimana kondisi mereka jika harus dalam tenda dalam jangka waktu lama, gimana kesehatan mereka, saat siang panas dan berdebu, saat hujan ya kebanjiran. Jika sudah diwantilan maka mereka akan lebih nyaman. Dan warga yang pemilik wantilan harus siap dan bersedia menerima. Nanti akan disiapkan fasilitasnya, kita akan sediakan tandon air dan lain sebagainya,” jelas Pastika.

Pengambilan logistik akan dihandel klian banjar sebagai korlip dan klian desa sebagai kordes.

Pengungsi yang tinggal di banjar akan disesuaikan dengan kapasitas bale banjar agar tidak overload.

Kepulan Asap Kawah Gunung Agung Agak Tebal dari Sebelumnya, Rekahan Meluas Ratusan Meter

AMLAPURA - Sejak munculnya kepulan asap putih (solfatara) beberapa kali dari puncak Gunung Agung, menandakan rekahan kawah kian meluas.

Rekahan terjadi di sekitar kawah gunung terbesar di Bali ini.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM, I Gede Suantika, Jumat (29/9/2017).

"Dua hari terakhir ini mulai terjadi kepulan asap kawah agak tebal, dibandingkan kepulan asap sebelumnya yang masih terlihat tipis. Itu menunjukkan tembusan-tembusan solfatara makin meluas. Rekahannya terjadi di dasar kawah," jelasnya di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem.

Terjadinya rekahan di kawah Gunung Agung ditandai dengan munculnya asap solfatara.

"Kita kembali flashback adanya penemuan oleh pendaki dari Indonesia yang menemukan adanya tembusan solfatara di atas. Tanggal 13 September 2017 itu kan asap tidak bisa dilihat secara visual dari kejauhan 12 km dari puncak Gunung Agung. Kemudian seminggu terakhir, mulai terekam, terlihat asap dengan ketinggian 50 meter sampai dengan 200 meter," jelasnya.

Dari tanggal 13 September 2017 itu, dikatakan Suantika, hanya beberapa titik tembusan solfatara (asap kawah).

Namun beberapa hari terakhir hingga kini sudah ada bebebera rekahan tambahan.

"Kemudian data satelit juga mendukung, bahwa ada rekahan di dasar. Rekahannya banyak ya, kira-kira beberapa ratus meter. Kalau diameter kawah sendiri itu sekitar 600 meter. Jadi intinya kawah sudah berubah dibandingkan keadaan kawah di tanggal 13 September 2017," ungkapnya.

Ditanya dengan bertambahnya rekahan apakah mengindikasi terjadinya gempa tremor, Suantika mengiyakan.

"Tremor iya. Nanti kalau meletus ada tremor," tandasnya.

Jika menuju erupsi, apakah kegempaan semakin kuat?

Suantika menyatakan kegempaan tidak akan bisa terbaca dan jumlahnya kian banyak.

"Gempanya sudah tidak bisa dibaca. Gempanya banyak sekali. Kalau sudah erupsi, gempanya tidak terasa. Mungkin hanya airsoft saja yang kita dengar. Gempa tremor yang terjadi terus-menerus tapi tidak terasa. Tapi bisa terdeteksi oleh seismograf, karena kan sensitif," paparnya.

Skenario erupsi Gunung Agung berawal munculnya asap putih (solfatara), kemudian asap kian menebal dan terjadi perubahan warna.

"Setelah asap putih tipis, secara visual asap makin abu-abu tebal, makin menghitam, dan makin tinggi. Itu bisa dilihat, dan itu sudah bisa kita anggap erupsi. Sekarang kan asapnya masih terlihat warna putih. Setiap pagi kan kita bisa lihat," terangnya.

Apakah erupsinya kecil atau besar, Suantika kembali mengacu ke skenario letusan Gunung Agung tahun 1963.

"Mungkin bisa saja ya, erupsinya bergulung-gulung dulu, sesuai skenario letusan 1963. Kepulan abu tinggi, disusul lelehan lava dan awan panas. Mungkin juga ada eksplosif agak besar, itu skenario kedua, mungkin," ujarnya.

Terkait dengan kegempaan, Suantika menyatakan, tujuh hari terakhir ini, fluktuasi jumlah kegempaan di atas angka 500 gempa tektonik dalam, sekitar 300 gempa vulkanik dangkal, serta terjadi hempa teknonik lokal 60 ke atas.

"Itu artinya kegempaan Gunung Agung masih kritis, karena gempa-gempa yang terasa, sehari rata-rata terjadi 10 kali dalam seminggu terakhir ini," jelasnya.

Suantika pun kembali menegaskan bahwa saat ini Gunung Agung masih Level IV (status Awas), dan masih kritis.

"Jadi sudah siap mau meletus," tegasnya.

Pasang Tiltmeter

Sementara itu, PVMBG kembali memasang dua alat tiltmeter yang merupakan pendeteksi kembang kempesnya gunung.

Alat tersebut dipasang di badan Gunung Agung bagian utara, tepatnya di Desa Ban, Kecamatan Kubu.

Suantika menjelaskan, pemasangan tiltmeter untuk mengetahui kembang kempesnya gunung dan medeteksi volume material yang terkandung di dalam Gunung Agung.

Alat tiltmeter ditambah untuk mengetahui kandungan volume material yang akan keluar dari kawah Gunung Agung.

Sampai kini, katanya, gunung terus mengembang hingga berapa milimeter.

Diprediksi material yang keluar akan meningkat.

Untuk Gunung Agung tiltmeter yang dipasang baru satu unit.

Lokasi berada di badan Gunung Agung di Desa Besakih, Kecamatan Rendang.

Alat tersebut beroperasi maksimal, tapi belum bisa mendeteksi pengembungan bagian utara Gunung Agung.

"Semakin banyak pasang (tiltmeter) semakin bagus. Kita tahu volume material yang keluar dari kawah gunung. Antisipasi hal terburuk yang terjadi," ungkap Suantika.

Pernah Ada Kejadian Mistis, Jangan Langgar Pantangan Ini Bila Mendaki Gunung Agung

KARANGASEM - Gunung Agung adalah gunung tertinggi sekaligus yang paling disakralkan umat Hindu di Bali.

Tak heran, banyak kisah mistis dan peraturan adat yang wajib ditaati pengunjung.

Terlebih lagi, Gunung Agung terbuka untuk pendaki dari manapun.

Selain mendaftarkan diri di pos pendakian, pendaki juga wajib menaati peraturan adat serta menghindari pantangan-pantangan tertentu.

"Salah satu pantangannya, jika ada keluarga dekat atau sepupu yang meninggal tidak diperbolehkan mendaki gunung. Karena mereka dalam keadaan bersedih," tutur Koordinator Pemandu Pendakian Gunung Agung, Komang Kayun kepada KompasTravel.

Pantangan lainnya, lanjut Komang, adalah saat haid atau datang bulan bagi wanita.

"Pendaki juga tidak boleh membawa bahan makanan dari daging sapi, juga membawa perhiasan dari emas," tambahnya.

Lalu bagaimana jika keluarga dekat meninggal dan pendaki tetap ingin menaiki Gunung Agung? Komang Kayun menyebutkan bahwa ada jangka waktu tertentu, terutama bagi pendaki yang anaknya baru meninggal.

"Bagi yang anaknya baru meninggal, itu (bisa mendaki setelah) dihitung dari dikubur sampai 42 hari. Kalau mati biasa, itu 21 hari. Mati bunuh diri itu termasuk yang 42 hari," paparnya.

Lalu bagaimana jika orang tua yang meninggal? Komang Kayun menyebutkan bahwa masa berkabung adalah 11 hari.

Dalam 11 hari itu, seseorang dilarang naik Gunung Agung.

Lalu apa dampaknya jika pendaki mengindahkan peraturan adat tersebut?

Komang Kayun menjelaskan beberapa kasus mistis, yang terjadi di luar nalar jika pendaki tidak mematuhi aturan.

"Saya sering lihat sendiri (hal mistis) muncul. Misalnya (pendaki) membawa daging sapi. Itu angin menghalangi kita naik. Seperti sampai tak bisa jalan," kisahnya.

Tak ada salahnya mengikuti aturan adat masyarakat setempat.

Jika status Gunung Agung telah kembali normal, Anda bisa menikmati keindahan gunung tertinggi di Pulau Dewata ini ditemani pemandu lokal.

Jro Mangku Ini Tiap Hari Makemit di Pura Besakih, Begini Kesaksiannya saat Gunung Agung Meletus 1963

DENPASAR - Sejak ditetapkan status awas, Jro Mangku Sueca sempat sehari mengungsi di Denpasar, Bali.

Tak nyaman di pengungsian, pemangku di Pura Besakih ini memilih untuk ngayah dan mekemit tiap hari di Pura Besakih yang berjarak 6 km dari Puncak Gunung Agung.

"Saya dapat juga mengungsi pada Sabtu malam ke Denpasar. Tapi saya berpikir, ngapain saya menjauhi beliau. Dan akhirnya saya mekemit (bermalam dan berjaga) di sini," kata Jro Mangku Sueca saat ditemui di Pura Penataran Agung Besakih, Karangasem, Bali.

Selama mekemit di Pura Besakih, pria berusia 78 tahun ini merasa biasa-biasa saja.

Namun, ketika terjadi gempa yang cukup keras, Mangku asal Banjar Bangun Sakti, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, itu mengakui bahwa dirinya ketakutan.

"Tapi yang kami takuti hanya getaran ini. Tapi saya berpikir kalau menghindar juga akan kembali juga ke asal," katanya pasrah.

Selama mekemit di Pura Besakih, Jro Mangku mengaku selalu berdoa kepada Ida Bhatara bhatari yang ada di Pura Besakih agar tidak erupsi.

Jika pun harus ditebus dengan upacara Yadnya, Mangku Sueca mengaku siap.

"Saya berdoa kepada beliau, agar umatnya dikasih ampun, mungkin ada kesalahan di dalam ini. Itu saya mohon kepada beliau. Kalau bisa ditebus dengan upacara akan kami akan lakukan dengan upacara," harap pria saksi letusan Gunung Agung pada 1963 silam itu.

Mangku ini tak sendirian ngayah di Pura Besakih.

Ada juga sejumlah Jro Mangku lainnya yang rutin ngayah di Pura terbesar di Bali ini.

Mereka mengaku tenang karena pada saat letusan 1963, Pura Besakih tidak terkena jatuhan awan panas dan lava.

Di pura ini hanya terkena dampak hujan abu dan debu serta hujan batu.

Pada 5 Oktober 2017, akan digelar upacara persembahyangan massal di Pura Besakih yang diikuti oleh krama sekitar dalam rangka Purnama Kapat.

"Sekarang sudah persiapan. Pas purnama, yang sembahyang warga di sini. Nanti akan ada warga tempek-tempekan yang nunas paice," jelas Jro Mangku.

Mangku Sueca bercerita, pada saat letusan Gunung Agung 1963 silam, waktu itu tepat saat digelarnya karya atau piodalan di Pura Besakih.

Waktu itu, dia mengaku krama pemedek di pura tidak merasakan gempa pada saat detik-detik menjelang meletusnya gunung agung 1963 silam.

"Trus pas malem itu, tiba-tiba ada ledakan duaar keluar dah api menyembur dari kawah Gunung Agung. Makanya waktu itu tari-tarian malamnya berhamburan, sebelum meletus tidak kami rasakan," kenang Mangku Sueca.

Namun demikian, dia tidak berani memastikan saat detik-detik menjelang meletus tidak ada gempa sama sekali.

"Sebab, waktu itu kondisinya lagi pada sibuk di pura. Mungkin karena banyaknya aktivitas jadi tidak merasakan gempa-gempa," terangnya.

Pantauan sore di Pura Besakih, tampak dua orang krama bersembahyang.

Mereka adalah Nyoman Nyunyur dari Banjar Kiduling Kreteg, Desa Menek Angin, Kecamatan Rendang, Karangasem yang rumahnya berjarak 200 meter dari Pura Besakih.

Dia mengaku rutin sembahyang ke pura Besakih meskipun sudah mengungsi di Klungkung.

Selain bersembahyang, dirinya pulang untuk melihat dan memberi makan dua sapi yang hingga kini belum mau ia jual.

"Harga jualnya terlalu murah, makanya saya tidak jual," kata Nyunyur seraya mengaku dirinya rutin bolak-balik dari pengungsian ke rumahnya.

"Teman-teman saya juga ada. Tapi tidak banyak. Ada yang takut balik," tutur Nyunyur.

Sementara itu, Kesubid Mitigasi Gunung Api, PVMBG KESDM, Devi Kemil mengatakan, karena saat ini sudah status awas seharusnya semua pihak menyadari bahwa Gunung Agung bisa meletus kapan saja.

Apabila sudah diperingatkan tapi tetap tidak mengindahkan, menurut Kemil, itu adalah pilihan masing-masing.

"Yang jelas sudah ditetapkan mana area bahaya. Kalau ada yang tidak mematuhi itu pilihan masing-masing," jelas Kemil.

Gunung Agung saat ini, lanjutnya, sudah kondisi kritis.

Dia mengatakan, letusan gunung adalah sesuatu yang alamiah terjadi.

Jika sudah waktunya, gunung api akan meletus.

"Seharusnya kalau beliau (gunung agung) permisi mau beraktivitas, harusnya kita menghormati," harap Kemil.









sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen