Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , » Akhirnya, Cangkok Ginjal Pertama di RS Sanglah Dilakukan

Akhirnya, Cangkok Ginjal Pertama di RS Sanglah Dilakukan

Written By Dre@ming Post on Rabu, 20 Januari 2016 | 8:14:00 AM

 Pasien cangkok ginjal pertama, Septian Aribowo, bersama ibunya, Tuti Hamidah. -ISTVersi Kementrian Kesehatan, transplantasi ginjal dapat dicover BPJS dengan total plafon Rp 250 juta
DENPASAR - Peristiwa bersejarah terjadi di RS Sanglah, Denpasar, Senin (18/1). Pasalnya, di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RS Sanglah kemarin dilakukan proses transplantasi ginjal pertama kalinya di Bali. Pasien perdana yang menjalani transplantasi ginjal ‘bersejarah’ di RS Sanglah adalah Septian Aribowo, 29, karyawan sebuah BPR di Bali yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Septian Aribowo, yang menjadi pasien transplantasi ginjal pertama di RS Sanglah, sebelumnya divonis mengalami gagal ginjal sejak September 2015 lalu. Pasien berusia 29 tahun asal kawasan Lasem, Rembang ini pun harus melakukan transplantasi ginjal. Dia menerima ginjal dari ibu kandungnya, Tuti Hamidah, 51.

Proses transplantasi ginjal bersejarah kemarin dilakukan di IBS RS Sanglah sejak pagi pukul 07.00 Wita. Pendonor Tuti Hamidah selesai menjalani operasi siang sekitar pukul 12.00 Wita, sementara Septian Aribowo baru selesai menjalani operasi pukul 13.30 Wita.

Karena ini merupakan transplantasi ginjal untuk pertama kalinya di Bali, maka prosesnya masih diampu Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Tapi, tim dokter yang menangani sepenuhnya dari RS Sanglah.

Direktur Utama RS Sanglah, dr AA Sri Saraswati MKes, mengatakan sebelum merencanakan operasi tranplantasi ginjal perdana tersebut, pihaknya telah membentuk tim yang terdiri dari ahli nefrologi, urologi, psikiatri, patologi klinik, patologi anatomi, radiologi, etik dan hukum. Tim inilah yang melakukan persiapan operasi mulai dari pemilihan donor, pemilihan pasien, sampai dilakukannya transplantasi ginjal.

Setelah operasi transplantasi ginjal bersejarah kemarin berhasil dilakukan RS Sanglah, kata Sri Saraswati, maka akan dilanjutkan dengan operasi kedua. "Setelah itu, barulah RS Sanglah akan melakukan operasi cangkok ginjal secara mandiri, tanpa diampu lagi oleh RSCM Jakarta," papar Sri Saraswati.

Sementara, Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Chairul Radjab Nasution SpPD KGEH FINASIM MKes, secara khusus meninjau pelaksanaan transplantasi ginjal perdana di RS Sanglah, Senin kemarin. Ini lantaran baru kali pertama dilakukan tranplantasi ginjal di RS Sanglah.

Menurut dr Chairul Radjab Nasution, tidak banyak rumah sakit di Indonesia yang mampu melaksanakan operasi transplantasi (cangkok) ginjal. Sejauh ini, baru beberapa rumah sakit di Indonesia yang melakanakan proses tranplantasi ginjal, termasuk RSCM Jakarta, RS Cikini Jakarta, RS dr Sarjito Jogjakarta, RS Jambi, dan RS Padang (Sumatra Barat). "Kalau di Bali, ini (di RS Sanglah) yang pertama kali,” jelas dr Chairul Radjab seusai tinjau proses tranplnatasi ginjal di IBS RS Sanglah, Senin kemarin.

Chairul Radjab menegaskan, Kemenkes telah mencanangkan nantinya ada 10 rumah sakit di Indonesia harus mempunyai layanan tranplantasi ginjal. Selain itu, transplantasi ginjal juga dapat dicover BPJS dengan total plafon Rp 250 juta. Sedangkan untuk biaya operasi cangkok ginjal, akan dihitung nanti dengan beberapa kali tindakan.

"Hal ini karena pilihan untuk gagal ginjal bukanlah cuci darah, melainkan transplantasi ginjal. Kalau kita lihat, (transplantasi) lebih cost effectiveness, quality of live lebih bagus," imbuhnya.

Sementara itu, pasien transplantasi ginjal perdana di RS Sanglah, Septian Ariwibowo, bersama ibundanya, Tuti Hamidah, selaku pendonor ginal, langsung dirawat di ruang Intensif Care Unit (ICU) RS Sanglah seusai operasi, Senin siang. Anak dan ibunya ini ditunggui semumlah keluarganya.

Adik kandung pasien Septian Aribowo yakni Ahmad Zainudin, 25, mengaku lega setelah melihat proses transplantasi kakaknya di RS Sanglah berjalan lancar. Menurut Zainudin, dirinya mengaku baru datang dari Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (16/1) lalu, untuk melihat dan mendampingi kakak serta ibundanya dalam tranplantasi ginjal.

Zainudin menceritakan, Septian Aribowo sebelumnya sempat direncanakan akan menjalani transplantasi ginjal, 28 Desember 2015 lalu. Namun, karena suatu hal, transplantasi ginjal baru dilaksanakan Senin kemarin.

Menurut Zainudin, kakaknya mulai merasakan gejala gagal ginjal, September 2015 silam. Gejalanya, antara lain, cepat mengalami kelelahan dan berat badan yang turun secara drastis. Begitu merasakan gejala-gejala tersebut, Septian Aribowo kemudian mencoba melakukan cek laboratorium. Hasilnya, kadar racun Kreatinin dalam tubuhnya cukup tinggi.

"Ayah kami dulu meninggal dunia sekitar tahun 2006 karena penyakit gagal ginjal. Penyebabnya, karena ayah mengonsumsi obat asam urat setiap hari, jadinya ketergantungan obat. Sekarang, Mas Septian menghadapi penyakit yang sama. Mungkin karena suka konsumsi minuman berasa (minuman yang memiliki rasa), karena memang suka sekali ninum begitu," papar Zainudin.

Menurut Zainudin, kakaknya yang menderita gagal ginjal ini harus terbang ke Jogjakarta hanya untuk berkonsultasi dengan dokter ahli ginjal yang pernah menangani ayahnya dulu. Akhirnya, Septian Aribowo yang bekerja di salah satu BPR di wilayah Bali memutuskan untuk melakukan cuci darah 2 kali seminggu. Selanjutnya, pasien ini memutuskan untuk lakukan trasnplantasi ginjal yang didonor ibundanya, Tutik Hamidah.

"Beruntung sekali ibu mau mendonorkan satu ginjalnya. Kebetulan, ginjal ibu juga sehat. Karena sebenarnya sangat sulit mencari pendonor ginjal, apalagi harus cocok," tutur Zainudin.

Dia menyatakan, ibundanya rela mendonorkan satu ginjalnya lantaran tidak ingin melihat putranya sakit. Awalnya, Septian Aribowo tidak mengakui menderita gagal ginjal kepada ibunya. Hingga suatu ketika, ibunya kaget melihat kondisi putranya yang pucat dan terlihat lebih kurus.

"Setelah mendengar hal itu, ibu langsung lemas dan rela mendonorkan ginjalnya. Ibu tidak mau apa yang menimpa ayah, terjadi juga dengan anggota keluarga yang lain. Selain itu, umur Mas Septian juga masih muda dan baru punya anak perempuan berumur 1 tahun," paparnya.










sumber : NusaBali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Meraih 137 Emas Badung Pertahankan Gelar Juara Umum Porprov 2017

Wagub Ketut Sudikerta menyerahkan piala kepada juara umum saat upacara penutupan, di lapangan Astina Raya, Gianyar Bali ,Sabtu (23/9/2017...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen