Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Air ke Kawah Indikasikan Gangguan Hidrologis, Naiknya Magma Ke Permukaan

Air ke Kawah Indikasikan Gangguan Hidrologis, Naiknya Magma Ke Permukaan

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 07 Oktober 2017 | 10:29:00 AM

Kondisi kawah Gunung Agung, Jumat (6/10/2017) yang diunggah akun Facebook 'Karl Kaddouri'
AMLAPURA - Aksi nekat menerobos zona berbahaya di kawasan Gunung Agung kembali terjadi.

Sebelumnya ada warga lokal menerobos zona larangan hingga ke puncak kawah, dan kemudian mengunggah foto-fotonya di dekat kawah ke media social (medsos).

Kemarin adalah warga negara asing melalui akun Facebook "Karl Kaddouri" mengunggah video yang memperlihatkan kondisi kawah Gunung Agung. Video diunggah pada Jumat (6/10) dan menjadi viral di sosial media.

“Ini jelas pelanggaran. Meski sudah tahu berbahaya dan dilarang memasuki zona berbahaya dari Gunung Agung, apalagi sampai ke puncak kawah, namun semua itu dilanggar. Sangat berbahaya karena dapat tiba-tiba terjadi letusan. Berbahaya bagi orang tersebut maupun bagi tim SAR jika terjadi letusan dan diketahui ada yang menjadi korban di puncak kawah,” kata Sutopo Purwo Nugroho,

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam siaran pers, Jumat (6/10/2017) malam.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengaku belum mengkonfirmasi keaslian video tersebut.

Meski demikian, pihaknya mengaku bakal meneruskan informasi ini kepada seluruh aparat yang menjaga di jalur pendakian.

"Kami belum konfirmasi keaslian video tersebut. Tapi saya akan teruskan kepada aparat terkait yang menjaga di jalur-jalur pendakian Gunung Agung," kata Dewa Made Indra melalui pesan WhatsApp kemarin.

Ditanya ada berapa titik jalur pendakian di Gunung Agung, Dewa Made Indra tidak menjawab pertanyaan.

Pun saat ditanya berapa petugas yang mengamankan lokasi di jalur pendakian, dia juga tidak menjawab.

Sutopo mengatakan, seharusnya pendakian ke puncak Gunung Agung sudah dilarang sejak gunung api itu berstatus Waspada (Level II).

“Tapi seringkali pendaki melewati tempat-tempat yang tidak dijaga. Mereka tetap masuk dan melanggar," kata Sutopo melalui sambungan telepon.

Aksi nekat macam begitu, menurut Sutopo, merugikan diri sendiri dan juga tim SAR apabila Gunung Agung meletus ketika diketahui ada yang sedang mendaki. Sebab, proses evakuasi akan susah sekali.

Sutopo menduga orang yang naik ke puncak Gunung Agung itu hanya ingin mencari ketenaran. Hal ini, menurut dia, juga bisa menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

Dijelaskan Sutopo, Gunung Agung saat ini sudah mengalami rekahan dan asap keluar dari kawah hingga ketinggian 50-100 meter dengan tekanan rendah. Keluarnya asap mengindikasikan adanya pemanasan ke permukaan. Ketebalan asap menandakan bahwa proses degassing lebih intensif.

Warna putih mengindikasikan adanya dominasi air (yang dipanaskan).

Suara seperti pesawat mengindikasikan tekanan yang tinggi.

Air yang keluar ke kawah lewat lapangan solfatara mengindikasikan adanya gangguan hidrologis di bawah Gunung Agung akibat naiknya magma mendekati permukaan.

“Artinya sangat berbahaya berada di dekat kawah Gunung Agung. Masyarakat tidak tahu apa yang terjadi di dalam Gunung Agung. Kalau dilihat dari luarnya saja, memang asapnya masih kelihatan kecil. Yang jelas Gunung Agung saat ini masih dalam kondisi kritis dan bisa meletus kapan saja. Untuk itu saya harap tidak ada yang menerobos lagi," harap Sutopo sambil meminta kepada pihak terkait agar menjadikan pelajaran peristiwa pelanggaran atas larangan pendakian itu.

Nekat dan Tewas

Sebelumnya,Sutopo menambahkan, ada warga masyarakat yang nekat ke kawah Gunung Agung meski sudah dilarang.

Mereka menggunakan logika spiritual. Selain itu juga ingin mendoakan agar gunung tidak meletus.

Namun, kata Sutopo, disayangkan bahwa pendakian ke kawah itu disebarluaskan ke media sosial sehingga menimbulkan keresahan masyarakat.

Dia mengungkapkan, adanya sebagian masyarakat tetap nekat menerobos ke puncak gunung meskipun berbahaya juga terjadi di gunung lain.

Tahun 2007 saat Gunung Kelud berstatus Awas, tokoh masyarakat setempat nekat masuk ke zona berbahaya dan membawa sesaji untuk melakukan ritual dengan maksud berkompromi dengan arwah Lembu Suro yang diyakini bersemayam di dalam kawah Gunung Kelud.

Di Gunung Sinabung, ada warga yang menerobos ke zona berbahaya karena akan melakukan ziarah ke leluhurnya.

Begitu juga ada yang nekat untuk melihat gunung dari dekat dan mendokumentasikan.

“Tiba-tiba terjadi letusan Sinabung disertai awan panas sehingga menyebabkan 17 orang meninggal dunia pada 11 Februari 2014 lalu,” kata Sutopo.

Jika terjadi letusan, suhu lava pijar yang keluar dari kawah sekitar 700-1.200 derajat Celsius. Begitu juga awan panas dengan kecepatan sekitar 200-300 kilometer per jam dengan temperatur mencapai 600 - 800 derajat Celsius.

“Ini sangat mematikan bagi orang yang ada di dekatnya,” ucap Sutopo.

Masyarakat dilarang memasuki zona berbahaya di Gunung Agung. Secara visual kelihatannya aman, karena tanda-tanda letusan belum tampak. Namun di dalam gunung masih bergolak. Dorongan magma ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tapi terekam dalam alat-alat pemantau yang dipasang oleh PVMBG.

“Janganlah ambil gambar dan video lalu disebarluaskan ke media sosial. Tindakan ini membuat bingung dan resah masyarakat. Tak ada manfaatnya dengan mengunggah ke media sosial. Biarlah Gunung Agung punya gawe, yang penting semua warga selamat,” ujar Sutopo.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Mitigasi Gunung Api PVMBG, I Gede Suantika menjelaskan, kemungkinan saat ini magma Gunung Agung masih mengumpulkan energi atau sedang dalam proses penambahan energi.

"Jadi kami punya model, kemungkinannya pergerakan magma masih mengakumulasikan energi lagi," kata Suantika, Jumat (6/10), saat menjelaskan bahwa tak terasanya gempa dalam beberapa hari ini tak otomatis menurunkan status Gunung Agung yang masih Awas.

Suantika mengatakan, indikator untuk menurunkan status Awas, salah-satunya adalah pada aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Agung.

PVMBG bakal mengevaluasi dan bisa menurunkan status Awas apabila jumlah gempa vulkanik di bawah 150 kali dalam sehari.

"Kalau jumlah kegempaan sudah jauh di bawah (di bawah 150 kali) ya bisa diturunkan dalam dalam satu atau dua minggu. Tapi, saat ini jumlah kegempaan masih di atas 500 kali sehari,” kata Suantika.

Sementara itu, Kepala PVMBG, Kasbani menjelaskan, untuk saat ini belum bisa dikatakan aktivitas Gunung Agung mengalami penurunan Yang terjadi adalah aktivitas kegempaannya masih fluktuatif atau naik-turun," kata Kasbani.








sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen