Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » » Irigasi Hilang, Produksi Beras Bali Terus Turun 2.000 Ton per Tahun

Irigasi Hilang, Produksi Beras Bali Terus Turun 2.000 Ton per Tahun

Written By Dre@ming Post on Minggu, 12 Februari 2012 | 11:13:00 PM

Minggu, 12 Februari 2012 22:49

DENPASAR - Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Nyoman Suparta mengatakan produksi beras Bali saat ini terus menurun. Bahkan, penurunan produksi beras mencapai lebih kurang 2.160 ton per tahun. Penurunan produksi beras tersebut terjadi akibat dari terus menurunnya sistem irigasi di sektor hilir.

"Sistem irigasi tradisional Bali yang dikenal dengan istilah subak terus rusak di sektor hilir sehingga lahan pertanian sawah terus menurun produksinya," ujarnya, saat dikonfirmasi, Minggu (12/2).

Idealnya, setiap KK petani dapat menggarap lahan seluas 2 hektare, tetapi kenyataannya kini hanya 0,35 hektar. Inilah sebuah proses pemiskinan petani.

Karena itu, mereka disebut petani gurem atau petani rakyat. Kondisi itu berdampak kepada ketidakberdayaan dan ketidakseriusan petani dalam menggarap lahan sawahnya.

Alih fungsi lahan pertanian antara 1997-2007 telah terjadi sekitar 661 hektare atau sekitar 0,8% sampai 1%
per tahun. Padaha, idealnya dalam 20 tahun hanya maksimal 10% tingkat alih fungsi tersebut.

Lahan tersebut kebanyakan difungsikan untuk fasilitas pariwisata yakni hotel, restoran, villa, serta pembangunan perumahan, perkantoran, industri, dan sebagainya. Di samping itu, alih fungsi lahan juga telah terjadi pada kawasan perkebunan atau tegalan dan kehutanan.

Banyak lahan kebun atau tegalan yang berubah fungsi menjadi bangunan perumahan, peternakan, villa, atau menjadi tanaman industri yang jangka pendek yang daya resap airnya sangat kurang. Bila kondisi tersebut dibiarkan tanpa kendali, dapat mengakibatkan degradasi sumber daya lahan dan air, semakin melemahnya daya saing petani, rendahnya efisiensi usaha, lemahnya pemasaran hasil, kurangnya keseriusan dan kemandirian petani, dan lemahnya penegakan hukum.

Status kehidupan petani akan semakin terpuruk, dan mereka pasti akan mencari mata pencaharian lainnya. Itulah sebabnya yang tinggal kini hanya petani sambilan yang senantiasa meratapi kemiskinannya.

Dalam 10 tahun terakhir, alih fungsi lahan sawah terjadi hingga 600 hektare per tahun akibat sistem irigasi yang tertutup atau tersumbat oleh berbagai pembangunan sektor lainnya. Bila dikalkulasikan maka alih fungsi tersebut bisa mengurangi produksi gabah kering sebanyak 36 ribu ton per tahun atau dalam jumlah beras sebanyak 2.160 ton per tahun.

"Lahan di Bali adalah lahan yang paling baik dan paling produktif untuk beras. Per hektare bisa mencapai minimal 6 ton per sekali panen," ujarnya.

Dalam sejarah, Bali pernah menjadi lumbung beras nasional. Namun saat ini jangankan lumbung beras nasional, swasembada lokal Bali saja sudah tidak mampu lagi.

sumber : Micom
Share this article :

DKS

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Viral Di Medsos Penculikan Anak, Ternyata Kenakalan Remaja

SINGARAJA - Kabar penculikan di Busungbiu berawal dari tiga remaja perempuan yang ketakutan saat digoda pemuda di jalanan. Ada-ada ...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen