Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , , , , , » Derita Warga Bali Di Lampung, Disandera Lalu Dibunuh Preman

Derita Warga Bali Di Lampung, Disandera Lalu Dibunuh Preman

Written By Dre@ming Post on Minggu, 13 Maret 2016 | 3:15:00 PM

Dua warga yang tewas dalam penyanderaan adalah Ketut Sartono alias Anggi (35), warga Lampung Selatan; dan Komang Suparta alias Potek (30), warga Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah.Gbr Ist
Miris, Ini Kronologi Komang Suparta Disandera Lalu Dibunuh Preman di Lampung

BANDAR LAMPUNG – Pasca bentrok yang menewaskan tiga warga, kepolisian memastikan situasi di wilayah Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, sudah kondusif dan terkendali.

Sekitar 500 aparat kepolisian dan TNI terus berjaga di sekitar lokasi di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) itu untuk antisipasi terhadap kemungkinan bentrok susulan.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih mengatakan, Kapolda Lampung Brigjen Polisi Ike Edwin sudah memediasi dua kelompok masyarakat yang terlibat pertikaian.

Ike yang menginap di Tubaba, mengumpulkan tokoh masyarakat dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.

"Kondisi di Tubaba sudah aman dan kondusif. Pak Kapolda sudah pulang dari Tubaba," kata Sulistyaningsih, Sabtu (12/3/2016).

Sementara itu, Kapolres Tulangbawang AKBP Agus Wibowo mengatakan, amuk massa yang pecah di kawasan HTI register 44 Dusun Terang Agung, Kampung Gunung Terang, Kecamatan Gunung Terang, Kabupaten Tubaba, itu bukan dilatari konflik antarsuku.

"Ini bukan konfik antarsuku, tapi murni tindak pidana, kriminal. Karena itu, tidak ada perdamaian untuk para pelakunya," tegas Agus, Sabtu (12/3/2016).

Kapolres juga menegaskan, situasi di wilayah bertikai sejauh ini sudah berangsur kondusif.

"Situasi sudah kita redam. Ada sekitar 500 personel kepolisian dari Polda, Polres Tuba dan Polres Way Kanan yang turun mengamankan situasi. Massa sudah diarahkan pulang ke rumah masing-masing," papar Agus.

Selain aparat kepolisian, 1 peleton pasukan TNI dari Korem 043/Garuda Hitam juga diterjunkan ke lokasi.

Agus mengatakan, sejauh ini aparat kepolisian tengah fokus mengejar Irawan cs yang menjadi pelaku penyanderaan dan pembunuhan terhadap tiga warga.

"Pelaku sejauh ini ada tujuh orang. Masih dalam pengejaran tim Polda dan Polres," terang Agus.

Dijelaskan Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih, bentrok di Tubaba terjadi antara masyarakat Dusun Terang Agung dengan warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo pada Jumat (11/3/2016) siang sekitar pukul 12.30 WIB.

Bentrok dipicu oleh tewasnya dua orang warga yang disandera oleh kelompok preman Irawan cs.

Dalam kejadian tersebut, total tiga orang tewas, dan empat orang mengalami luka berat.

Dua warga yang tewas dalam penyanderaan adalah Ketut Sartono alias Anggi (35), warga Lampung Selatan; dan Komang Suparta alias Potek (30), warga Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah.

Korban tewas lainnya adalah Paidi (40), warga Menggala, akibat kerusuhan yang menyusul kemudian.

Dijelaskan Sulistyaningsih, peristiwa bermula dari penyanderaan warga Dusun

Terang Sakti oleh para preman dari kelompok Irawan cs yang berasal dari Dusun Terang Agung.

Penyanderaan warga dilakukan di posko HTI di Dusun Terang Sakti.

"Motif penyanderaan terkait sengketa tanah dan pemerasan oleh para preman," ucap Sulistyaningsih.

Aksi penyanderaan itu kemudian diketahui oleh warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo.

Tak lama kemudian massa dari kedua dusun yang berjumlah 500 orang, kata Sulistyaningsih, melakukan pencarian ke posko Terang Sakti.

Namun, massa mendapati Ketut Sartono dan Komang Suparta sudah tewas di posko tempat dia disandera.

Di tubuh Ketut ada luka bacokan, sedangkan Komang tewas karena tembakan.

"Korban Komang mengalami luka tembak di kepala," ujar Sulistyaningsih.

Massa pun mengamuk dan mencari para preman yang melakukan penyanderaan.

Namun, Irawan cs tidak berhasil ditemukan di Dusun Terang Agung.

"Massa akhirnya membakar enam unit motor yang ditinggalkan para preman dan membakar tiga unit rumah dan merusak satu unit rumah," kata Sulistyaningsih.

Penyerangan oleh massa itu menelan korban jiwa, yakni Paidi (40), warga Menggala.

Sementara empat orang lainnya mengalami luka berat.

Para korban luka berat adalah Subakir (mengalami luka bacok tangan sebelah kiri); Kadek Parta (luka bacok lengan kanan, luka di kening akibat pukulan gagang senjata api rakitan); Nyoman Eko (luka bacok punggung dan luka tembak di pipi kiri); dan Suripto (luka tembak di leher, luka bacok di punggung dan pinggang sebelah kiri).

Sekitar pukul 13.30 WIB, Kapolsek Gunung Terang, AKP Sobari, bersama para anggotanya mendatangi tempat kejadian di posko HTI Terang Sakti.

Mereka mendapati dua orang tewas di sana, yakni Komang Suparta dan Ketut Sartono.

Sulistyaningsih mengutarakan, polisi langsung menggalang warga dan meredam emosinya.

Pada pukul 16.00 WIB, Kapolres Tulangbawang AKBP Agus Wibowo juga tiba di lokasi.

Ketika itu, tutur Sulistyaningsih, massa masih mencari Irawan dkk ke Dusun Terang Agung.

Kapolres lantas meminta massa membubarkan diri.

Sekitar 45 menit kemudian, warga membubarkan diri dan berkumpul di balai banjar.

Sekitar pukul 21.00 WIB atau empat jam kemudian, Kapolda Brigjen Ike Edwin datang ke lokasi dengan menaiki helikopter.

Setibanya di Tubaba, Kapolda mengumpulkan jajarannya.

Ike juga langsung bertemu dengan para tokoh warga dari kedua pihak yang bentrok, yakni Dusun Terang Agung dengan warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo.

"Kapolda menggelar rembuk antarkedua belah pihak agar bentrok tak meluas," ujarnya.

Kapolda Ike juga sudah menggelar pertemuan di balai banjar Dusun Terang Sakti dengan masyarakat setempat.

Pada pertemuan itu, Kapolda meminta masyarakat jangan terpancing emosinya dan menyerahkan kasus pembunuhan warganya ke polisi.

"Pelaku pembunuhan warga sedang dikejar," kata Sulis.

Transmigran asal Bali Harus Bersatu dan Waspada, Preman Irwan cs dalam Pengejaran Polisi

Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih menjelaskan, bentrok di Tubaba terjadi antara masyarakat Dusun Terang Agung dengan warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo pada Jumat (11/3/2016) siang sekitar pukul 12.30 WIB.

Bentrok dipicu oleh tewasnya dua orang warga yang disandera oleh kelompok preman Irawan cs.

Dalam kejadian tersebut, total tiga orang tewas, dan empat orang mengalami luka berat.

Dua warga yang tewas dalam penyanderaan adalah Ketut Sartono alias Anggi (35), warga Lampung Selatan; dan Komang Suparta alias Potek (30), warga Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah.

Korban tewas lainnya adalah Paidi (40), warga Menggala, akibat kerusuhan yang menyusul kemudian.

Dijelaskan Sulistyaningsih, peristiwa bermula dari penyanderaan warga Dusun

Terang Sakti oleh para preman dari kelompok Irawan cs yang berasal dari Dusun Terang Agung.

Penyanderaan warga dilakukan di posko HTI di Dusun Terang Sakti.

"Motif penyanderaan terkait sengketa tanah dan pemerasan oleh para preman," ucap Sulistyaningsih.

Aksi penyanderaan itu kemudian diketahui oleh warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo.

Tak lama kemudian massa dari kedua dusun yang berjumlah 500 orang, kata Sulistyaningsih, melakukan pencarian ke posko Terang Sakti.

Namun, massa mendapati Ketut Sartono dan Komang Suparta sudah tewas di posko tempat dia disandera.

Di tubuh Ketut ada luka bacokan, sedangkan Komang tewas karena tembakan.

"Korban Komang mengalami luka tembak di kepala," ujar Sulistyaningsih.

Massa pun mengamuk dan mencari para preman yang melakukan penyanderaan.

Namun, Irawan cs tidak berhasil ditemukan di Dusun Terang Agung.

"Massa akhirnya membakar enam unit motor yang ditinggalkan para preman dan membakar tiga unit rumah dan merusak satu unit rumah," kata Sulistyaningsih.

Penyerangan oleh massa itu menelan korban jiwa, yakni Paidi (40), warga Menggala.

Sementara empat orang lainnya mengalami luka berat.

Para korban luka berat adalah Subakir (mengalami luka bacok tangan sebelah kiri); Kadek Parta (luka bacok lengan kanan, luka di kening akibat pukulan gagang senjata api rakitan); Nyoman Eko (luka bacok punggung dan luka tembak di pipi kiri); dan Suripto (luka tembak di leher, luka bacok di punggung dan pinggang sebelah kiri).

Sekitar pukul 13.30 WIB, Kapolsek Gunung Terang, AKP Sobari, bersama para anggotanya mendatangi tempat kejadian di posko HTI Terang Sakti.

Mereka mendapati dua orang tewas di sana, yakni Komang Suparta dan Ketut Sartono.

Sulistyaningsih mengutarakan, polisi langsung menggalang warga dan meredam emosinya.

Pada pukul 16.00 WIB, Kapolres Tulangbawang AKBP Agus Wibowo juga tiba di lokasi.

Ketika itu, tutur Sulistyaningsih, massa masih mencari Irawan dkk ke Dusun Terang Agung.

Kapolres lantas meminta massa membubarkan diri.

Sekitar 45 menit kemudian, warga membubarkan diri dan berkumpul di balai banjar.

Sekitar pukul 21.00 WIB atau empat jam kemudian, Kapolda Brigjen Ike Edwin datang ke lokasi dengan menaiki helikopter.

Setibanya di Tubaba, Kapolda mengumpulkan jajarannya.

Ike juga langsung bertemu dengan para tokoh warga dari kedua pihak yang bentrok, yakni Dusun Terang Agung dengan warga Dusun Terang Sakti dan Dusun Tri Mulyo.

"Kapolda menggelar rembuk antarkedua belah pihak agar bentrok tak meluas," ujarnya.

Kapolda Ike juga sudah menggelar pertemuan di balai banjar Dusun Terang Sakti dengan masyarakat setempat.

Pada pertemuan itu, Kapolda meminta masyarakat jangan terpancing emosinya dan menyerahkan kasus pembunuhan warganya ke polisi.

"Pelaku pembunuhan warga sedang dikejar," kata Sulis. Secara terpisah, anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI asal Bali, Gede Pasek Suardika, juga mengatakan bahwa kasus di Gunung Terang saat ini adalah murni kasus pemerasan dan premanisme yang mengganggu keamanan warga transmigran pendatang.

"Karena itu, bila perlu tembak di tempat saja preman-preman tersebut. Jangan sampai karena berkedok orang asli di sana, lalu para preman itu mendapat perlindungan atau aparat gamang bertindak. Semua sama-sama warga negara dan sudah menjadi warga Lampung. Jadi yang namanya penjahat ya harus ditangkap," tegas Pasek.

"Negara harus hadir melindungi korban dan kalau aparat lambat mengamankan, maka rasa tidak aman akan tetap tumbuh," kata Pasek melalui pesan singkatnya, Sabtu (12/3/2016).

Apalagi, dia menambahkan, para preman yang melakukan pemalakan itu adalah preman bersenjata api (bersenpi).

Demi keamanan warga, kata dia, seharusnya dilakukan operasi preman bersenpi.

Ia berpesan agar para transmigran asal Bali tetap menjaga kekompakan dan kewaspadaan.

Jangan sampai perilaku preman dikembangkan menjadi isu konflik suku, karena sangat rawan.

"Namun kalau warga transmigran asal Bali bersatu, saya yakin para preman itu juga tidak akan mendapatkan dukungan masyarakat," tukasnya.






sumber : tribun
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen