Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , » PSK Online Lebih Cantik, Konsumennya Politisi Juga?

PSK Online Lebih Cantik, Konsumennya Politisi Juga?

Written By Dre@ming Post on Senin, 20 April 2015 | 7:29:00 AM

Yang jelas ia ketahui, dalam menjalankan bisnis esek-eseknya, Mami menggunakan teknologi internet terutama media sosial (medsos) seperti twitter, facebook dan nstagram.
PSK Online Eksklusif, Lebih Cantik, Tapi Tak Lebih Aman

DENPASAR - Staf Humas KPA (Komisi Penanggulan AIDS) Provinsi Bali, Prof Made Mangku Karmaya mengatakan, layanan prostitusi yang ditawarkan secara online memiliki potensi yang lebih besar bagi penularan penyakit menular seksual.

Seperti virus HIV/AIDS dibandingkan dengan prostitusi konvensional di lokalisasi.

Karena prostitusi online lebih sulit dipantau, maka kampanye penyadaran mengenai bahaya penyakit menular seksual terhadap para pelaku dan konsumennya sulit dilakukan secara terorganisasi.

“Sifat prostitusi itu sama saja, baik yang konvensional maupun online. Semua menyediakan seks dengan banyak partner. Perilaku ini berisiko besar menularkan HIV," kata Prof Karmaya saat dihubungi, Sabtu (18/4/2015).

Ia mengatakan, prostitusi online cenderung eksklusif.

Sebab, biasanya konsumennya berasal dari kalangan yang lebih berada secara ekonomi.

Kalangan ini, kata Karmaya, lebih menyukai mencari penyedia layanan seks secara tertutup lewat dunia maya (online) ketimbang secara terbuka mendatangi lokalisasi prostitusi.

Meski terkesan lebih elite dibandingkan prostitusi di lokalisasi, namun dari segi risiko terkena penyakit menular seksual, Prof Karmaya memastikan tak ada jaminan bahwa prostitusi online lebih aman daripada prostitusi yang ditawarkan lokalisasi.

Menurut dia, risiko terhadap penyakit menular seksual tidak tergantung pada cara dalam mendapatkan PSK-nya (pekerja seks komersial) melainkan tergantung pada sikap PSK dan konsumennya sendiri.

“Meskipun cewek-cewek yang ditawarkan mungkin terlihat lebih cantik karena harganya lebih mahal, itu tidak otomatis bahwa perempuan tersebut lebih terjamin keamanannya dari risiko penyakit menular seksual,” jelas Karmaya.

Sementara itu Ketua Yayasan Kerti Pradja (YKP), Prof Dewa Nyoman Wirawan mengatakan, di Bali potensi prostitusi online cukup besar.

Bahkan, ia sempat mendapati sebuah website yang menyediakan pekerja seks di bawah umur di Bali.

Kata dia, pekerja seks tersebut ditawarkan secara terang-terangan untuk melayani konsumen di vila-vila yang tersebar di Bali.

"Kami sudah melacak website-nya dan itu sangat gampang diakses," ungkap Wirawan.

Prof Dewa Nyoman Wirawan membagi prostitusi dunia maya menjadi dua.

Pertama prostitusi itu dijalankan berbasis website, dan kedua melalui SMS (pesan pendek ponsel) serta messenger seperti BlackBerry Messenger (BBM) dan WhatsApps (WA).

“Yang berbasis website lebih terbuka dan bisa dilacak. Sedangkan yang melalui BBM dan SMS lebih sulit. Cara ini saya sebut sebagai prostitusi hantu, karena penawarannya kerap masuk ke ponsel-ponsel pribad tetapi untuk melacak sumbernya tidak mudah. Ini tantangan tersendiri bagi kami,” terang Wirawan.

Wirawan lantas menceritakan pengalamannya terkait tawaran prostitusi yang masuk lewat ponselnya dalam bentuk SMS dan pesan BBM.

“Beberapa kali saya dikirimi tawaran lewat SMS dan BBM. Namun saat saya lacak, sulit sekali memastikan keberadaannya,” kata Wirawan.

Sementara untuk website, pihaknya sudah melakukan pelacakan dan semua data yang berada di website tersebut telah ia cetak (print). "Setelah dilakukan proses identifikasi, kebanyakan pekerja seks yang ditawarkan masih di bawah umur. Kami telah mengirimkan data mengenai beberapa website tersebut ke Komisi Perlindungan Anak," ujarnya.

Ia mengatakan, dampak yang ditimbulkan oleh prostitusi tersembunyi (seperti lewat internet) bisa diminimalkan asalkan ada ketegasan dari pemerintah dan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, dalam menindak praktik tersebut.

“Kami siap bekerjasama, kami ada data-datanya. Pihak kepolisian harus proaktif melakukan penindakan,” kata Wirawan.

PSK Online : Konsumen Saya Mahasiswa dan Pegawai, Juga Politisi

DENPASAR - Penelusuran mendapati bahwa prostitusi online di Bali memang sudah bukan hal asing lagi.

Keberadaannya terutama ditolong oleh kemajuan teknologi informasi (seperti internet) dan piranti-piranti pendukungnya seperti smartphone.

Bahkan, layanan seks yang ditawarkan melalui internet (atau prostitusi online) bahkan mungkin lebih digemari oleh konsumennya pada saat ini.

Menurut seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang beroperasi dengan memakai internet, prostitusi online tak banyak hiruk-pikuk, dan terkesan eksklusif.

Selain itu, tak tanggung-tanggung bahwa penikmatnya pun tergolong eksklusif --mulai dari kalangan mahasiswa hingga politisi.

Demikian disampaikan oleh seorang penjaja seks online berinisial Wd saat ditemui di sebuah kafe di bilangan Renon, Denpasar, pada Sabtu (18/4).

Perempuan berambut ikal dan berperawakan langsing ini sudah terjun ke dunia prostitusi online sejak empat bulan lalu.

Ia terlibat karena ajakan teman sedesanya di Jawa Barat.

Setelah tiba di Bali empat bulan lalu, Wd dikenalkan temannya itu ke seorang wanita yang kemudian dipanggilnya Mami.

“Karena nyari uangnya gampang, duitnya lumayan, jadi dilakoni saja,” jelas Wd.

Diceritakan Wd, urusan booking, transaksi dan tempat bertemu sudah diatur oleh sang Mami.

Yang jelas ia ketahui, dalam menjalankan bisnis esek-eseknya, Mami menggunakan teknologi internet terutama media sosial (medsos) seperti twitter, facebook dan nstagram.

Sebagai penggoda, pada foto profil di akun medsos itu dipajang foto-foto perempuan seksi.

Namun, menurut Wd, untuk akun facebook dibuat grup tertutup sehingga permintaan bisa diseleksi.

Foto-foto yang terpampang di profil itu tidak otomatis foto-foto para cewek yang diageni Mami.

Yang mengelola akun di facebook atau twitter, kata Wd, adalah Mami dan orang-orangnya. Sedangkan Wd dan teman-temannya hanya menjalankan apa yang dimintakan oleh Mami

“Urusan tempat untuk eksekusi juga ditangani Mami.

Kebanyakan kita melakukannya di hotel. Tapi, pada pelanggan tetap yang sudah tahu nomor HP saya, saya biasanya melakukannya di tempat kos.

"Itu di luar pengetahuan Mami,” selorohnya.

Menurut Wd, ia bisa melayani 4-5 konsumen dalam sehari, mulai siang hingga malam hari.

“Konsumen saya ada yang mengaku mahasiswa dan pegawai. Bahkan, saat ada acara besar partai politik di Bali kapan hari, saya dan teman-teman banjir order,” jelas Wd yang mengaku putus kuliah dari sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Wd menyebutkan, tarifnya sekali melayani untuk short time sebesar Rp 500 ribu.

Sedangkan untuk full-day booking atau pelayanan seharian, ia memasang tarif sampai Rp 2 juta. Itu di luar biaya hotel dan transportasi.

“Teman-teman saya rata-rata berusia 20 sampai 25 tahun,” kata Wd.

Daripada berpraktik di lokalisasi prostitusi, Wd mengaku lebih sreg dirinya ditawarkan lewat internet. Ia merasa lebih ada privasi dan eksklusifitas serta aman.

“Rasanya berbeda, karena kita tidak merasa disorot. Kita seperti bekerja secara mandiri,” kata Wd.







sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Fakta Terungkap, Diperkirakan 10 Kg Sabu-sabu Senilai Rp 15 Miliar Lolos di Ngurah Rai

Manjet Singh (23) bersama rekannya Harvinder Singh (26) asal India diamankan polisi. Keduanya diamankan saat tinggal di kamar hotel nomor...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen