Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » Ini Nyata! Sanghyang Jaran Masuk Ketubuh Manusia, Kobaran Api itu di Injak, Ditendang

Ini Nyata! Sanghyang Jaran Masuk Ketubuh Manusia, Kobaran Api itu di Injak, Ditendang

Written By Dre@ming Post on Selasa, 20 Desember 2011 | 12:15:00 PM

Senin, 19 Desember 2011, 17:09

Tarian Sanghyang oleh Sekaa Kecak Shanti Budaya
Dimalam yang kelam Jumat, 16 Desember 2001 gerimis menyapu bumi Ungasan, disebuah banjar yang bernama Br. Shanti Karya Ungasan terlihat berbagai persiapan untuk melaksanakan pementasan tari kecak di Pura Manik Tirta. Terlihat penari mulai berhias sesuai dengan peran masing-masing. Persiapan telah berakhir merekapun mengadakan persembahyangan di Pura Mrajan Banjar.

Sekira pukul 20.00 Wita kami dari Dre@ming Post ikut rombongan menuju Pura yang diempon oleh Kak Repyeg dan Kak Numreg itu.

Kamera kami pasang tepat didepan pura dimana tari kecak dan Sanghyang akan di pentaskan. Sempat terjadi hujan gerimis yang membuat kami panik karena kamera yang kami pasang tidak tahan hujan. Namun beruntung hujan tak jadi turun.

Sekira pukul 21.39 Wita kamera yang sudah kami standby-kan menangkap gambar para penari dengan
nyanyian "cak.... cak.....cak......" dari dalam pura yang menandakan tarian akan dimulai.

Sebenarnya Tari kecak itu apa sih?.

Kecak adalah jenis tari Bali yang paling unik. Kecak tidak diiringi dengan alat musik / gamelan apapun, tetapi ia diiringi dengan panduan suara sekitar 100 orang pria. la berasal dari jenis tari Sakral "Sang Hyang". Pada tari Sanghyang seorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para Dewa atau Leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Epos Ramayana ke dalam tari tersebut.

Wow, penjelasan ini sungguh membuat bulu kuduk merinding. Lalu apa yang dipentaskan Sekaa Kecak Santhi Budaya?. Inilah jalan ceritanya:

Karena akal jahat Dewi Kekayi (ibu tiri) Sri Rama, Putra mahkota dari kerajaan Ayodya, diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata. Dengan ditemani adik lelakinya serta istrinya yang setia Sri Rama pergi ke hutan Dandaka. Pada saat mereka berada dihutan, mereka diketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwanapun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita. la lalu membuat upaya untuk menculik Sita, ia dibantu oleh patihnya, Marica. Dengan kesaktiannya Raksasa Merica menjelma menjadi seekor kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian maka mereka pun berhasil memisahkan Sita,Rama dan Laksmana. Rahmana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengka Pura. Dengan menggunakan tipuan ini maka Rama dan Laksmana berusaha menolong Sita dari cengkraman raja yang kejam itu. Atas bantuan bala tentara kera dibawah panglima Sugriwa maka mereka berhasil mengalahkan bala Rahwana yang dipimpin oleh Megananda, putranya sendiri. Akhirnya Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.

Penonton yang hadir tanpak tidak sabar menunggu adegan per adegan yang diperankan oleh penari. Sinar lampu yang redup menambah suasana sakral dalam adegan yang dimainkan oleh penari:

Adegan I : Rama,Sita, dan Kijang Emas.

Rama,Sita dan Laksmana memasuki arena lalu muncul Kijang Emas. Sita meminta Rama untuk menangkapnya, Rama meninggalkan Sita yang dijaga oleh Laksmana. Tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong. Menurut Sita, itu pasti suara Rama, lalu menyuruh Laksmana untuk membantunya. Karena dituduh hendak mencari untung atas kematian Rama. Laksmana naik pitam dan pergi meninggalkan Sita seorang diri.

Adegan II : Sita dan Rahmana

Rahwana muncul, menculik Sita serta menerbangkannya ke Alengka.

Adegan III: Sita,Trijita dan Hanoman

Dengan ditemani Trijata, keponakan Rahwana, Sita meratapi nasibnya di taman istana Alengka. Hanoman (Si Kera Putih) muncul. la berkata bahwa ia adalah utusan sang Rama, dan iapun memperlihatkan cincin Rama yang dibawanya. Sita lalu menyerahkan cincinya untuk diserahkan kepada Rama dengan pesan, agar Rama segera menyelamatkannya.

Adengan IV : Rama, Megananda dan Garuda

Adegan ini memperlihatkan Rama di medan perang melawan Megananda, Putra Rahwana. Megananda menembak Rama dengan panah saktinya, yang tiba-tiba berubah menjadi seekor naga yang kemudian melilit Rama. Dalam keputusan ia lalu memanggil Garuda, sekutunya. Garuda lalu membebaskan Rama.

Adegan V : Rama,hanoman

Muncullah hanoman membantu rama segera terjadi pertarungan antar rahwana dan rama ,hanoman. Pertunjukan diakhiri dengan kemenangan di pihak Rama. Akhir cerita Rama, Sita, Laksmana kembali pulang dengan rasa bahagia.

Adegan V berakhir bukan berarti pertunjukkan selesai namun disinilah awal suasana horor yang ditimbulkan makin menjadi kental. Sekaa kecak yang tadinya duduk melingkar, mulai berdiri dan membelah jadi dua bagian barat dan bagian timur. Kemudian duduk rapi sesuai posisi masing-masing.

Tampak jero mangku dan beberapa sekaa membawa gundukan sabut kelapa kedalam arena pentas, salah seorang anggota membakar gundukan kulit kelapa itu, karena disiram semacam bensin tentu kobaran api yang membakar bertambah besar. 

Terlihat dua penari memasuki arena pertunjukan. Merekapun disiratin tirta (air suci) oleh pemangku dengan harapan tidak terjadi hal yang membahayakan diri mereka.

Begitu nyanyian sakral Sanghyang Jaran dikumandangkan penari itu mulai tidak sadar. Sanghyang Jaran ternyata telah memasuki raga mereka, dengan pandangan yang sangat liar mereka mencari kobaran api menendang, menginjak-injak serta menari diatas api tersebut.

Kami yang sedang menyshooting pertunjukan ini, hampir saja terkena api yang sebagian terlempar karena tendangan sang penari. 

Dua orang lelaki kesurupan ini berjingkrak-jingkrak seperti tingkah laku seekor kuda. Ia menari diatas bara api terbuat dari sabut kelapa (tonton video). Jika kidung Sanghyang menuntunya keapi, maka iapun akan menari diatas api.

Api yang keluar tidak boleh dikumpulkan dengan cara lain selain diambil dengan tangan jika sampai misalnya sabut kelapa yang terbakar itu kita tendang penari itu akan mengejar dan memandikan kita dengan api yang ada, begitu cerita penari yang akarab dipanggil Nang Opor di sela-sela pertunjukan ini.
Yang anehnya lagi kalau kidung atau nyanyian sakral pengiring itu terhenti saat penari masih menari di bara api, penari itu akan tersadar dan merasakan panas yang luar biasa.

"Nanang taen pas pentas sedeng ngigel di apine, nyan kengen kaden tukang kidunge jag mestop lagune, ngemasin nanang puun baise". begitu cerita penari yang pernah jadi juara kidung tingkat kabupaten ini. Yang artinya Pak pernah ketika pentas di atas api, tak tahu kondisinya gimana, Juru kidung menghentikan nyanyiannya, akibatnya terbakar kaki bapak.

Pentas kemudian ditutup saat api semua sudah mati, nyanyian sakral sudah selesai dilantunkan. Dengan komando. ......Titttt .... cak ...cak....cak ..... akhirnya sekaa kecak kembali menjadi satu dan menutup pementasan dengan om Santhi, santhi, santhi, om. 

Entah kenapa hujan pun turun, sehingga kami harus lari berhamburan untuk mencari tempat berteduh. 

Demikian sekilas cerita dari tempat tertimur Desa Ungasan ini. Begitu kaya Ungasan dengan potensi budaya namun haruskah mereka menghentikan aktivitas kegiatannya hanya karena kekurangan dana?. Apakah tidak ada perhatian bagi mereka, dari mereka yang berkuasa yang hangat duduk dikursi kekuasaan untuk membantu pelestaraian budaya ini?.


Yan Andie
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen