Tajam, Terpercaya dan Apa Adanya
Home » , » Mengapa Tajen Tetap Eksis?, Bertentangan dengan Agama atau Hukumkah?

Mengapa Tajen Tetap Eksis?, Bertentangan dengan Agama atau Hukumkah?

Written By Dre@ming Post on Senin, 27 Februari 2017 | 9:54:00 AM

“Gejala ini bisa kita lihat dari bebotoh yang menyediakan pakan ayam aduan seperti daging sapi maupun sate kambing agar stamina ayamnya bagus, terutama menjelang diadu. Uniknya, kondisi ini tentu bertolak belakang dengan perlakuan anak istrinya yang bisa saja makan daging seadanya,” ungkap Atmadja. Gbr Ist
Tajen (sabungan ayam) merupakan permainan rakyat yang tercakup dalam kebudayaan Bali. Walaupun tajen berumur sangat tua, karena diperkirakan telah ada pada abad X Masehi, namun tajen tetap eksis pada masyarakat Bali. Juru moral acapkali menggolongkan tajen sebagai perilaku menyimpang karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan hukum positif.

Dengan demikian tidaklah mengherankan jika tajen sering dibubarkan paksa oleh pihak kepolisian. Bebotoh (penjudi tajen) pun ditangkap dan ada pula yang dikenakan kurungan. Namun dalam kenyataannya, tajen tetap berlangsung pada masyarakat Bali, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Bahkan gejala ini pun memunculkan pertanyaan, mengapa tajen sulit atau bahkan mustahil dihapuskan dari perbendaharaan kebudayaan Bali?

Uniknya lagi, Pulau Bali yang menyerupai ayam jago sepertinya melegitimasi bahwa tajen terfokus pada kegiatan mengadu ayam jago yang merupakan keniscayaan bagi masyarakat Bali. Walaupun penggambaran ini hanya perumpamaan, namun sepertinya sangat mengena jika dikaitkan bagaimana kecintaa orang Bali, terutama kalangan bebotoh terhadap ayam aduan atau tajen yang menjadi bagian kehidupan dari orang Bali.

Hal itulah yang dijawab dalam penelitiannya Prof. Nengah Bawa Atmadja, seorang Budayawan sekaligus akademisi yang sangat getol meneliti masalah-masalah sosial di Bali. Koran ini berusaha mengorek informasi lebih dalam terkait kiprahnya dalam mencari akar masalah terkait tajen yang sangat fenomenal tersebut.

Menurut Prof Bawa, jika melihat dimensi yang membelit judi tajen sangatlah kompleks, sehingga tidak bisa hanya melihat tajen dari sisi pendekatan agama dan hukum saja. Apalagi menangani secara parsial. Namun harus menyeluruh dari berbagai sisi. Misalnya hakikat manusia sebagai Homo Sapiens (rasional) dan Homo Demens (irasional), Homo Faber (pekerja) dan Homo Ludens (pemain), Homo Empiricus (empiris) dan Homo Imaginarius (imajinatif), Homo Economicus (makhluk ekonomi) dan Homo Consumans (konsumeris), serta Homo Procaicus (prosai) dan Homo Poeticus (puitis).

“Kalau kita bicara soal tajen, pertama kali harus membicarakan tentang hakekat manusia. Jawaban atas pertanyaan tentang hakikat manusia itulah yang bisa dijumpai di tajen. Jadi tajen itu pada dasarnya adalah arena untuk mempermainkan hakekat manusia dari berbagai sudut pandang,” kata Prof Bawa.

Misalnya, menurut filsafat barat manusia adalah homo economicus, yang berarti manusia adalah makhluk ekonomi. Artinya banyak orang yang mencari nafkah di arena tajen seperti menjadi pakembar¸ tukang gisi (tukang pegang ayam), tukang taji, dan penjual makanan. Atau bahkan di luar tajen ada bisnis tertentu yang menunjang tajen tersebut misalnya penjual ayam aduan, menjual guwungan (kurungan ayam), menjual taji (senjata yang dipakaikan ketika ayam diadu).

Manusia juga disebut sebagai makhluk yang selalu berharap atau homo esparans, dan itupun ditemukan di arena tajen. “Orang datang ke arena tajen sebenarnya untuk berharap, pastinya berharap menang atau berharap minimal sapih (seri), tidak mungkin berharap kalah. Kalau mereka kalah, besoknya bermain tajen lagi agar bisa menang. Sedangkan yang menang bukannya berhenti, tentu akan bermain tajen lagi agar semakin besar kemenangannya. Sebenarnya tajen itu ada kecerdikan untuk mempermainkan harapan,” terang dosen di Fakultas Ilmu Sosial Undiksha ini.

Sebagai homo ludens yang berarti manusia adalah makhluk bermain dan tajen dikategorikan sebagai permainan sehingga aspek fun dan lila (senang) ada di sana. Menariknya menurut Prof Bawa ada aspek ke-fun­-an dan ke-lila-an terlihat pada ulah ayam saat berlaga, yang tampak berayun-ayun, bergoyang sehingga memunculkan perasaan gembira. Kejadian itu lebih menyenangkan lagi jika bebotoh menang dan mendapatkan uang tambahan setelah bertaruh. Menang taruhan atau ngukup menjadi puncak kesenangan bebotoh. Sehingga situasi ini justru menguatkan jika tajen semakin sulit untuk ditinggalkan, karena ada nuansa hiburan di arena tajen.

Hakikat manusia sebagai homo sapiens (menggunakan akal, rasional, Red) juga memegang peranan penting dalam hal ber tajen. “Orang bertajen juga memerlukan akal, misalnya ukuran ayam aduan harus sebanding dengan lawan, bebotoh memilih makanan super untuk ayam aduan agar tenaganya besar, dimandikan, dijemur, mandi debu (mekipu) dipijat (megecel) latih tanding (mabombong) dan aneka tindakan ini berdasarkan pada pertimbangan rasional,” terangnya.

Selain itu bebotoh juga menciptakan taji dan memasangnya pada kaki ayam (mabulangan), hingga dikenal berbagai juri atau saye, misalnya saye kemong, saye ngetekin dan saye ngadanin.

“Pendek kata, banyak teknologi yang digunakan dalam dunia pertajenan yang bisa dikembalikan kepada esensi manusia sebagai homo sapiens yang berujung suatu sasaran yakni kemenangan,” imbuhnya.

Walaupun homo sapiens terasa kental dalam dunia pertajenan lanjut Prof Bawa namun hakikat manusia sebagai homo deemens (irasional, di luar nalar, Red) juga tak terabaikan. Itu terbukti dari keyakinan yang bercorak religius magis pada dunia pertajenan. Misalnya bebotoh mengenal ramalan ayam yang berpeluang menang dalam tajen mendasari diri pada lontar pengayam-ayam semacam “kitab suci” bagi para bebotoh. Bahkan lontar ini mengatur pula pakaian yang digunakan waktu tajen pada arah mana bebotoh harus berada agar bisa menang.

Tidak hanya itu. Tindakan para bebotoh juga semakin menarik untuk dilihat, jika berpedoman pada lontar pengayam-ayam bahwa ayam akan berjaya jika bebotoh mengadu ayam berpatokan pada saptawara yang dipadukan dengan pancawara. Misalnya Soma (Senin) Kliwon ayam yang berjaya adalah klawu ijo dan brumbun. Ayam yang kalah adalah serawah polos, sekuning mata putih, buik, wangkas, biying kuping putih.

“Jadi kemampuan tajen menggabungkan dua teknologi pertajenan yaitu teknologi non magis dan teknologi magis secara esensial menyentuh hakikat manusia sebagai homo sapiens dan homo demens, dan ini pun akan diwariskan secara turun temurun dari lintas generasi,” ungkapnya.

Tajen juga berkaitan dengan hakikat manusia sebagai homo religius, bahkan di Bali ada Pelinggih Ratu Bebotoh, yang ada di Kabupaten Karangasem yang sering dipuja oleh para bebotoh sebelum pergi ke arena tajen. Menurut Prof Bawa, jika para bebotoh sebelum mengadu ayamnya juga melakukan beberapa ritual kecil agar ayam aduannya tersebut bisa menang ketika duel dengan lawan tandingya.

Di satu sisi, banyak pula tindakan bebotoh yang bisa dimaknai sebagai representasi dari homo prosaicus dan homo poeticus, yakni bebotoh bertindak secara istimewa terhadap ayam aduan, bahkan lebih istimewa daripada perlakuannya terhadap anak istrinya

“Gejala ini bisa kita lihat dari bebotoh yang menyediakan pakan ayam aduan seperti daging sapi maupun sate kambing agar stamina ayamnya bagus, terutama menjelang diadu. Uniknya, kondisi ini tentu bertolak belakang dengan perlakuan anak istrinya yang bisa saja makan daging seadanya,” ungkap Atmadja.

Namun yang tidak kalah penting menurut Prof Bawa ialah hakikat manusia sebagai homo conflictus yang berarti jika manusia adalah makhluk konflik. Bahkan dalam perjalanannya manusia selalu terlibat dalam perbedaan dan pertentangan baik secara sukarela maupun terpaksa.

“Nah, dalam konteks inilah tajen bisa diposisikan sebagai arena untuk menyalurkan hasrat konflik, sebab ayam aduan adalah simbol yang merepresentasikan bebotoh guna menyalurkan hasrat konfliknya. Hanya kelihatannya saja ayam jago yang bertarung, padahal manusia-manusianya lah yang sedang bertarung,” paparnya.

Kondisi inilah yang membuat mengapa tajen di Bali semakin sulit dihapuskan dari perbendaharaan kebudayaan Bali, bisa dijawab yakni karena tajen bisa menampung secara utuh esensi manusia sebagai homo complexus. Situasi inilah sebut Prof Bawa mengakibatkan bebotoh merasa wajib ke tajen guna menyalurkan esensinya sebagai homo complexus.

Bahkan menariknya, bisa jadi bebotoh merasa bersalah dan berdosa jika tidak me-tajen apalagi jika tajen ada di areal rumahnya. Mengingat tajen yang semula hanya permainan rakyat, namun karena tajen mampu menyalurkan homo complexus secara totalitas, maka tajen pun berubah menjadi bagian integral dari kehidupan bebotoh.

Di sisi lain peran keluarga sebagai agen sosialisasi secara tidak langsung ikut melestarikan tajen yang sering diwariskan oleh sang ayah. Bahkan dalam perjalanannya, istri ataupun anaknya pun ikut memelihara ayam aduan yang dipelihara sang ayah. Tidak hanya itu, desa pakraman juga dianggap punya andil dalam berperan melestarikan tajen, misalnya jika ada piodalan di suatu pura maka sebagai penutup selalu disertai dengan tajen atau tabuh rah.

Oleh karena itu, lanjut Prof Bawa, berdasarkan gejala sosial ini dirinya menghimbau agar pihak terkait dalam menangani tajen setidaknya tetap mengacu terhadap persoalan yang begitu kompleks tersebut, tidak hanya melalui satu atau dua pendekatan secara parsial, namun dari berbagai sudut dan sisi yang tidak boleh diabaikan dan harus dipertimbangkan.

“Orang sering melihat hanya dari satu sisi secara parsial contoh seperti sisi agama maupun hukum, tapi melupakan sisi lainnya. Sehingga ada kecendrungan seseorang mengadili hitam maupun putih. Jadi disini saya ingin mengajak agar ada sisi lain yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Bukan berarti saya setuju maupun tidak setuju terhadap tajen. Namun justru peran kami sebagai akademikus adalah harus mampu menunjukkan kompleksitas suatu masalah, sehingga pemilik budaya maupun pelaku budaya dalam hal ini tajen masyarakat bisa lebih cerdas dalam menyikapinya,” pungkasnya.











sumber : baliexpres
Share this article :

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Post!!

Melerai Keributan Pemuda Asal NTT, Dua Buruh Ditusuk di Nusa Dua

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istira...

The Other News

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ungasan - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen