Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » » Disel Astawa : Flu burung dianggarkan Cuma Rp 300 juta. "Jalur Tikus Penyebabnya"?

Disel Astawa : Flu burung dianggarkan Cuma Rp 300 juta. "Jalur Tikus Penyebabnya"?

Written By Dre@ming Post on Senin, 28 Maret 2011 | 4:26:00 AM

Senin 28 Maret 2011

DENPASAR - DPRD Bali ingatkan pemerintah untuk memberi perhatian serius terhadap wabah flu burung, yang kembali merebak belakangan. Selain menjaga jalur-jalur tikus yang selama ini belum maksimal, pemerintah juga diminta mengalokasikan dana lebih untuk penanganan masalah flu burung.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Bali, Wayan Disel Astawa, menyatakan kasus flu burung menjadi ancaman sama seriusnya dengan wabah rabies yang kini tengah diperangi pemerintah. Sayangnya, anggaran untuk pengananan flu burung sangat minim. Menurut Disel Astawa, anggaran penanganan flu burung digabung dengan penyakit menular lainnya hanya sebesar Rp 300 juta. Padahal, untuk penanganan rabies sendiri dianggarkan Rp 6,3 miliar.

"Kasus flu burung ini jangan disepelekan. Sebaiknya dipersiapkan anggaran yang maksimal. Jangan sampai kasusnya booming lagi gara-gara tidak siap anggaran. Pariwisata Bali bisa kena dampaknya akibat flu burung," ujar Disel Astawa kepada NusaBali, Minggu (27/3).

Disel Astawa pun mengingatkan ancaman flu burung sama bahayanya dengan wabah rabies, sehingga anggarannya juga mesti disetarakan. "Kalau bisa, harusnya anggaran untuk kasus-kasus penyakit menular dimaksimalkan. Jangan sampai seperti kasus rabies, sudah parah baru mengusahakan anggaran miliaran rupiah," tegas politisi PDIP asal Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung ini. Sedangkan Komisi IV DPRD Bali yang membidangi masalah kesehatan masyarakat meminta Dinas Peternakan Provinsi secara intensif mencegah masuknya unggas dari luar di pintu-pintu masuk yang berstatus jalur tikus (pelabuhan tak resmi). Selama ini, Komisi IV melihat pemantauan jalur tikut longgar, sehingga memungkinkan lolosnya unggas bermasalah ke Bali.

"Kalau dari jalur tikus mereka lolos, itu sudah pasti. Faktanya, flu burung mewabah terus karena masuknya unggas dari Jawa ke Bali sulit dipantau. Artinya, selama ini jalur tikus tidak terpantau. Kekhawatiran kita pun terbukti. Begitu Jawa Timur kena flu burung, Bali pasti kena," beber anggota Komisi IV, Ketut Mandia, saat dikonfirmasi terpisah.

Mandia sepakat dengan Disel Astawa bahwa dana penanganan flu burung dimaksimalkan, termasuk untuk pencegahan masuknya unggas bermasalah melalui jalur tikus. Menurut Mandia, Pemprov Bali bisa kerjasama dengan kepolisian dan Satpol PP untuk mencegahnya.

Soal minimnya dana penangnggulangan flu burung ini juga diakui Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, I Putu Sumantra. Kepada NusaBali, Sumantra mengatakan kasus flu burung saat ini memang tidak semarak sebelumnya, sehingga dananya pun hanya untuk pengendalian dan penyemprotan saja. "Untuk daerah-daerah berisiko, kita lakukan penyemprotan dengan tim. Memang anggarannya tidak besar, karena tidak separah dulu," tegas Sumantra.

Trkait tidak terpantaunya jalur-jalur tikus, menurut Sumantra, hal itu tak terlepas lantaran petugas selalu kucing-kucingan dengan penyelundup unggas. Namanya penyelundup, mereka mencari kelengahan petugas untuk memasukkan unggas ke Bali.

"Padahal, kita sanggongi (jalur tikus) malam-malam juga, tapi tetap saja lolos. Kita akui itu, jalur tikus masih jadi jalan efektif memasukkan unggas secara gelap. Faktanya, kasus flu burung terjadi. Padahal, kami sudah koordinasi dengan kepolisian dan petugas lainnya di pintu-pintu masuk," keluh Sumantra. Sementara, Pemkab Jembrana waspadai kemungkinan merebaknya kembali wabah flu burung, yang sebelumnya sempat menewaskan beberapa warga setempat. "Setelah di Badung, Denpasar, dan Tabanan muncul lagi flu burung, Pemkab Jembrana juga mewaspadai kemungkinan merebaknya kembali virus mematikan tersebut," ungkap Kadis Kesehatan dan Kesos Jembrana, dr Putu Suasta MKes, saat dihubungi Antara di Negara, Minggu kemarin.

Dijelaskan Suasta, sejak kasus flu burung melanda Jembrana beberapa tahun lalu, pihaknya selalu waspada. Tim penanggulangan flu burung dari tingkat kabupaten sampai desa pun terus melakukan pantauan. Nah, untuk antisipasi agar wabah serupa tidak terulang, di seluruh desa di Jembrana sudah ada dibentuk relawan flu burung. Hanya saja, kata Suasta, beberapa waktu lalu sempat terjadi kematian unggas akibat flu burung. Dari laporan relawan, disebutkan banyak unggas mati akibat flu burung di sekitar Kuburan China di Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara.

"Begitu mendapatkan laporan, kami langsung melakukan depopulasi unggas di wilayah itu," ujarnya. Selain itu, masyarakat sekitar juga diberikan penyuluhan seputar flu burung. Namun, dengan kewaspadaan yang tinggi itu, Suasta juga tidak berani menjamin Jembrana akan terbebas dari flu burung. "Tidak ada yang berani menjamin flu burung tidak akan muncul lagi di Jembrana, makanya kami minta seluruh masyarakat untuk terus waspada," tandas Suasta.

Ditambahkan Suasta, pihaknya juga mewaspadai penularan virus flu burung ke manusia. Untuk itu, pihaknya bekerjasama dengan Unut guna menguji sampel dari pasien yang diduga terkena flu burung. "Setiap ada pasien yang dari gejalanya seperti kena flu burung, pasti kami kirimkan darahnya untuk diuji di Lab Unud," katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Peternakan, Kehutanan, dan Kelautan Jembrana, Ketut Windra, mengatakan, pihaknya sudah dipanggil pemerintah provinsi untuk diberikan pengarahan. "Kami dipanggil setelah ditemukan flu burung di Denpasar, Badung, dan Tabanan. Kita diminta untuk waspada," tutur Windra. Sedangkan Bupati Jembrana Putu Artha dan Wakil Bupati Made Kembang Hartawan, dalam beberapa kesempatan, juga mengingatkan agar masyarakat Gumi Makepung turut memantau dan mewaspadai kemungkinan merebaknya kembali wabah flu burung.

Sementara, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (PPK) Klungkung juga mewaspadai merebaknya wabah flu burung, setelah mencuatnya kasus ini di Tabanan, Badung, dan Denpasar. Dalam hal ini, Dinas PPK Klungkung mengintensifkan penyemprotan unggas, salah lokasi sasarannya adalah pasar hewan di Pasar Galiran, Semarapura. Lokasi Pasar Galiran dianggap rentan jadi titik merebaknya flu burung, karena merupakan salah satu sentra perdagangan unggas terbesar di kawasan Bali Timur.

Kepala Dinas PPK Klungkung, I Gusti Ngurah Badiwangsa, menyatakan pihaknya melakukan penyemprotan dobel. Artinya, jika sebelumnya penyemprotan dilakukan seminggu sekali, tapi kini frekuensinya digenjot sampai tiga kali dalam seminggu. “Sejauh ini memang masih negatif (bebas flu burung), tapi kita tetap melakukan antisipasi,“ ujar IGN Badiwangsa kepada NusaBali di Semarapura, Minggu kemarin.

Menurut Badiwangsa, unggas-unggas yang dijual di Pasar Galiran sebagian besar datang dari luar Klungkung. Dalam hal ini, Pemkab Klungkung tak punya kewenangan melarang ternak atau satwa dari luar diperpedagangkan di wilayahnya. “Semestinya ‘kan petugas yang berada di pintu-pintu masuk Bali yang tegas melarang unggas dari luar masuk, mengacu pada Pergub No 44/2005 tentang larangan unggas masuk ke ke Bali,” katanya.

Isu flu burung sebelumnya kembali merebak, ditandai dengan dirawatnya seorang pasien suspect di ruang isolasi BRSUD Tabanan. Pasien suspect flu burung itu, Ni Ketut Sumantri, 40, asal Banjar Babahan, Desa/Kecamatan Penebel, masuk ke RSUD Tabanan, Jumat (25/3) sore pukul 15.00 Wita, dengan keluhan sesak napas.

Berdasarkan pemeriksaan di UGD dan riwayat korban yang sering bersentuhan dengan ayam, pihak RSUD Tabanan pun mengambil keputusan untuk merawat Ketut Sumantri di ruang isolasi khusus pasien susfet flu burung. Namun, menurut Sekretaris Penanggulangan Flu Burung RSUD Tabanan, dr Gede Sudiarta, setelah semalaman dirawat, disimpulkan pasien Ketut Sumantri negatif flu burung. “Kami hanya mencurigai saja. Dia terkena penyakit PPOM semacam penyakit paru-paru menahun,” ujar dr Sudiarta, Sabtu (26/3).
Sementara itu, warga Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Tabanan menyatakan tidak takut dengan isu flu burung, walaupun kematian ayam di desa tetangganya, Desa Pitra, dinyatakan positif terjangkit virus H5N1. Masyarakat Babahan berharap, virus flu burung itu tidak mewabah ke kampungnya, yang merupakan sentra peternakan ayam di Tabanan.

Perbekel Desa Babahan, Wayan Suana, menyatakan kondisi ayam di wilayahnya masih aman dari flu burung. Menurut Suana, beberapa kali terdapat ayam warga, termasuk ayam miliknya, mati mendadak, kadang seekor, kaadang sampai tiga ekor. “Ayam mati sebanyak itu masih kategori wajar. Tidak ada apa-apa,” ujar Suana saat dikonfirmasi NusaBali, Minggu kemarin.

Suana meyakinkan, ayam mati seekor hingga tiga ekor dalam kurun seminggu itu lebih banyak dipengaruhi kondisi fisik ayam. Biasanya, ayam itu sakit dan suhu tubuhnya panas. Terlebih ayam dalam satu kandang peternakan itu mencapai ribuan ekor. Dalam jumlah yang banyak, ayam juga bisa stres dan sakit, kemudian mati.

Untuk mengantisipasi wabah flu burung setelah kampung tetangganya, Desa Pitra, dinyatakan ada ayam positif H5N1, pihaknya lebih gencar melaksanakan pembersihan kandang. “Salah satu cara yang ampuh mengalahkan virus flu burung adalah upaya membersihkan kandang dengan teratur. Kami semprot dengan air sabun,” terang Suana.

Desa Babahan sebelumnya pernah diserang wabah flu burung tahun 2007, ketika ribuan ayam dimusnahkan Pemkab Tabanan. Kini warga setempat berharap, virus H5S1 itu tak lagi mengusik bisnis mereka.

sumber : NusaBali
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Lawan Politik PDIP Badung Di Gawangi Giri Prasta Malu, Kenapa?

Bupati Giri Prasta jauh lebih besar ketimbang bansos yang dibawa kader non PDIP untuk masyarakat Badung DENPASAR - Lawan-lawan politik...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen