Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Ilmu Leak Tingkat Tinggi Dapat Mengubah Diri Menjadi Garuda

Ilmu Leak Tingkat Tinggi Dapat Mengubah Diri Menjadi Garuda

Written By Dre@ming Post on Selasa, 23 Januari 2018 | 6:08:00 PM

Leak tingkat tinggi dapat mengubah diri menjadi garuda atau rangda (Gbr Ist)
Leak dan ilmu pengleakan hingga saat ini masih dipercaya dan ditakuti oleh sebagian besar masyarakat Bali.

Praktik leak sebagai ilmu sekaligus hantu konon hingga kini masih dijumpai di sana-sini di pulau dewata ini.

Barbara Lovric, peneliti Australia yang meneliti leak, mengutarakan ilmu sihir Bali dibedakan tingkatan dan jenisnya menurut kekuatan dan pengetahuan pemilik ilmu tersebut.

Ada dua jalur ilmu di Bali, pengiwa (jalur kiri, black magic) dan penengen (jalur kanan, white magic).

Wayan Karji dalam tulisannya soal konsep kiwatengen dalam budaya Bali menyatakan, pengiwa berasal dari kata kiwa (kiri) yang mengandung arti buruk, kasar.

Sedangkan penengen (tengen = kanan) berarti kebaikan, halus, dan semacamnya.

Konsep ini mengacu pada prinsip bipolar (dua kutub) yang disebut rwa-bhineda: setiap hal memiliki sisi baik-buruk, positif-negatif, laki-perempuan, atas-bawah, dan sebagainya. R

Gambaran visual tentang ajaran ini nampak pada kain poleng yang sering tersampir pada patung-patung di Bali.

Ilmu pangleyakan, menurut Karji, salah satu dari 5 cabang ilmu pengiwa, yakni pangasren, pangeger, pangasih-asih, panangkeb.

Mereka yang menguasai ilmu pangasren, misalnya, akan tampak lebih cantik atau tampan.

Dalam Iontar yang dikutipnya, Wayan Karji bilang ilmu-ilmu pengiwa ini harus selalu dirahasiakan.

Bila mampu merahasiakan, dalam seratus kelahiran (reinkarnasi) yang bersangkutan akan selalu menemui kebebasan tertinggi.

Namun bila dibicarakan ke kanan-kiri, dalam seribu kelahiran akan menemui kehinaan, dan disoroti masyarakat serta terbenam di neraka Tambra Gohmuka.

Barbara Lovric menyebut kehadiran "jalur kiri" atau "jalur nafsu" untuk mencapai kesempurnaan ini adalah bagian dari tradisi Tantrisme yang juga pernah, bahkan mungkin masih, hidup di Jawa.

Kedua jalur kiwa-tengen ini sepertinya tidak berhubungan.

Tetapi sudah menjadi rahasia umum di Bali, banyak dukun yang belajar ilmu pengiwa lebih dulu, sebelum belajar penengen.

Sayangnya, dukun – dukun yang ditemui tidak mengakui hal ini.

Barangkali selain karena "undang-undang" untuk merahasiakan leak tadi, mereka takut bakal "dicoba keampuhannya" oleh para praktisi dunia pangleyakan.

Kalau yang menjajal ilmu mereka lebih lemah, tidak apa-apa, mereka bisa menang. Kalau si pencoba lebih hebat, bisa berabe.

Belajar jalur kiri sebelum mempelajari jalur kanan, bukannya dilakukan tanpa dasar.

Ngurah Harta - satu-satunya orang yang secara terbuka mengaku pernah mempelajari ilmu pangleyakan - mengatakan, "Untuk pengobatan penderita sakit akibat ilmu pengiwa, kadang-kadang diperlukan ilmu pengiwa juga."

Selain itu, menurut Karji, pada tingkat tertentu, pengiwa .ini menjadi bagian dari ilmu penengen juga.

Beberapa tempat di Bali seperti Sanur, Suwung, Sabha (Gianyar), Nusa Penida, atau Bangli, disebut sebagai tempat yang kekuatan leaknya ampuh, tapi sejauh ini tidak didapatkan keterangan tentang komunitas leak.

Menurut hasil penelitian Barbara Lovric, kekuatan leak tidak terletak pada persatuan di antara mereka, melainkan bersifat individual. Kadang-kadang memang ada leak yang berkumpul, tapi itu dilakukan untuk menguji kesaktian masing-masing.

Pertempuran antarleak, bisa jadi juga karena yang satu ingin mencelakakan, dan yang lain bertindak sebagai balian yang membela kliennya.

Tampaknya, ada rasa saling segan di antara para pendukung ilmu ini.

Orang Bali daratan, misalnya, menganggap leak dari Nusa Penida, pulau di selatan Bali, amat ampuh.

Orang Nusa Penida sendiri menganggap orang daratan, terutama yang berasal dari Bangli, ilmu leaknya lebih maut.

Jadi Tontonan Pertempuran

Pertempuran antarleak ternyata juga bisa disaksikan oleh manusia.

Made Artadi (33), misalnya, mengaku pernah melihat dua bola api berwarna merah dan kuning, terbang dan saling berbenturan di udara, di pantai Padang Galak, Sanur, sekitar tahun 1987.

Leak berwujud dua bola api yang berkejaran di atas pepohonan, disaksikan oleh Komang Jepri (29) dan Ketut Prasetya di wilayah Karangasem sekitar tahun 1990.

Salah satu kisah pertempuran yang acap disebut-sebut oleh para penggosip leak di Bali, adalah pertempuran legendaris antara seorang ratu leak dari Sanur dan peleak sakti dari Kramas, Gianyar. Perang leak yang terjadi sekitar 1988 itu dimenangkan leak dari Kramas.

Walaupun - sayangnya - tidak ada yang sempat melihat sendiri, para pencerita mengungkapkan bahwa sejak kekalahan itu, kesaktian leak di Sanur yang pernah disegani melemah.

Luh Ketut Ariani, seorang penjaga sebuah homestay di Ubud, dengan antusias menceritakan sebuah "perang leak" pada 12 Maret 1995 di sore hari.

Gadis ini menyatakan, ada empat leak yang bertarung.
Semuanya berbentuk bola api yang saling berbenturan dan menimbulkan bunyi ledakan, mirip perang antarpiring terbang dalam film.

Hebatnya, perang yang terjadi di Penestanan, di Ubud, 25 km sebelah utara Denpasar, itu berlangsung tiga jam sebelum matahari terbenam, dan beberapa turis sempat menonton!

Sabuk monyet Rp 40.000,-

"Penestanan itu berasal dari Penestyan, salah satu tingkatan atau jenis ilmu pangleyakan," kata Ngurah Harta merujuk nama desa yang diceritakan di atas. Tak ubahnya sekolah formal, leak juga terdiri atas berbagai tingkatan.

Yang dibedakan atas kemampuannya bersalin rupa dan menyebarkan bencana penyakit atau guna-guna.

Pada tingkat rendah, hanya bisa berubah menjadi satwa, dan biasanya berwarna putih. Binatang hasil perubahan ini disebut kadaden (jejadian).

Tingkat itu disebut pamuronan (dari kata buron yang berarti hewan).

Selain mampu mengubah diri menjadi binatang, juga dapat mengirim guna-guna yang mengakibatkan sakit pada orang-orang dekat, seperti keluarga atau tetangganya.

Pada leak tingkat rendah, untuk ngeleyak dibutuhkan sabuk pangleyakan berupa ikat pinggang dari kain putih atau kain poleng hitam-putih, diberi gambar rerajahan dan dimantrai.

Lalu bagian dalam sabuk itu biasanya juga diberi potongan logam tipis, sepanjang satu ruas jari anak-anak.

Biasanya berupa emas, perak, atau tembaga, yang digurati huruf-huruf "sakti".

Ada sejumlah dukun yang menjual sabuk semacam itu.

Untuk bisa jadi monyet, misalnya, harga sabuknya sekitar Rp 40.000,-.

Tingkatan penestyan atau pendestyan lebih sakti lagi, dapat membuat orang sakit atau mati dari jarak jauh.

Caranya, yang disebut ndesti atau nesti, adalah dengan menusuk atau membakar "gambar" calon korban yang dibuat di atas kertas atau kain.

Leak tingkat tinggi dapat mengubah diri menjadi garuda atau rangda.

Namun selain itu konon juga dapat menghilang.

Mereka dapat meninggalkan badannya dan melayang hanya dengan, kepala dan isi perutnya.

Konon, sekitar beberapa tahun yang lalu di Kediri, Tabanan, sepasang suami-istri bercerai gara-gara sang istri dituduh ngeleyak.

Ketika terbangun di malam hari, sang suami melihat badan istrinya ada dalam rumah, tanpa kepala.

Agaknya, malam itu kepala dan "jeroan" sang istri sedang berjalan-jalan menghirup angin malam.

Si suami jelas menjadi ketakutan dan besoknya segera minta cerai.



(Ditulis oleh Benito Lopulalan, tinggal di Bali. Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi April 1996)




sumber : tribun
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen