Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Kunjungan Ke Bali Masih Tinggi, 12 Fakta Ini Apa Pertanda?

Kunjungan Ke Bali Masih Tinggi, 12 Fakta Ini Apa Pertanda?

Written By Dre@ming Post on Jumat, 13 Oktober 2017 | 7:36:00 PM

Sejumlah warga melintas di jalan Desa Datah yang berjarak sekitar 10Km dari kawah Gunung Agung, Karangasem, Bali, Minggu (8/10/2017). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat aktivitas Gunung Agung kembali meningkat yang disertai semburan asap putih dengan tinggi hingga 1.000 meter dari kawah sejak Sabtu (7/10/2017) malam. (bawah)
12 Fakta Perkembangan Aktivitas Gunung Agung, Apakah Ini Jadi Pertanda?

AMLAPURA - Aktivitas vulkanik Gunung Agung terus mengalami perkembangan.

Hasil laporan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode Kamis (12/10/2017) pukul 12.00-18.00 Wita, terjadi tiga kali gempa tremor non-harmonik, amplitudo 1.5-4 mm dengan durasi 80-140 detik.

Ini 12 Fakta Perkembangan Aktivitas Gunung Agung:

1. Muncul 4 kali gempa tremor. Gempa tersebut baru pertama kali terjadi sejak Gunung Agung mengalami peningkatan aktivitas hingga saat ini statusnya di Level IV (Awas).

Gempa tremor adalah getaran yang terjadi akibat bergeraknya sebuah patahan secara dikit demi sedikit dan bisa jadi pertanda gunung akan meletus.

2. Tidak semua tremor seperti ini diikuti letusan. Kecuali, kalau terjadi secara terus menerus.

3. Selain terjadinya gempa tremor non-harmonik, PVMBG mencatat aktivitas kegempaan Gunung Agung pada pukul 12.00-18.00 Wita juga relatif meningkat dari periode 6 jam sebelumnya.

4. Pada periode pukul 12.00-18.00 Wita, Gunung Agung mengalami gempa vulkanik dangkal sebanyak 100 kali, sedang pada periode pukul 06.00-12.00 Wita hanya berjumlah 72 kali.

5. Sementara gempa vulkanik dalam sebanyak 150 kali, naik dari sebelumnya sebanyak 99 kali.

6. Tektonik lokal sebanyak 14 kali naik dari sebelumnya 6 kali.

7. PVMBG mencatat, terhitung sejak 14 September 2017 (status Waspada) hingga 10 Oktober 2017 (status Awas), Gunung Agung telah diguncang gempa sebanyak 18.228 kali.

8. Bahkan 43 di antaranya getarannya terasa sampai di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Karangasem, yang letaknya 12 km dari puncak Gunung Agung.

9. Gempa mayoritas terjadi pada kedalaman 5-10 km.

10. Dengan tingginya jumlah kegempaan tersebut menunjukkan aktivitas magmatik yang sangat tinggi di dalam tubuh Gunung Agung.

11. Jika dibandingkan dengan gunungapi lainnya jumlah kegempaan di Gunung Agung terbilang tidak biasa.

12. Di gunung lain, seperti Soputan misalnya kegempaan hanya mencapai ribuan jika dihitung setelah gunung meletus.

Kepala Sub-Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menjelaskan, tremor non-harmonic sering juga disebut spasmodic burst atau spasmodic tremor yang artinya rentetan beberapa gempa vulkanik dimana satu gempa muncul sebelum gempa sebelumnya selesai.

Tremor non-harmonik bisa terjadi jika aliran fluida mengakibatkan bergeraknya conduit dan membuat resonance effect atau efek resonansi.

Secara fisis gempa tremor non-harmonik merefleksikan aliran fluida magmatik (gas, liquid atau solid).

Apakah ini pertanda Gunung Agung akan segera meletus? Menurut Devy, tidak semua tremor seperti ini diikuti letusan.

Kecuali, kalau terjadi secara terus menerus.

"Manifestasi permukaan bisa hanya berupa pelepasan gas atau asap ke permukaan," jelas dia.

"Kita semua berharap manifestasi permukaan hanya berupa gas dan asap saja sehingga tekanan di bawah perut Gunung Agung cepat habis," katanya.

Sampai hari ini (kemarin, red), PVMBG merekam banyak sekali gempa vukanik 12 jam terakhir, sudah merekam 422 gempa vulkanik.

“Sejak awal kami menaikkan status Gunung Agung menjadi Awas, gempa vulkanik rata-rata dalam perharinya tidak kurang dari 600 kali. Meskipun selalu fluktuasi, tapi jumlahnya masih di atas angka itu. Ini indikasi jika gerakan magma ke permukaan masih terus berlangsung,” jelas Devy.

Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan aktivitas tersebut maka peluang terjadinya letusan masih cukup tinggi.

“Peluang untuk Gunung Agung meletus masih lebih tinggi dibandingkan peluang untuk tidak meletus," ujar Devy.

PVMBG masih merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 9 km dari Kawah Puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

Tutup Zona Merah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menutup sejumlah akses menuju daerah yang termasuk zona merah atau kawasan rawan bencana (KRB) dampak erupsi Gunung Agung.

Sebanyak 28 desa dipetakan masuk KRB I, II, dan III.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei, mengatakan upaya itu untuk memberikan keselamatan dan keamanan kepada masyarakat menyikapi peningkatan aktivitas gunung tertinggi di Bali ini.

BNPB bekerja sama dengan relawan dan beberapa orang korban erupsi Gunung Merapi memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bahaya apabila memasuki zona merah mengingat bencana yang tidak bisa diprediksi.

Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, diperkirakan ada sekitar 1.200 orang yang kembali ke daerah merah Gunung Agung.

Selain itu, hingga saat ini masih ada warga yang tetap menjalankan aktivitasnya di desa-desa yang masuk zona rawan.

"Ada masyarakat yang sudah kembali ke daerah zona merah, sekitar 1.200 orang. Ini sangat membahayakan, mengingat situasi saat ini status gunung Agung masih Awas," kata Sutopo, Kamis (12/10/2017).

Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya membentuk tim khusus keselamatan masyarakat yang masing-masing dipimpin Polres Karangasem dan Dinas Informatika dan Komunikasi.

Dia menjelaskan situasi yang tidak pasti tersebut membuat sejumlah warga nekat memasuki zona merah, yang menjadi tantangan tersendiri bagi petugas untuk mencegah mereka masuk ke kawasan rawan bencana itu.

"Hal ini merupakan tantangan kami sekarang ini, dengan situasi ketidakjelasan atau ketidakpastian tentang pemahaman kapan Gunung Agung akan meletus," ujarnya.

Sementara itu Komandan Satgas Penanganan Siaga Darurat Gunung Agung Letnan Kolonel Inf Fierman Syafirial Agustus mengatakan pihaknya akan menutup 21 ruas jalan atau akses masuk ke zona merah.

Penutupan akses itu dilakukan dengan cara menutup jalan dengan potongan bambu dan tong yang dipasang di tengah jalan.

"Ini untuk menyadarkan mereka bahwa tempat tersebut masuk zona bahaya," ucap Dandim 1623 Karangasem itu.

Awas Gunung Agung - Berdasarkan Data Terbaru Ini Yang Terjadi Terhadap Penerbangan Australia ke Bali

JAKARTA - Direktur Marketing dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia, Nina Sulistyowati mengatakan tingkat isian pesawat (seat load factor) dari Australia ke Bali terpantau tinggi tinggi meski Gunung Agung masih berada pada status awas.

Penerbangan Garuda Indonesia juga tetap beroperasi normal.

"Saat ini tingkat kunjungan ke Bali masih tinggi, penerbangan Garuda Indonesia juga tetap beroperasi normal, dengan tingkat isian pesawat tetap tinggi dengan rata-rata isian mencapai 75 hingga 87 persen contohnya penerbangan dari Australia," kata Nina dalam siaran pers yang diterima KompasTravel, Kamis (12/10/2017).

Dengan kondisi tingkat isian pesawat tersebut, Nina menyebut pariwisata di Bali tetap menggeliat dan berjalan normal.

Saat ini Garuda Indonesia telah melayani 34 penerbangan dari Indonesia ke Australia meliputi Jakarta – Melbourne (sebaliknya) empat kali dalam seminggu, Jakarta – Sydney (sebaliknya) lima kali seminggu, Jakarta - Perth empat kali seminggu, Denpasar - Perth tujuh kali seminggu, Denpasar – Sydney tujuh kali seminggu, dan Denpasar – Melbourne (sebaliknya) tujuh kali seminggu.

Seluruh penerbangan tersebut dilayani menggunakan pesawat Airbus 330-200/300 yang berkapasitas sebanyak 287 tempat duduk, kecuali Jakarta – Perth sebaliknya saat ini menggunakan pesawat Boeing 737-800 NG dengan kapasitas 162 tempat duduk.

Sebelumnya, melalui penjelasan resmi Dinas Pariwisata Bali mengatakan bahwa seluruh wisatawan domestik dan asing yang kini berada di Bali tidak perlu khawatir.

Berbagai objek wisata seperti Sanur, Kuta, dan Jimbaran berjarak cukup jauh sekitar 72 km dari Gunung Agung.

Dengan kondisi yang normal tersebut, Dinas Pariwisata Bali juga mengimbau kepada seluruh wisatawan agar tetap berwisata ke Bali.

Imbauan tersebut dilakukan karena ada sembilan bandara alternatif di luar Bali yang telah disiapkan untuk penerbangan jika memang benar-benar abu vulkanik dari Gunung Agung tersebut terdeteksi.









sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Kecuali Jalur Unud, Koster Stop Sarbagita Ganti Kereta Api

“Jalur kereta api yang kita mau bangun tidak seperti di Bandung dan Jakarta. Nanti dirancang dengan interior yang bagus untuk publik dan ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen