Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Ngeri! Upacara Kematian Saat Orang Masih Hidup

Ngeri! Upacara Kematian Saat Orang Masih Hidup

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 26 Desember 2015 | 7:30:00 AM

 Para sisia dihiasi ritual kematian oleh pembantu nabe. Sebelum dibungkus kain kafan, seluruh sisia berjumlah 55 orang dihias pembantu nabe dengan sarana kematian secara Hindu, kedua jempol kaki diikat benang, lalu kedua tangan ditaruh di atas dada sambil pegang bunga teratai warna putih.
SINGARAJA - Ritual unik berbau mistis digelar di Padepokan Kuru Setra Teratai Mas, Desa Kayuputih Melaka, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Para sisia (murid) berjumlah 55 orang yang semuanya laki-laki mengikuti prosesi kematian ‘mati raga’ (Diksa Pati) untuk mendalami ajaran Yama Tatwa alias memasuki dunia kematian pada Anggara Kliwon Kulantir, Selasa (22/12) malam.

Sesuai namanya yakni ‘mati raga’, seluruh sisia Padepokan Kuru Setra Teratai Mas terlihat seperti orang yang telah meninggal saat prosesi ritual Diksa Pati, Selasa malam. Mereka semua dibungkus dengan kain kafan sepanjang 2 meter, setelah terlebih dulu diupacarai layaknya orang meninggal.

Prosesi Diksa Pati diawali Selasa malam pukul 20.30 Wita dengan ritual di mana seluruh 55 sisia serempak menidurkan diri di atas tikar yang sudah disiapkan. Karena arealnya sempit, sebagian ada yang tidur di atas bale (tempat tidur), sebagian lagi di atas tanah. Bahkan, beberapa di atara mereka terpaksa menidrkan diri di atas tempat pengusungan jenazah (page).

Bedanya dengan prosesi upacara untuk orang meninggal sungguhan, para sisia yang mengikuti ritual mati raga ini masih berpakain lengkap, dengan baju seragam perguruan Padepokan Kuru Setra Teratai Mas, dan memakai kamben dengan saput warna poleng corak hitam merah. Setelah seluruh sisia tidur di atas tikar, kemudian datang sejumlah pembantu nabe (guru). Para pembantu nabe ini langsung menghias seluruh 55 sisia tersebut dengan sarana kematian secara Hindu. Wajah para sisia dicuci, kemudian diisi bedak, lanjut diisi kembang rijasa, serta pecahan kaca di kedua bola matanya, dan sarana lainnya.

Di ujung kaki, kedua jempol para sisia kemudian diikat dengan tali benang, layaknya prosesi ritual untuk orang meninggal. Sedangkan kedua tangan para sisia berada di atas dada sambil memegang bunga teratai berwana putih. Terakhir, seluruh tubuh masing-masing sisia dibungkus menggunakan kain kafan.

Setelah prosesi berlangsung sekitar 1,5 jam, tepat malam pukul 22.00 Wita, muncul pria bertubuh tinggi besar dengan pakain khas poleng corak merah putih, mendatangi satu persatu sisia yang bak orang mati. Kemudian, pria berpakaian poleng ini memercikkan tirta pengentas (air suci).

Setelah memercikan tirta pengentas ke seluruh 55 sisia, pria berpakaian poleng yang notabene merupakan nabe (guru) Padepokan Kuru Setra Teratai Mas ini lantas melafalkan mantra-mantra. Sesekali, sang nabeterlihat samar-sama meniup ke arah langit. Ternyata, tiupan itu untuk nerang (menjauhkan awan mendung agar tidak turun hujan). Malam itu, awan mendung cukup tebal menyelimuti wilayah Desa Kayuputih Melaka, Kecamatan Sukasada, dan sekitarnya. Suasana pun menjadi agak gerah malam itu.

Bahkan, suasana jadi semakin mencekam ketika seluruh lampu dipadamkan, karena prosesi puncak sedang berlangsung. Sang nabe mewanti-wanti agar keluarga maupun kerabat dari para sisia yang melakoni ritual mati raga jangan sampai keluar dari areal pekarangan---lokasi prosesi ritual. Jika sampai keluar dari pekarangan, bisa membahayakan nyawa sissia bersangkutan.

“Titiyang nunasang ide dane maka keluarga utawi semeton sareng sami mangde nenten budal riang pekarangan niki, mangde nenten ala ring margi. Usan niki, wawu dados (Saya minta agar semua keluarga maupun kerabat tidak keluar dari pekarangan ini, supaya tidak ada kejadian yang berbahaya. Setelah acara ini, baru bisa keluar, Red),” kata sang nabe dari balik tembok.

Prosesi puncak ritual mati raga pun dimulai di tengah suasana gelap malam itu. Seketika itu pula, seluruh keluarga dan kerabat para sisia tidak banyak yang berbicara. Suasana hening berlangsung hampir 2,5 jam, hingga lewat tengah malam. Dari balik tembok, hanya terdengar suara gelang gongseng dari kaki nabe (pemimpin padepokan).

Entah apa yang dilakukan, tapi suara krincing, krincing yang keluar dari gelang kaki sebagai pertanda sang guru padepokan sedang melangkah. Selama 2,5 jam itu, semua keluarga maupun kerabat hanya duduk diam berkumpul di beberapa sudut bangunan. Tidak banyak pula yang bisa dilihat dari prosesi puncak selama 2,5 jam tersebut.

Kemudian, tiba-tiba ada beberapa orang datang menghampiri satu per satu para sisia yang mati raga tersebut, sambil membuka kain kafan penutup tubuh mereka. Begitu dikain kafan dibuka, seluruh sisia yang menjalani ritual mati raga langsung bangun dan duduk menghadap arah di man sang nabe berada. Setelah seluruh sisia bangun dan duduk, lampu mulai dinyalakan kembali. Suara dan hiruk pikuk pun mulai terasa, karena keluarga maupun kerabat mendatangi para sisia.

Beberapa menit kemudian, seorang yang berpakain serba putih memercikkan seluruh sisia, termasuk keluara maupun kerabat yang datang malam itu. Percikan tirta ini sebagai tanda prosesi sudah selesai. Yang aneh, begitu seluruh prosesi selesai, tiba-tiba hujan dengan lebat mengguyur kawasan Desa Kayuputih Melaka. Saat itu, hampir seluruh sisia bersama keluarga maupun kerabatnya sudah ada yang pulang ke rumah masing-masing.

Informasi yang diperoleh dari ‘orang dalam’ Padepokan Kuru Setra Teratai Mas, ini prosei ritual ‘mati raga’ keempat kalinya dilaksanakan di perguruan tersebut. “Tujuan digelarnya ritual ini agar para sisia mengetahui lorong kematian (dunia akhirat) dan bisa berbuat yang lebih baik di kehidupan sekarang,” katanya malam itu.












sumber : NusaBali
Share this article :
  • Membuat Kartu Nama - Hampir setiap orang baik yang bekerja sebagai karyawan maupun orang yang merintis usaha pribadi berkeiinginan untuk menambah relasi. Salah satu sarana yang...
    2 jam yang lalu

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Lawan Politik PDIP Badung Di Gawangi Giri Prasta Malu, Kenapa?

Bupati Giri Prasta jauh lebih besar ketimbang bansos yang dibawa kader non PDIP untuk masyarakat Badung DENPASAR - Lawan-lawan politik...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen